Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

The Fed Resmi Naikkan Suku Bunga Akibat Efek Perang Iran, Cicilan Kredit dan KPR Siap-Siap Meroket!

Angga Yudha Pratama - Kamis, 17 September 2026

Merahputih.com - Keputusan mengejutkan baru saja diambil saat The Fed naikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 poin persentase menjadi 3,75 hingga 4 persen pada Rabu (16/9), sebagai langkah darurat meredam inflasi Amerika Serikat.

Kebijakan agresif kenaikan suku bunga The Fed ini terpaksa dilakukan gara-gara lonjakan harga energi yang tak terkendali akibat dampak perang Iran.

Keputusan ini menjadi sinyal bahaya bagi konsumen karena otomatis membuat biaya pinjaman antarbank naik, yang ujungnya bikin cicilan KPR, kredit kendaraan, hingga bunga kartu kredit jadi jauh lebih mahal.

Baca juga:

Analisis Pergerakan IHSG Hari Ini: The Fed Naikkan Suku Bunga, Pasar Modal Justru Menghijau

Kalau kamu ngikutin pergerakan ekonomi global, momen The Fed naikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023 ini jelas mematahkan ekspektasi pasar yang sebelumnya berharap ada tren pemangkasan.

Menariknya, kebijakan ekonomi Donald Trump yang terus mendesak penurunan suku bunga untuk merangsang belanja, justru dilawan balik oleh Ketua The Fed Kevin Warsh.

Keputusan bulat dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) ini mengisyaratkan bahwa membasmi inflasi Amerika Serikat yang salah satunya dipicu oleh dampak perang Iran, jauh lebih krusial ketimbang sekadar menuruti tekanan politik jelang akhir tahun.

Mengapa The Fed Tiba-tiba Putar Haluan?

Ilustrasi

Awalnya, banyak yang mengira bank sentral AS ini bakal lanjut memotong suku bunga. Sejak Desember tahun lalu, mereka masih anteng menahan suku bunga di angka 3,50 hingga 3,75 persen.

Tapi, meletusnya konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu bikin harga komoditas global, terutama energi, terbang bebas.

Merespons situasi ini, 12 dari 18 pejabat FOMC bahkan sudah memberi sinyal bakal ada satu kali lagi kenaikan seperempat poin di tahun ini. Sementara empat orang lainnya malah bertaruh bakal ada dua kali kenaikan lagi.

Dalam pernyataan resminya, komite FOMC membeberkan alasan kuat di balik manuver tajam ini:

Aktivitas ekonomi tumbuh dengan kecepatan solid. Meskipun ketidakpastian masih tinggi, yang sebagian disebabkan oleh perkembangan geopolitik, pengeluaran domestik tetap tangguh. Inflasi masih tinggi. Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi secara lebih tepat waktu menuju target 2 persen,

Drama Politik Kevin Warsh vs Donald Trump

Keputusan menaikkan suku bunga ini bukan cuma soal hitung-hitungan ekonomi, tapi juga sarat nuansa politik. Langkah ini secara terang-terangan menempatkan Kevin Warsh berseberangan dengan bos di Gedung Putih, Presiden Donald Trump.

Padahal, Warsh baru saja menggantikan Jerome Powell pada bulan Mei lalu, posisi yang sebelumnya juga sering jadi bulan-bulanan kritik Trump gara-gara menolak memangkas suku bunga.

Namun, Warsh tampaknya ogah ambil pusing dengan desakan politik. Dalam konferensi pers pasca-pengumuman, ia menegaskan bahwa prioritas bank sentral saat ini murni untuk menstabilkan harga, bukan sekadar memompa lapangan kerja atau pertumbuhan semu.

Warsh bicara blak-blakan soal betapa mendesaknya situasi saat ini.

Fakta sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama. Data inflasi musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara signifikan. Stabilitas harga merupakan fondasi pertumbuhan ekonomi dan saya pikir kami mengambil langkah penting hari ini untuk mewujudkannya,

ucap Warsh.

Apa Dampak Nyatanya Buat Kita?

Buat kamu yang masih bingung kenapa kenaikan suku bunga bank sentral AS ini penting banget buat dibahas, efek dominonya bakal langsung terasa ke kantong masyarakat.

Baca juga:

Harga Emas Antam Hari Ini Meroket Lagi, Cek Rincian Harga Terbarunya

Berikut adalah tiga dampak langsung dari kebijakan pengetatan moneter The Fed:

  • Bunga KPR Meroket: Biaya kepemilikan rumah baru bakal makin mencekik karena bank komersial pasti menyesuaikan suku bunga pinjaman mereka.

  • Cicilan Kendaraan Makin Mahal: Sama halnya dengan rumah, kredit mobil atau motor juga bakal dikenakan bunga yang lebih tinggi.

  • Tagihan Kartu Kredit Bengkak: Suku bunga mengambang pada kartu kredit akan langsung terkerek naik, bikin biaya bayar cicilan bulanan jadi makin berat.

Mengingat inflasi AS sudah bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun, FOMC masih punya dua jadwal pertemuan krusial di bulan Oktober dan Desember untuk memutuskan apakah rem darurat ekonomi ini bakal terus ditarik atau mulai dilonggarkan.

Baca Artikel Asli