Merahputih.com - Laju IHSG hari ini sukses mencatatkan tren positif karena sentimen negatif dari dampak suku bunga The Fed ternyata sudah diantisipasi atau priced in oleh para investor di pasar modal.
Pergerakan IHSG yang menguat ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar yang sempat khawatir, sekaligus membuktikan bahwa bursa saham domestik kita masih punya daya tahan yang cukup tangguh di tengah gempuran isu global.
Baca juga:
Pergerakan IHSG Hari Ini Bikin Kejutan, Menguat di Tengah Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed
Pada sesi pembukaan perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung ngegas dengan penguatan 0,28 persen (naik 18,18 poin) ke level 6.455,03. Kekompakan ini juga menular ke kelompok saham blue chip; Indeks LQ45 ikut naik 0,46 persen ke posisi 649,93.
Kondisi pasar modal Indonesia yang menghijau ini tentu membuka peluang menarik buat kamu yang sedang meracik ulang portofolio investasi atau mencari celah cuan di emiten potensial.
Analisis Teknikal Pergerakan IHSG
Bagi kamu yang lebih suka mengandalkan teknikal, ada catatan penting dari Liza Camelia Suryanata selaku Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia. Ia memetakan beberapa level krusial yang harus dipantau ketat oleh trader maupun investor minggu ini.
Apabila IHSG gagal bertahan di atas 6.430-6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.290. Sebaliknya, apabila terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus 6.451–6.516, dilanjutkan 6.537–6.552 sebagai resistance terdekat sebelum menguji area 6.723,
papar Liza.
Sentimen The Fed dan Kebijakan Moneter AS
Sesuai dengan ekspektasi banyak analis global, bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akhirnya resmi mengerek suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis points (bps) menjadi 3,75 - 4,00 persen. Proyeksi terbaru bahkan menyebutkan suku bunga bisa nangkring di kisaran 4,1 persen pada akhir 2026.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, dengan tegas menyatakan kalau urusan inflasi masih jadi PR besar mereka. Kebijakan ke depan bakal lebih data-dependent alias bergantung penuh pada data rilis ekonomi, bukan sekadar forward guidance. Makanya, Liza mengingatkan pasar untuk tidak kelewat santai.
Sentimen pasar cenderung negatif karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan berlanjutnya pengetatan moneter AS,
tambah Liza.
Tensi Timur Tengah Mereda, Harga Minyak Terkoreksi
Beralih ke isu geopolitik, ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sempat bikin deg-degan perlahan mulai mendingin. Sebelumnya, pasar sempat panik gara-gara ada serangan drone ke jalur pipa minyak Arab Saudi (East-West Pipeline) dan konflik di area Bab el-Mandeb.
Namun, kekhawatiran pasokan mulai mereda setelah Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan volume minyak kepada kilang Asia dan berupaya memulihkan kapasitas pipelinenya secara bertahap,
ungkap Liza.
Kabar baik ini langsung bikin harga komoditas energi "tiarap". Harga minyak mentah dunia berjenis Brent merosot 3,02 persen ke kisaran USD 105,46 per barel, sementara WTI juga ikut turun 3,71 persen ke level USD 102 per barel.
Kabar Positif Domestik: Rating INA & Dana Segar dari China
Dari dalam negeri, iklim investasi kita dapet suntikan moral yang bagus. Lembaga pemeringkat dunia, Fitch, baru saja mempertahankan rating Indonesia Investment Authority (INA) di level BBB (sejalan dengan rating kedaulatan negara) dan level AAA buat skala nasional dengan outlook stabil. Fitch menilai dukungan pemerintah terhadap lembaga ini sangat solid.
Selain itu, kerja sama ekonomi Indonesia dan China makin lengket lewat proyek Two Countries Twin Parks (TCTP). Ada kucuran komitmen investasi baru senilai Rp51 triliun (19,4 miliar RMB) yang bikin total komitmen proyek ini tembus Rp88,1 triliun. Fokusnya? Mulai dari pengembangan kawasan industri sampai transfer teknologi super canggih!
Baca juga:
Update Bursa Global dan Regional
Gimana respons bursa luar negeri? Pada penutupan Rabu (16/09), bursa Eropa tampil ceria. Indeks Euro Stoxx 50, FTSE 100 Inggris, sampai DAX Jerman kompak ditutup di zona hijau. Sayangnya, nasib berbeda dialami Wall Street AS; indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones semuanya keok dan ditutup melemah.
Sementara itu, untuk bursa regional Asia pagi ini, pergerakannya terbilang campur aduk. Indeks Nikkei dan Kospi berhasil naik tipis-tipis, sedangkan Shanghai dan Hang Seng justru harus pasrah tergelincir ke zona merah.