MerahPutih.com - Indonesia dikliam masih relatif jauh dari ambang untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap), dengan skor probabilitas sebesar 0,44 dibandingkan ambang 0,6 dalam kajian ADBI.
CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro memaparkan, hasil analisis berbasis machine learning yang mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemampuan suatu negara mencapai status berpendapatan tinggi. Analisis tersebut membandingkan dua model machine learning, yakni XGBoost dan Elastic Net.
Hasil kedua model menunjukkan bahwa transformasi struktural, kualitas institusi, dan kelayakan politik merupakan tiga pilar dengan kontribusi terbesar terhadap kekuatan prediktif kemampuan suatu negara keluar dari MIT. Ketiga pilar tersebut menyumbang lebih dari 73 persen kekuatan prediktif dalam model.
Selain ketiga pilar tersebut, analisis ADBI juga mencakup modal manusia (human capital), inovasi (innovation), kapasitas fiskal (fiscal capacity), dan kapasitas negara (state capacity).
Baca juga:
Ciri-ciri Negara yang Mengalami 'Middle Income Trap', Apa Saja?
Sayangnya bagi Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, serta Kamboja, Myanmar, India, dan negara-negara lainnya, masih menghadapi tantangan karena probabilitas keluar dari middle income trap masih relatif jauh dari ambang batas,
kata Bambang.
Bambang mengatakan skor Indonesia sebesar 0,44 masih berada di bawah sejumlah negara Asia lainnya. Thailand mencatat skor 0,56, sedangkan Vietnam mencapai 0,50.
Jadi, saya dapat mengatakan bahwa negara-negara tersebut berada dalam posisi borderline. Ada kemungkinan untuk keluar dari middle income trap, tetapi belum dapat dipastikan,
ucapnya.
Sementara itu, negara Asia lainnya seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan mencatat skor probabilitas keluar dari middle income trap yang sangat tinggi, masing-masing sebesar 0,97, 0,95, dan 0,91, sebelum beralih menjadi negara berpendapatan tinggi.
Indonesia perlu memperkuat kemampuan domestik dan meningkatkan produktivitas untuk meningkatkan nilai tambah domestik sebagai bagian dari upaya keluar dari middle-income trap. Modal dasar Indonesia selama ini bertumpu pada sumber daya alam.
Indonesia juga perlu memperkuat basis sumber daya tersebut melalui pendalaman manufaktur, pengembangan pemasok domestik, penarikan investasi asing langsung (FDI) yang berorientasi pada teknologi, peningkatan keterampilan dan inovasi, serta partisipasi dalam integrasi rantai nilai regional.
Konsistensi kebijakan juga dinilai penting untuk mendukung transformasi struktural Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi,
katanya.