Merahputih.com - Pergerakan IHSG hari ini menunjukkan tren positif dengan dibuka menguat ke level 6.632,83, membuktikan ketahanan pasar modal domestik di tengah gempuran sentimen negatif global.
Walaupun ketegangan geopolitik kembali memanas dan kebijakan suku bunga acuan Amerika Serikat masih membayangi, prediksi IHSG ke depan tetap memancarkan optimisme bagi para investor.
Baca juga:
Rupiah Tahan Napas di Rp17.748 per Dolar AS, IHSG Malah Asyik Unjuk Gigi Pagi Ini
Penguatan pergerakan IHSG hari ini sebesar 0,56 persen tentu saja tidak lepas dari pantauan ketat pelaku pasar terhadap kombinasi sentimen pasar modal dari dalam maupun luar negeri.
Tak cuma bursa utama yang pamer otot, kelompok 45 saham jagoan alias Indeks LQ45 juga ikutan merangkak naik 3,30 poin ke posisi 655,17.
Bagi kamu yang lagi rajin melakukan investasi saham, pergerakan hijau ini jelas jadi angin segar buat portofolio, apalagi kalau kamu sudah berani pasang posisi beli sejak pasar mengalami koreksi beberapa hari lalu.
Analisis Teknikal: Mengintip Peluang Cuan dan Titik Kritis IHSG
Meski pasar dibuka ceria, kita tetap harus waspada dengan level psikologis indeks. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, memetakan titik-titik krusial yang wajib diperhatikan oleh para trader dan investor.
Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.510, peluang penguatan masih terbuka untuk kembali menguji resistance 6.635 dan peluang tutup area gap di level 6.733, next area gap di level 6.858. Sebaliknya, apabila terjadi aksi profit taking, IHSG bisa kembali koreksi ke support 6,551 dan 6.510 dan 6.454,
papar Liza.
Drama Global: Tensi Timur Tengah & Kebijakan The Fed Bikin Deg-degan

Di luar negeri, sentimen pasar modal lagi lumayan panas. Aksi saling serang rudal antara Amerika Serikat dan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bikin kekhawatiran soal keamanan rute minyak di Selat Hormuz kembali mencuat. Imbasnya, harga energi bisa meroket dan memicu inflasi lanjutan.
Belum lagi urusan ekonomi Paman Sam yang bikin maju-mundur. Data tenaga kerja sektor swasta AS (ADP) bulan Agustus 2026 jeblok, cuma nambah 38.000 pekerjaan paling lambat sejak awal 2026.
Tapi anehnya, pesanan barang manufaktur justru naik 0,9 persen di bulan Juli. Data yang campur aduk ini bikin investor galau menebak arah suku bunga The Fed.
Kondisi tersebut membuat pasar semakin bergantung pada perkembangan data ekonomi. Investor kini akan memusatkan perhatian pada data Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk Agustus yang akan dirilis Jumat (04/09), sebagai petunjuk penting terhadap kondisi pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter The Fed,
tambah Liza.
Sentimen Domestik: Target Ambisius RAPBN 2027
Bergeser ke dalam negeri, pemerintah dan DPR baru saja meracik angka untuk RAPBN 2027. Berikut adalah rangkuman asumsi makro ekonomi yang dipatok:
-
Pertumbuhan Ekonomi: 6,0 persen
-
Inflasi: 2,5 persen
-
Nilai Tukar Rupiah: Rp17.500 per dolar AS
-
Tingkat Pengangguran: 4,30 - 4,87 persen
-
Target Lapangan Kerja Baru: 2,57 – 3,49 juta
Angka pertumbuhan 6 persen ini jelas super ambisius, mengingat di kuartal II 2026 kemarin ekonomi kita cuma tumbuh di angka 5,29 persen.
Akselerasi pertumbuhan membutuhkan peningkatan investasi produktif, kapasitas produksi, produktivitas, serta peran sektor swasta agar target tersebut dapat tercapai secara berkelanjutan,
analisis Liza.
Rapor Bursa Saham Global & Regional
Sebagai perbandingan, berikut adalah ringkasan pergerakan bursa saham dunia yang turut mewarnai psikologis pasar hari ini:
-
Bursa Asia: Kompak pesta hijau! Nikkei naik tipis 0,08%, Shanghai menguat 0,43%, Kospi melesat 0,92%, disusul Hang Seng (0,56%) dan Straits Times (0,47%).
-
Bursa Wall Street: Didominasi zona hijau. Nasdaq melaju 0,45% dan Dow Jones naik 0,56%, meski S&P 500 harus rela terkoreksi tipis 0,46%.
-
Bursa Eropa: Terkena flu massal. Euro Stoxx 50, FTSE 100 Inggris, DAX Jerman, dan CAC 40 Prancis semuanya ditutup melemah di kisaran 0,10 hingga 0,50 persen.
Dengan perpaduan data di atas, strategi berinvestasi yang cermat dan adaptif sangat dibutuhkan untuk mengarungi pasar pekan ini.