Merahputih.com - Pergerakan IHSG hari ini terpaksa harus rela melemah ke level 6.670,80 akibat derasnya tekanan sentimen negatif dari bursa kawasan Asia maupun global.
Kondisi pasar saham yang lesu ini utamanya dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan harga minyak dunia buntut memanasnya ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sempat mengawali perdagangan dengan sedikit harapan, prediksi IHSG nyatanya harus berbalik arah menjadi merah dan turun tipis 0,11 persen pada pembukaan perdagangan Kamis (10/9) pagi.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Menghijau, Rupiah Bergerak Lesu di Tengah Euforia Bursa
Tak hanya indeks utama yang loyo, kelompok saham kasta tertinggi alias Indeks LQ45 juga ikut terseret arus dengan penyusutan 0,08 persen ke posisi 663,73.
Para investor yang sedang fokus pada investasi saham tampaknya memilih bersikap hati-hati sambil terus mencerna sentimen pasar saham terkini, terutama badai dari luar negeri yang sedang tak menentu.
Prediksi IHSG & Analisis Teknikal Terkini
Di tengah kondisi pasar yang sedang kebingungan mencari arah, pergerakan indeks kemungkinan besar tidak akan melaju terlalu jauh. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memetakan proyeksi arah pergerakan pasar untuk memandu para trader.
Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 6.600-6.700 pada perdagangan Kamis,
ujar Ratna Lim.
Drama Global: Tensi AS vs Iran Bikin Harga Minyak Mendidih

Sorotan utama yang bikin bursa global ketar-ketir adalah memburuknya hubungan AS dan Iran. Ketegangan militer ini bikin pasar panik soal nasib kelancaran pasokan minyak di Selat Hormuz.
Beredar kabar bahwa AS baru saja menghancurkan lima kapal pengangkut minyak Iran, yang langsung dibalas Iran dengan serangan ke fasilitas militer AS.
Efek dominonya sangat terasa ke pasar keuangan:
-
Harga Minyak Meroket: Minyak mentah jenis Brent melesat lebih dari 3 persen, menembus angka psikologis 101 dolar AS per barel pada penutupan Rabu (9/9/2026).
-
Yield Obligasi AS Terbang: Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun naik 4 bps ke level 4,845 persen, rekor tertinggi sejak November 2023. Kenaikan ini makin kencang karena rencana Departemen Keuangan AS mau melakukan buyback obligasi hingga 6 miliar dolar AS.
-
Kecemasan Bunga Eropa: Bank Sentral Eropa (ECB) juga santer diprediksi bakal mengerek suku bunga 25 bps akibat ketakutan soal rantai pasok energi dan inflasi global.
Kabar dari Dalam Negeri: Konsumen Pede, Tapi Ritel Lesu
Beralih ke sentimen domestik, sebenarnya ada kabar baik dari masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kita di bulan Agustus 2026 naik lumayan apik ke level 118,5 dari bulan sebelumnya di 116,8. Artinya, masyarakat makin pede sama kondisi ekonomi sekarang dan ekspektasi ke depannya.
Tapi sayangnya, rasa pede ini belum sejalan dengan realita belanja. Data penjualan ritel Indonesia justru diperkirakan turun 3,3 persen secara tahunan (yoy) di bulan Juli, melanjutkan tren negatif bulan Juni yang juga minus 3 persen.
Baca juga:
AS Ancam Sanksi Negara yang Tetap Berdagang dengan Iran, Akses Dolar Bisa Diputus
Rapor Merah Bursa Saham Global & Regional
Sentimen negatif di atas sukses bikin bursa saham sedunia serempak kebakaran. Buat gambaran, berikut adalah ringkasan performa bursa utama dunia yang ikut membebani psikologis pasar domestik kita hari ini:
-
Bursa Asia Tertekan: Nikkei Jepang turun 0,82%, Hang Seng Hong Kong rontok paling dalam hingga 1,39%, disusul Kospi Korea Selatan (-1,01%), Straits Times Singapura (-0,47%), dan Shanghai China (-0,12%).
-
Wall Street Kompak Merah: Indeks Dow Jones memimpin pelemahan sebesar 0,77%, sementara Nasdaq turun 0,64%, dan S&P 500 terkoreksi 0,48%.
-
Bursa Eropa Runtuh: Indeks CAC 40 Prancis anjlok parah 1,94%, diikuti DAX Jerman (-1,66%), Euro Stoxx 50 (-1,58%), dan FTSE 100 Inggris (-1,31%).