MerahPutih.com - Warna buah kopi umumnya identik dengan merah ketika matang. Namun, ada varietas yang justru berubah menjadi kuning saat mencapai kematangan.
Keunikan tersebut terdapat pada Yellow Bourbon, varietas yang digunakan dalam Cing Cangkeling, kopi single origin dari Mandalagiri, Garut, Jawa Barat yang kini tersedia di Roemah Koffie.
Kopi ini tumbuh di kawasan dengan ketinggian sekitar 1.500–1.600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Setelah dipanen, bijinya diolah menggunakan metode Classic Natural, proses yang turut membentuk karakter rasa kopi.
Punya Notes Stone Fruit hingga Gula Merah
Hasil pengolahan tersebut menghasilkan Cing Cangkeling dengan profil notes stone fruit, anggur, beri, dan gula merah.
Karakter tersebut membuat kopi ini menawarkan pengalaman rasa yang lebih beragam. Bukan hanya sensasi pahit, tetapi juga terdapat nuansa buah dan rasa manis yang muncul dalam setiap tegukan.
Dengan profil Espresso Roast, Cing Cangkeling dapat dinikmati sebagai Black Coffee maupun White Coffee.
Black Coffee memberikan kesempatan bagi penikmat untuk merasakan karakter kopi secara lebih langsung. Sementara White Coffee menghadirkan karakter yang lebih creamy dan rounded.
Baca juga:
Bukan Sekadar Kopi, Roemah Koffie Meracik Rasa dan Kisah Nusantara
Nama Cing Cangkeling Terinspirasi Budaya Jawa Barat
Keunikan Cing Cangkeling tidak hanya terletak pada varietas dan cita rasanya. Nama kopi tersebut juga membawa cerita yang berkaitan dengan budaya Jawa Barat.
Nama 'Cing Cangkeling' diambil dari lagu tradisional Jawa Barat dan dikaitkan dengan ungkapan Sunda “cing cicing, kade eling”.
Ungkapan tersebut dimaknai sebagai ajakan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menenangkan diri.
Makna itu kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman menikmati kopi. Secangkir Cing Cangkeling seolah menjadi ajakan untuk slow down di tengah aktivitas sehari-hari.
Menikmati aroma dan mencicipi rasa kopi sekaligus mengenali perjalanan biji kopi sebelum sampai ke dalam cangkir.
Berawal dari Kebun Keluarga di Mandalagiri
Perjalanan Cing Cangkeling bermula dari kebun keluarga Roby Siswanda di Mandalagiri.
Roby selama ini merawat tanaman kopi bersama keluarganya. Melihat potensi kopi dari kebun tersebut, ia kemudian mempelajari coffee processing secara mandiri.
Sejumlah metode pengolahan pun dieksplorasi, termasuk Red Anaerob dan Classic Natural.
Dari proses tersebut, kopi Mandalagiri kemudian bertemu dengan Roemah Koffie dan dikembangkan menjadi Cing Cang Keling.
Hadir dalam Kemasan Kopi dan Hampers

Selain karakter rasa dan cerita di baliknya, Cing Cangkeling juga hadir dengan pilihan pembelian yang lebih sederhana bagi penikmat kopi.
Dengan kemasan tersebut, konsumen dapat mencoba kopi single origin Mandalagiri tanpa harus mengambil paket khusus.
Cing Cangkeling juga dikemas dalam bentuk hampers yang dipadukan dengan Kalung Giri. Hampers tersebut memiliki harga Rp 2.099.000.
Perbedaan pilihan tersebut membuat Cing Cang Keling dapat dinikmati dalam dua konteks, sebagai kopi untuk konsumsi pribadi maupun sebagai bagian dari paket yang membawa cerita dan identitas produk.
Baca juga:
Kisah Keluarga Petani dari Mandalagiri Garut dalam Biji Kopi Cing Cangkeling Roemah Koffie
Cing Cangkeling merupakan produk seasonal dalam jumlah terbatas dan menjadi Beans of the Month mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026.
Pada akhirnya, perjalanan Cing Cangkeling dimulai jauh sebelum kopi berada di dalam cangkir.
Ada kebun keluarga di dataran tinggi Mandalagiri, varietas Yellow Bourbon dengan buah berwarna kuning ketika matang, proses pengolahan, hingga karakter rasa buah dan gula merah yang menjadi cirinya.
Dari sana, sebuah kopi lokal mencoba membawa cerita daerah asalnya ke lebih banyak penikmat kopi. (Knu)