MERAHPUTIH.COM — “KOPI merupakan hal besar di negaraku,” kata Alex Vergara setelah menyesap seduhan Bacha Coffee selepas menikmati hidangan penutup makan malam di Pixar Market Restaurant, Disney Adventure Cruise, pada medio Maret lalu. Jurnalis lifestyle asal Filipina itu telah menjadi kawan makan malam Merahputih.com selama tiga hari dalam perjalanan mengarungi Laut China Selatan tersebut. Nyaris saban hari ia menikmati seduhan kopi selepas makan malam. Di hari ketiga itulah, didorong rasa penasaran saya, barulah kami sedikit berbincang mengenai kebiasaan minum kopinya itu.
Rupanya, di negaranya menikmati kopi merupakan salah satu hal menyenangkan dalam keseharian mereka. Kopi dinikmati di pagi hari, setelah sajian makan, atau di kala bersantai sambil bercerita bersama kawan. Saya pun tak mau kalah. “Ya, di Indonesia, kopi kalah tak besar, Alex. Kami menikmatinya bahkan dalam bentuk permen yang amat terkenal di drakor-drakor,” kata saya.
Tanpa banyak menyanggah, Alex menyetujui hal itu. Mengakui bahwa kopi Indonesia menjadi salah satu bucket list yang ingin ia kenal lebih jauh.
Tanah Subur Penghasil Kopi Dunia
Indonesia tak dimungkiri merupakan nama besar dalam peta perkopian dunia. Seturut data USDA Foreign Agricultural Service, Indonesia menempati peringkat keempat produksi kopi global pada periode 2025/2026, dengan perkiraan produksi sebesar 12.5 juta kantong 60 kg. Dalam hal pangsa pasar, Indonesia menguasai sekitar 7 persen pasar global , menempatkannya di belakang Brasil (37 persen), Vietnam (17 persen), dan Kolombia (8 persen). Meski terhitung masih kecil, angka tersebut tetap menempatkan Indonesia di depan semua produsen lainnya di
dunia.
Produksi kopi Indonesia didukung adanya perkebunan kopi di sejumlah pulau Nusantara. Seperti dilansir Indonesia Specialty Coffee, perkebunan kopi di Indonesia telah dikenal sebagai pusat produksi kopi dunia. Hal itu salah satunya ditunjang bentang alamnya yang beragam dan tanahnya yang kaya akan vulkanis. Perkebunan kopi di Indonesia berkembang di berbagai wilayah dengan karakteristik beraneka rupa. Daerah seperti Pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Toraja dikenal sebagai lokasi perkebunan kopi yang menghasilkan biji nan tersohor hingga mancanegara.
Baca juga:
Warkop Toleransi Jinghai di Kampung Karangturi
Sebagai negara produsen kopi, Indonesia juga menjadi penikmatnya. Tanaman yang awalnya dikenalkan lewat praktik tanam paksa ini justru berkembang menjadi bagian integral dari budaya Indonesia. Sejak kopi bisa dinikmati rakyat secara umum, tradisi ngopi berkembang dari warung kopi sederhana di desa hingga kedai modern kekinian di kota besar.
Salah satu warung kopi dengan kisah menarik sebagai simbol toleransi yakni kedai kopi Jing Hai di Lasem. Kedai kopi yang terletak di salah satu sudut pecinan Desa Karangturi, Lasem, ini menjadi oase bagi orang Tionghoa dan para santri. Sejak azan subuh berkumandang, kedai yang telah dikelola dua generasi ini telah ramai pengunjung. Para santri datang untuk menikmati kopi hangat dan sajian ketan kukus serta nasi kucing segera setelah mereka menunaikan ibadah subuh.
Saat matahari mulai tinggi, warga Tionghoa serta para pekerja datang untuk menikmati sarapan ditemani secangkir kopi khas Lasem. Di balik jendela warung, tak ada mesin kopi canggih. Hanya beberapa termos serta panci besar berisi air panas. Pemilik kedai, Karjin, yang kini mengelola kedai peninggalan ayahnya ini meracik bubuk kopi Lasem, menyeduhnya dengan air mendidih dari panci.
Bangku-bangku kayu panjang lengkap dengan meja sederhana di depannya tak pernah sepi. Santri yang datang sedari subuh berganti para pekerja hingga salesman yang duduk berjam-jam untuk menikmati kopi, menyesapnya sambil berbagi cerita seputar pekerjaan hingga kabar terbaru di kampung mereka. Beberapa dari mereka bahkan menikmati kopi hingga ke ampas dengan cara melelet (menempelkan) ke rokok yang akan diisap. Inilah tradisi kopi lelet yang tersohor itu.
Ketika surya makin tinggi, warkop Jing Hai tak kunjung sepi. Para karyawan datang untuk menikmati makan siang mereka di sana yang kemudian ditutup dengan segelas kopi.
“Orang datang ke sini berbagai macam, ya Tionghoa, Jawa, dan para santri juga banyak. Semua membaur jadi satu, sampai-sampai warung ini dapat julukan warung toleransi, ” kata Karjin mengenai warung kopi yang ia kelola tersebut.
Nama Jing Hai rupanya diambil dari nama kecil Karjin yang diberikan sang ayah. “Kalau nama warung ini saya ambil dari nama Tionghoa saya aja Jinghai. Biar gampang dikenal , orang mencari tidak terlalu sulit, ” ungkapnya. Warkop Jing Hai ini mulai membuka pintunya pukul 04.00 sampai 17.00 WIB. Namun, khusus Kamis dan Minggu, Jing Hai hanya buka setengah hari.
Menurut Karjin, di Jing Hai, pelanggan datang dari beragam etnis dan agama, tapi semuanya membaur. Mereka yang datang duduk bersama, menikmati bermacam minuman sederhana seperti kopi, susu, jahe, teh, dan nasi serta ketan.
“Kalau di sini sudah sama semua. Mau santri, Jawa , Tionghoa, enggak ada bedanya. Ngopi dan ngobrol bersama aja,” kata Haris, seorang warga Desa Karangturi yang merupakan pelanggan tetap warkop ini.
Baca juga:
Roemah Koffie di Pusat Lifestyle
Sejalan dengan warkop yang masih dicintai para pelanggannya, di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar, kafe dan kedai kopi modern menjelma menjadi ruang sosial tempat jaringan sosial dibangun dan kisah-kisah mengalir.
Tidak mengherankan jika kemudian, ada coffee house yang membuka gerainya di pusat-pusat lifestyle seperti mal atau pusat hiburan lainnya.
“Roemah Koffie memang sengaja memilih lokasi gerai kami di pusat lifestyle yang permium. Hal itu dilakukan untuk mendukung visi kami sebagai brand kopi premium Indonesia,” kata Commercial Director of Roemah Coffe Ryo Saputra Limijaya saat berbincang dengan Merahputih.com, Rabu (26/8).
Sejak hadir di kancah perkopian Indonesia pada 2023, Roemah Koffie telah hadir di berbagai lokasi premium seperti Carstensz Mall, Mall Alam Sutera, PIK 2, BAIC Tower, Puri Indah Mall 2, Gunawarman, hingga yang terbaru Agora Lifestyle Mall. “Kami juga hadir di The Dome, tempat padel paling premium se-Jakarta. Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan cermat untuk mendukung konsep premium yang menjadi identitas Roemah Koffie,” ujarnya.
Tanpa kompromi, Roemah Koffie menghadirkan konsep kopi premium secara keseluruhan, mulai dari kopi single origin Indonesia yang diolah roaster sendiri, cara menyajikan kopi dengan unik lewat lagu daerah, hingga pengaturan tempat ngopi yang nyaman. CEO of Roemah Koffie Felix TJ, saat pembukaan gerai Roemah Koffie Agora Mall pada awal Agustus lalu, mengatakan Roemah Koffie ingin menghadirkan ruang yang nyaman dan inklusif untuk berkumpul, berjejaring, dan membangun hubungan. Konsep tersebut tecermin dari interior bernuansa cokelat, pencahayaan kuning temaram, serta penggunaan furnitur kayu dan rotan yang menciptakan suasana hangat.
“Tempat ini kami buat tak sekadar kursi kayu, tapi benar-benar kami pikirkan agar konsumen datang dan duduk dengan nyaman dan betah,” imbuh Ryo.
Roemah Koffie sebagai Tempat Berkegiatan
Sesuai dengan namanya, Roemah Koffie menjelma menjadi rumah dengan berbagai aktivitas di dalamnya, mulai dari tempat minum kopi, berbincang, belajar mengenai kopi, bahkan hingga membangun jejaring komunitas. “Sesuai namanya, Roemah Koffie ialah rumah, tempat melakukan berbagai aktivitas seperti networking, belajar kopi, meeting, hingga menikmati kopi dan makanan enak,” jelasnya.
Secara berkala, Roemah Koffie mengadakan kelas untuk umum yang ingin belajar mengenai kopi. Ryo menyebut, untuk memberikan kesempatan publik belajar kopi, di Roemah Coffee membentuk Roemah Coffee Academy. “Akademi ini selalu hadir untuk memberikan edukasi kopi bagi masyarakat luas, tak terbatas pada komunitas pencinta kopi. Peminat yang datang beragam ada mahasiswa, pelajar, hingga orang yang ingin belajar untuk membuka coffee shop,” jelasnya.
Menurut Ryo, Roemah Coffe memang membuka pintu bagi siapa pun untuk belajar mengenai kopi dan bisnisnya di gerai yang terletak di BAIC Tower. Secara rutin, Roemah Coffee Academy hadir dengan kelas-kelas menarik semisal basic espresso, introduction, manual brew, latte art, hingga roasting class. “Bagi kami, ini bisa jadi bentuk dukungan kami bagi perkembangan industri kopi di Indonesia,” imbuhnya.
Menghadirkan Kisah dalam Rasa
Dalam lanskap industri kopi Indonesia, menurut Ryo, Roemah Koffie hadir membawa kampanye besar ‘Rasa dan Kisah’. Kampanye ini berakar pada budaya dari daerah-daerah penghasil biji kopi yang disajikan di Roemah Koffie.
Bentuk kisah ini hadir dalam nama kopi yang diambil dari lagu daerah asal biji kopi tersebut. Hal itu, menurut Ryo, sebagai upaya mengenalkan kembali lagu-lagu daerah agar tetap dikenal lintas generasi. Konsumen diajak kembali mengenal lagu-lagu daerah yang sudah jarang terdengar, menyelami kisah lagu tersebut sembari menyesap kenikmatan kopi.
“Enggak cuma menyajikan kopi enak, tapi kami juga mau kembali menyanyikan lagu-lagu daerah ini. Hal lainnya, yakni supaya orang-orang tahu bahwa ternyata kopi ini juga punya banyak cerita di baliknya,” jelasnya.
Ryo memberi contoh kopi yang dipanen dari wilayah Kerinci yang kemudian dinamai Anak Daro atau Rambadia serta kopi dari Jawa Tengah dilabeli Cublak Suweng. Ada pula kopi yang diberi nama Bubui Bulan, Kambanglah Bungo, dan Tondiku. Menggunakan pendekatan nama lagu untuk menyebut varian kopi, menurut Ryo, merupakan hal yang belum pernah dilakukan dalam industri kopi Indonesia. “Ini memang terdengar agak tak masuk akal ya. Lagu-lagu ini ialah nyanyian yang indah dan ternyata kisahnya bisa dikemas ke dalam produk kopi kami. Biasanya kan saat berbicara kopi orang kan tahunya daerah tertentu sebagai penghasilnya. Nah, kami ingin menyoroti budaya yang hidup di daerah penghasil kopi tersebut lewat lagu-lagu ini,” ujarnya.
Kampanye ini mengajak siapa pun yang menyesap kopi di Roemah Koffie untuk enggak sekadar menikmati minuman, tapi juga menilik kisah di balik rasa kopi yang dinikmati. “Kalau hanya ngomongin kopinya, patokannya sebatas enak atau enggak. Namun, kalau menengok lebih dalam lagi ke budayanya, sejarahnya, dan lainnya, itu membuat kami lebih bisa melihat industri kopi secara menyeluruh,” jelasnya.
Lebih jauh, pemilihan judul lagu ini sejalan dengan semangat Roemah Koffie untuk membawa kisah kearifan budaya lokal. “Seperti lagu daerah dan cerita rakyat ini kan warisan yang mungkin hanya ada di Indonesia nan kaya dengan 17 ribu pulaunya. Lewat langkah ini, Roemah Koffie ingin ambil bagian dalam usaha untuk menjaga kearifan budaya lokal seperti ini,” katanya.
Gayung bersambut, penamaan dengan lagu daerah ini langsung mengena di konsumen. Ryo bercerita bahwa dengan adanya identitas lagu daerah ini, konsumen dengan mudah mengingat jenis kopi yang disuka. Tak jarang bahkan ada yang datang secara teratur dan langsung meminta kopi yang disuka hanya dari nama lagu itu.
Dalam perjalanan kampanye ini, Roemah Koffie mencoba untuk mengaplikasikannya secara total, seperti menghadirkan tampilan baju daerah dalam setiap peluncuran varian kopi atau gerai terbaru. Menurut Ryo hal ini menjadi upaya untuk mengintegrasikan budaya lokal ke dalam ranah lifestyle modern. Salah satu diwujudkan dalam inisiatif menghadirkan cerita rakyat lewat kemasan Cublak Suweng. Kemasan tersebut menampilkan ilustrasi cerita rakyat kancil dan kura-kura. Dalam kisah itu ditanamkan nilai bahwa berkat ketekunan dan kesabarannya, kura-kura dapat mengalahkan kancil yang cerdik dalam perlombaan lari. Kisah itu sesuai dengan falsafah Jawa kuno ‘alon-alon asal kelakon’.
“Kreativitas itu ada di mana saja dan bisa menjadi cara kita bercerita, termasuk melalui kopi. Dalam setiap biji kopi, kami percaya bahwa kekuatan ada pada storytelling dan identitas budaya yang harus dijaga. Bersama Roemah Koffie, Kementerian Ekraf meyakini seperti apa kopi lebih daripada sekadar rasa, tetapi tentang keunikan narasi yang dibawa atas semangat membawa kopi Indonesia ke tingkat global,” ungkap Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar kala berkunjung ke gerai Roemah Koffie di Agora Mall, pada awal Agustus lalu.
Tak berhenti di sana, kampanye besar ini bahkan menyentuh hingga kisah para petani di balik kopi. “Dalam waktu dekat, kami akan angkat kisah petani kopi daerah Indonesia. Ini hidden gem yang akan kami kasi panggung di Roemah Koffie,” kata Ryo membagikan teaser bagi produk mendatang.
Baca juga:
Optimisme Kopi Indonesia, Kenikmatannya akan Selalu Dicari
Kisah yang dibangun Roemah Koffie nyatanya tak berhenti hanya pada nama dan sang petani. Dalam jangka panjang, Roemah Koffie berencana membangun program peningkatan kualitas biji kopi lewat kerja sama dengan perkebunan kopi di Indonesia. Hal itu dilakukan sejalan dengan optimisme bahwa industri kopi Indonesia pasti akan tetap bertumbuh.
Oleh karena itu, ia menyoroti keberlanjutan dalam industri kopi Indonesia harus juga menyentuh hingga ke hulunya, yakni perkebunan kopi. “Industri kopi tak semata bermula dari proses roasting. Lebih jauh daripada itu, kita harus peduli juga dengan perkebunannya. Di sana ada perbaikan tanahnya, kualitas kopinya, hingga yield-nya. Roemah Koffie juga akan ambil bagian di lini ini,” imbuhnya.
Ryo menyebut industri kopi di Indonesia punya masa depan cerah dengan konsumsi yang terus meningkat 4-7 persen. Angka itu bahkan jauh di atas angka inflasi Indonesia. “Ini membuktikan semakin banyak orang yang ngopi. Jika dulu kopi hanya dinikmati mereka yang sudah mature, kini anak muda juga sudah mulai doyan nih ngopi. Mereka inilah pasar potensial di industri kopi Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, dengan menyasar pasar penikmat kopi premium, Roemah Koffie juga yakin tetap bisa bertahan karena menghadirkan rasa khas Indonesia dengan kisah yang melokal di baliknya.
“Kami yakin kopi Indonesia tetap menjadi pilihan karena rasa, kisahnya, dan kenyamanan yang kami tawarkan,” tutupnya.(dwi)
Baca juga: