MerahPutih.com - Sejak berdiri pada 2022, Roemah Koffie (member of Royal Agro Industri/RAI) berkembang pesat menjadi ekosistem kopi yang tak hanya bergerak di bidang roasting, tetapi juga retail coffee shop dan layanan F&B untuk pasar retail maupun wholesale.
Dengan kapasitas produksi mencapai 100 ton biji kopi per bulan, mereka membuka akses luas terhadap kekayaan kopi Indonesia. Namun, bagi CEO Roemah Koffie Felix TJ, kopi bukan sekadar soal produksi dan penyajian.
Baca juga:
Roemah Koffie Luncurkan Cublak Suweng, Kopi Premium Perpaduan Gayo dan Temanggung
Ada perjalanan panjang di balik setiap cangkir: petani, pemetik, prosesor, roaster, hingga barista. Filosofi ini disebutnya sebagai “Rehumanize Coffee”, gagasan yang Felix bawa dalam sesi IdeaFest 2026 bertajuk “Rooted in Culture, Brewed by Hand: Rehumanizing Coffee”.
Di balik satu cangkir kopi ada ekosistem manusia yang panjang dan saling terhubung. Ada petani yang menanam, pemetik yang memilih buah matang, prosesor yang mengolah, roaster yang menentukan karakter rasa, hingga barista yang menyajikannya. Budaya kopi bukan hanya tentang minumannya, tetapi juga tentang manusia yang bekerja dan hidup berdampingan dengan kopi,
CEO Roemah Koffie Felix TJ
Filosofi 'Rasa' dan 'Kisah' Nusantara Roemah Koffie
Pendekatan ini diwujudkan lewat produk yang diberi nama dari lagu-lagu daerah Indonesia. Setiap nama tidak dipilih secara sembarangan, melainkan membawa cerita dan makna yang menjadi bagian dari perjalanan kehidupan.
Dimulai dari Rambadia, lagu dari Sumatera Utara yang mengisahkan perkenalan antarmarga. Cerita berlanjut melalui Anak Daro yang berbicara mengenai pernikahan dan awal sebuah kehidupan baru.
Sedangkan, Cublak Suweng membawa makna tentang perjalanan manusia dalam menemukan ketenangan dan pemahaman dari dalam dirinya sendiri.
Bagi Roemah Koffie, ketiga lagu itu bukan sekadar inspirasi penamaan produk. Setiap judul menjadi bagian dari rangkaian cerita yang ingin mereka bawa kepada penikmat kopi, sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan kembali warisan budaya Indonesia.
Cublak Suweng misalnya, sebagai premium roastery blend yang memadukan kopi dari Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah.
Produk ini dirancang sebagai pengalaman yang menyatukan berbagai elemen, mulai dari nama, daerah asal biji kopi, karakter rasa, hingga cerita budaya yang mengiringinya.
Cerita yang kami ambil berasal dari lagu-lagu folklor Indonesia. Semuanya memiliki makna yang dalam. Kami ingin membawa cerita dari Sabang sampai Merauke dan menjadikannya bagian dari perjalanan menikmati kopi,
CEO Roemah Koffie Felix TJ
Dari Nusantara ke Dunia
Roemah Koffie tak hanya menghidupkan budaya nusantaran di dalam negeri, tetapi juga membawanya ke panggung internasional.
Di ajang World of Coffee, mereka menghadirkan instalasi visual, cerita komunitas penghasil kopi, live roasting, lokakarya, hingga Roemah Koffie Academy.
“Kita ingin dunia memahami bahwa kopi Indonesia membawa pengetahuan, keterampilan, keragaman budaya, dan cerita manusia,” tutup Felix. (Far)