Merahputih.com - Laju pergerakan IHSG hari ini di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka agak loyo karena mayoritas investor lebih memilih mode wait and see untuk menebak arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pelemahan indeks saham ini sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak analis, mengingat pelaku pasar sedang menahan napas jelang pertemuan krusial bank sentral Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini.
Baca juga:
Cek Kurs Rupiah Terhadap Dolar dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Loyo di Awal Pekan
Mengawali perdagangan awal pekan, pergerakan saham BEI memang terpantau kurang bertenaga dengan IHSG hari ini melorot 7,51 poin (0,11 persen) ke level 6.533,87, disusul indeks unggulan LQ45 yang ikut merosot ke posisi 648,98.
Kondisi sentimen pasar modal yang serba tak pasti ini membuat proyeksi IHSG rawan terkoreksi lebih dalam jika titik tumpunya jebol.
Jadi, buat kamu yang mau trading atau investasi dalam jangka pendek, wajib banget meracik ulang strategi dan lebih peka membaca arah angin bursa.
Skenario Pergerakan IHSG: Bisa Bangkit atau Makin Longsor?

Buat kamu yang butuh panduan level teknikal, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, membagikan skenario pergerakan indeks yang patut diwaspadai hari ini.
Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, apabila mampu rebound dan kembali menembus level 6.592, IHSG berpeluang menguji 6.723, sebelum menuju 6.859 sebagai resistance berikutnya,
jelas Liza.
Mengapa Pasar Begitu Khawatir? Ini Tiga Faktor Utamanya
Kelesuan bursa saham domestik tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa sentimen besar dari dalam maupun luar negeri yang bikin investor lebih memilih pegang uang tunai (cash is king) untuk sementara waktu.
1. Bayang-Bayang FOMC dan Inflasi Amerika
Fokus utama trader global saat ini tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15-16 September 2026. Data terbaru menunjukkan inflasi headline AS masih lumayan bandel di angka 3,4 persen pada Agustus 2026 lalu.
Selain itu, Consumer Sentiment Index (Indeks Sentimen Konsumen) dari University of Michigan anjlok ke level 47,8 di bulan September—jauh di bawah ekspektasi pasar.
Penurunan utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup,
ungkap Liza.
Kondisi inilah yang bikin ekspektasi inflasi konsumen AS kembali naik, dan memaksa investor bersikap defensif. "Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini,” tambahnya.
2. Tensi Geopolitik Timur Tengah
Konflik antara AS dan Iran sempat bikin pasar was-was karena mengancam jalur logistik energi di kawasan Teluk Persia.
Untungnya, sentimen ini sedikit mereda usai muncul kabar bahwa Teheran berencana duduk bareng dengan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas keamanan Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut membantu meredakan tekanan pada harga minyak setelah reli tajam sepanjang pekan,
catat Liza.
3. Kabar Muram dari Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, napas ekonomi juga terasa agak berat. Penerimaan pajak hingga Agustus 2026 baru menyentuh Rp1.409,1 triliun (59,8 persen dari target APBN). Pengamat menilai target pemerintah terlalu tinggi dan ada risiko shortfall pajak hingga Rp140 triliun.
Kondisi ini berpotensi menekan arus kas dunia usaha dan menghambat aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja,
papar Liza.
Optimisme dunia usaha untuk kuartal III-2026 juga terjun ke zona pesimistis (Indeks Ekspektasi Makroekonomi turun ke angka 28).
Menurut Liza, pelaku usaha sadar betul bahwa pertumbuhan ekonomi bakal melambat setelah momen musiman seperti Lebaran dan libur sekolah usai. Belum lagi tekanan dari depresiasi Rupiah, risiko El Nino yang mengerek harga pangan, dan terkontraksinya indeks manufaktur (PMI) Indonesia ke level 49.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi kenaikan BI-Rate secara pre-emptive untuk menjaga stabilitas Rupiah dan ekspektasi inflasi,
tegas Liza.
Baca juga:
Rapor Bursa Global dan Regional: Kompak Menghijau Kecuali Asia
Menariknya, pelemahan IHSG ini terjadi di saat bursa negara barat justru sedang berpesta. Berikut rangkuman pergerakan bursa global dan regional sebagai referensimu:
-
Wall Street Berpesta: Pada penutupan Jumat (11/9), S&P 500 naik 0,86% (7.656,98), Nasdaq melompat 0,96% (26.333,04), dan Dow Jones terapresiasi 0,98% (52.573,29).
-
Eropa Ikut Ceria: Indeks DAX Jerman naik 0,80%, CAC 40 Prancis plus 0,78%, dan FTSE 100 Inggris menguat 0,39%.
-
Bursa Asia Campur Aduk: Pagi ini, Nikkei melemah 0,85%, Kospi anjlok 2,21%, dan Hang Seng turun 0,35%. Sebaliknya, Shanghai dan Straits Times masih mampu bertahan di zona hijau tipis.