Merahputih.com - Pergerakan IHSG hari ini diprediksi bakal jalan di tempat alias sideways karena pelaku pasar masih mencerna arah kebijakan Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang baru saja dilantik.
Selain faktor domestik, prediksi IHSG Selasa ini juga sangat dipengaruhi oleh sikap kehati-hatian investor dalam menyikapi potensi kenaikan suku bunga The Fed minggu ini.
Pada sesi pembukaan perdagangan, pergerakan saham BEI sejatinya sempat bernapas lega dengan laju IHSG yang menguat tipis 10,08 poin atau 0,15 persen ke level 6.544,77.
Baca juga:
Begitu juga dengan pergerakan indeks andalan LQ45 yang merangkak naik 0,18 persen menuju posisi 660,23. Meski diawali dengan zona hijau, bayang-bayang konsolidasi tetap kuat menyelimuti bursa saham domestik sepanjang transaksi hari ini.
Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 6.400-6.600 pada perdagangan Selasa,
ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim.
Harapan Baru di Pundak Menkeu Suahasil Nazara
Dari dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Suahasil Nazara sebagai komandan baru di Kementerian Keuangan, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Mengingat rekam jejak Suahasil yang lama menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan di era Presiden Joko Widodo, transisi ini dinilai krusial untuk memastikan disiplin fiskal tetap terjaga dan defisit APBN terkunci aman di bawah angka 3 persen.
"Selain karena sudah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dalam waktu yang relatif lama, diharapkan Suahasil dapat memahami secara rinci mengenai postur anggaran sehingga transisi pelaksanaan kebijakan fiskal berjalan dengan lancar," ungkap Ratna Lim.
Analis berharap, sosok Suahasil mampu memulihkan kredibilitas fiskal Indonesia di mata dunia. Kalau kepercayaan ini kembali kuat, aliran modal asing (capital inflow) bakal mengalir deras, yang ujung-ujungnya bisa membuat nilai tukar Rupiah makin berotot, yield SBN merosot, dan IHSG jauh lebih stabil.
Terkait respons pasar, Ratna menambahkan, "Bagi bursa saham, dampak jangka pendek diperkirakan akan cenderung fluktuatif. Sedangkan dampak jangka panjang, investor akan menantikan realisasi kebijakan yang diterapkan."
Tekanan Eksternal: Ancaman The Fed dan Panasnya Minyak Dunia
Beralih ke kacamata global, bursa saham dunia sedang lumayan tegang. Fokus utama investor saat ini tertuju pada hajatan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 15-16 September 2026.
Merujuk pada data probabilitas CME FedWatch yang menyentuh angka 73 persen, bank sentral AS tersebut digadang-gadang bakal kembali mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps).
Situasi makin tricky karena harga minyak mentah dunia masih betah nongkrong di atas level USD 100 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh manuver Arab Saudi yang menutup jalur pipa di luar area Selat Hormuz.
Di sisi lain, sedikit angin segar datang dari Presiden AS Donald Trump dan pemberitaan di Iran yang mengisyaratkan kemungkinan adanya kesepakatan damai. Sinyal positif ini lumayan ampuh meredam aksi jual masif di sektor saham teknologi.
Rapor Merah Bursa Global
Suasana hati investor yang sedang campur aduk ini tercermin jelas dari rontoknya bursa Eropa dan Wall Street. Pada penutupan Senin (14/09), hampir semua indeks utama Eropa kompak memerah, seperti Euro Stoxx 50 (turun 0,79 persen) dan CAC 40 Prancis (turun 0,76 persen).
Baca juga:
Rupiah Melemah ke Rp17.670, Pergerakan IHSG Hari Ini Sukses Beri Kejutan Positif
Di bursa Wall Street, indeks S&P 500 harus rela melemah 0,48 persen ke level 7.619,98, diikuti Nasdaq yang merosot 0,56 persen, dan Dow Jones turun 0,29 persen.
Sementara itu, bursa regional Asia pagi ini bergerak bervariasi. Indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan berhasil mencuri poin dengan penguatan tipis, sementara Shanghai, Hang Seng, dan Straits Times masih terjebak di zona negatif.