MERAHPUTIH.COM – BAGI Roemah Koffie, kopi bukan hanya soal biji, aroma, dan rasa. Di balik setiap cangkir, ada daerah asal, kisah petani, serta perjalanan panjang yang ikut membentuk karakter kopi tersebut. Semangat itulah yang dibawa Roemah Koffie ketika memperkenalkan Cing Cingcangkeling, kopi single origin dari Mandalagiri, Garut, Jawa Barat.
Berbeda dari sekadar menghadirkan varian kopi baru, Roemah Koffie membawa cerita sebuah kebun keluarga yang dirawat dan dikembangkan petani kopi asal Garut, Roby Siswanda. Dari kebun tersebut, Roemah Koffie melihat potensi kopi yang kemudian dikembangkan untuk diperkenalkan kepada penikmat kopi secara lebih luas.
Roby sendiri tidak hanya mengandalkan proses budi daya. Ia mempelajari coffee processing secara mandiri dan melakukan eksplorasi terhadap berbagai metode pengolahan, termasuk red anaerob dan classic natural.
Perjalanan tersebut kemudian menjadi bagian dari kolaborasi antara Roby dan Roemah Koffie.
“Bagi kami, setiap kopi memiliki cerita. Melalui Cing Cangkeling, kami ingin membawa cerita dari Mandalagiri ke dalam setiap cangkir sehingga konsumen tidak hanya menikmati rasanya, tetapi juga mengenal daerah asal, karakter kopi, dan manusia yang telah merawat serta mengembangkannya,” ujar CEO of Roemah Koffie Felix TJ di Roemah Koffie Gunawarman, Jakarta Selatan, Jumat (18/9).
Baca juga:
Bagi Roemah Koffie, hubungan dengan kopi tidak berhenti ketika biji kopi meninggalkan kebun. Cing Cangkeling menjadi bagian dari upaya mereka mempertemukan potensi kopi dari daerah asal dengan konsumen. Cerita mengenai kebun keluarga Roby ikut dibawa bersama produk tersebut.
“Bagi keluarga kami, kebun ini telah menjadi bagian dari perjalanan yang panjang. Senang rasanya bisa bertemu dengan Roemah Koffie karena perjalanan panjang kopi ini sekarang dapat dikenal lebih luas bukan hanya dari rasanya, melainkan juga dari cerita di baliknya, bahkan tempat asalnya,” kata Roby.
Kolaborasi tersebut sejalan dengan filosofi 'Bean to Heart' yang diusung Roemah Koffie. Melalui filosofi itu, kopi dipandang bukan sekadar komoditas, melainkan memiliki hubungan dengan daerah asal, proses produksi, hingga orang-orang yang berada di baliknya.
Cing Cangkeling sekaligus melanjutkan eksplorasi Roemah Koffie terhadap kopi Indonesia dengan karakter dan cerita daerah yang berbeda. Sebelumnya, Roemah Koffie telah menghadirkan varian seperti Rambadia, Anak Daro, dan Cublak Suweng. Kini, melalui Cing Cangkeling, cerita dari Mandalagiri mendapat tempat baru.
Bukan hanya dalam bentuk biji kopi yang dipanggang dan diseduh, melainkan juga melalui cerita keluarga yang selama ini merawat kebun tersebut.
Cing Cangkeling tersedia dalam kemasan 200 gram dan menjadi Beans of the Month Roemah Koffie mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026.
Dengan karakter sebagai seasonal coffee dalam jumlah terbatas, Roemah Koffie kembali mencoba membawa satu bagian dari kekayaan kopi Indonesia ke meja penikmat kopi kali dari kebun keluarga di dataran tinggi Mandalagiri.(knu)
Baca juga:
Dari Tanah hingga Cangkir, Roemah Koffie Merayakan Karakter Kopi Indonesia