MerahPutih.com - Roemah Koffie, Member of RAI (Royal Agro Industri), meluncurkan produk premium roastery beans terbaru, Cublak Suweng. Produk memadukan biji kopi dari Gayo, Aceh dan Temanggung, Jawa Tengah.
Peluncuran Cublak Suweng menjadi bagian dari komitmen Roemah Koffie melestarikan warisan budaya nusantara. Sekaligus memperkenalkannya kepada dunia.
Cublak Suweng merupakan lagu sekaligus permainan tradisional yang dimainkan anak-anak dalam budaya Jawa. Permainan dengan berkumpul membentuk lingkaran sambil bernyanyi, kemudian memindahkan sebuah kerikil dari tangan ke tangan.
Permainan ini menjadi sebuah memori kebersamaan yang manis, sekaligus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ada di sekitar kita.

Dalam kopi Cublak Suweng, filosofi tersebut diresapi menjadi tiga lingkaran yang saling bertautan. Pertama, Inner Circle yaitu relasi personal kita sebagai individu dengan diri sendiri, kedua, Shared Circle yaitu relasi kita dengan sesama, dan terakhir, Eternal Circle yaitu relasi kita dengan alam,
kata CEO Roemah Koffie Felix TJ.
Baca juga:
Meracik Kopi, Melawan Stigma, Kisah Kartini di Roemah Koffie
“Karakteristik biji kopi Gayo yang khas bertemu sentuhan karamel, hazelnut, dan cokelat dari biji kopi Temanggung, membuat kopi ini memiliki cita rasa yang seimbang dan harmonis, seperti tiga lingkaran makna tadi. Dengan kurasi rasa ini, kami berharap Cublak Suweng bisa menjadi pintu bagi lebih banyak masyarakat domestik maupun internasional untuk menikmati kopi premium khas Indonesia,” sambung Felix TJ dalam acara Press Conference Cublak Suweng di outlet Roemah Koffie PIK 2, Kamis (16/7).
Biji kopi Cublak Suweng diolah dengan proses giling basah (wet hulled) dan alami (natural), yang mempertahankan kelembapan biji kopi sebelum dikupas dan dikeringkan.
Proses ini menghasilkan biji kopi dengan keasaman (acidity) yang rendah, karakter rasa yang earthy, dan rasa manis yang alami. Tekstur body yang padat melahirkan sensasi rasa yang pas; tidak terlalu ringan ataupun terlalu pekat.

Commercial Director Roemah Koffie, Ryo Limijaya, mengatakan bahwa Cublak Suweng dikembangkan untuk menjawab minat masyarakat Indonesia terhadap premium roastery yang semakin meningkat.
Cublak Suweng dirancang agar tetap mempertahankan karakter kopi Indonesia yang kuat, namun memiliki spektrum rasa yang fleksibel. Titik tengah inilah yang membuat Cublak Suweng bisa dinikmati sebagai black coffee maupun dieksplor sebagai base espresso untuk latte dan berbagai kreasi kopi lainnya. Rilisan ini hadir untuk memenuhi kebutuhan para pecinta kopi maupun para pebisnis kopi yang mencari satu base kopi untuk beragam eksplorasi,
jelas Ryo Limijaya.
Kemasan Turut Melestarikan Cerita Rakyat
Roemah Koffie mencoba melestarikan cerita rakyat lewat kemasan Cublak Suweng. Kemasan menampilkan ilustrasi cerita rakyat kancil dan kura-kura.

Baca juga:
Sambut Hari Kartini, Roemah Koffie Angkat Peran Barista Perempuan Lewat 'Women of Purposeful Light'
Berkat ketekunan dan kesabarannya, kura-kura dapat mengalahkan kancil yang cerdik dalam perlombaan lari, sesuai dengan falsafah Jawa kuno “alon-alon asal kelakon”.
Dengan kemasan koffie tins yang klasik, Roemah Koffie menargetkan Cublak Suweng dapat menjadi oleh-oleh khas Indonesia untuk para turis internasional. Selain itu, Roemah Koffie juga siap melayani kebutuhan commercial roastery dengan jalur ekspor.
Di kesempatan, Roemah Koffie turut menyajikan pengalaman interaktif melalui sesi "Tasting & Sensory Experience". Para tamu diajak mengeksplorasi profil rasa dan karakter Cublak Suweng dalam presentasi Kopi Walik, yang disajikan dengan piring kecil di atas gelas.
Selain itu, Roemah Koffie juga berkolaborasi dengan Boemi Botanical untuk menghadirkan pengalaman sensory aromatik. Kopi Cublak Suweng diekstraksi dan diolah menjadi botanical room fragrance, yang memperlihatkan bahwa kenikmatan kopi dapat menjadi seni di luar secangkir minuman.
Dari Hulu ke Hilir
Roemah Koffie bekerja sama langsung dengan para petani lokal dari berbagai daerah, kemudian mengolah bahan baku tersebut melalui fasilitas roastery yang berada di bawah naungan PT Dewa Kopi Indonesia. Setiap premium beans diproduksi dengan kualitas dan konsistensi yang berstandar internasional.

Selain Cublak Suweng, Roemah Koffie juga telah merilis berbagai varian kopi roastery dengan tema warisan budaya nusantara lainnya, antara lain Anak Daro (dari Kerinci, Jambi) dan Rambadia (dari Gayo, Aceh).
Baca juga:
Latte Art Competition Vol II Garapan Roemah Koffie, Bukan Sekadar Hias Kopi
Untuk memenuhi beragam preferensi penikmat kopi, Cublak Suweng tersedia dalam pilihan whole beans dengan grind size variatif (coarse, medium, fine), dalam ukuran 200 gr dan 500 gr. Sementara ground coffee tersedia dalam ukuran 10 x 5,5 gram dalam kemasan capsule. Konsumen dapat mendapatkan Cublak Suweng di seluruh outlet Roemah Koffie di Jakarta dan Tangerang, serta di gerai ritel premium seperti Grand Lucky, Kem Chicks, dan Papaya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap industri kopi yang lebih berkelanjutan, Roemah Koffie tengah mempersiapkan program dukungan untuk petani kopi dan keluarga petani di Temanggung, yang selama ini telah menjadi mitra bisnis Roemah Koffie. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung kesejahteraan para petani kopi sebagai garda hulu industri. (*)

