Ilmuwan Temukan Leopardus tilcayo: Spesies Kucing Liar Baru yang Mengubah Sejarah Genetik Kucing Dunia

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Jumat, 18 September 2026
Ilmuwan Temukan Leopardus tilcayo: Spesies Kucing Liar Baru yang Mengubah Sejarah Genetik Kucing Dunia

Penemuan spesies kucing liar baru bernama Leopardus tilcayo di Bolivia (Paola Nogales-Ascarrunz/X @pubity)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Dunia sains kembali digemparkan dengan penemuan spesies kucing liar baru bernama Leopardus tilcayo di Bolivia, yang menjadi temuan jenis kucing perdana dalam kurun waktu lebih dari seabad terakhir.

Temuan bersejarah tentang kucing tutul misterius ini bermula dari ketidaksengajaan, yakni saat seorang warga menyelamatkan seekor anak kucing dari pinggir hutan yang awalnya disangka hanya kucing peliharaan biasa.

Terungkapnya spesies kucing liar Bolivia ini tidak hanya menambah kekayaan keanekaragaman hayati kita, tapi juga langsung mendobrak peta silsilah genetik keluarga kucing di seluruh dunia.

Baca juga:

3 Serial Baru Netflix Agustus 2026: Horor Berdarah hingga Animasi Lucu Kucing Jalanan

Awal mula terbongkarnya identitas asli dari penemuan sains terbaru ini sebenarnya sudah bergulir sejak 2016 lalu. Saat itu, Paola Nogales-Ascarrunz—seorang ahli biologi sekaligus National Geographic Explorer—mendapat laporan dari suaka margasatwa lokal tentang keberadaan hewan yang mereka sebut "kucing aneh".

Kucing berwajah mungil dengan kumis panjang dan motif mirip macan tutul ini rupanya menyimpan rahasia genetik raksasa. Lewat analisis genomik kucing liar yang mendalam, para ahli akhirnya membuktikan bahwa hewan ini bukan sekadar subspesies yang naik level, melainkan spesies mutlak yang benar-benar baru bagi ilmu pengetahuan.

Dari Kucing Pungut hingga Memikat Ilmuwan

Perjalanan Leopardus tilcayo menuju panggung sains dimulai saat ia dipelihara oleh seorang pria lokal selama setahun, sebelum akhirnya diserahkan ke suaka margasatwa Senda Verde di lereng pegunungan Andes.

Nogales-Ascarrunz, yang juga pendiri Program Riset Felidae Bolivia, langsung kepo dan mengunjunginya.

Saya mengambil ratusan foto hewan itu, Saya sangat terpesona,

ucap Nogales-Ascarrunz dinukil National Geographic.

Awalnya, Nogales-Ascarrunz menduga kucing tersebut adalah bagian dari spesies Leopardus tigrinus (sering disebut oncilla atau kucing tutul kecil).

Namun, pada tahun 2019, saat ia membandingkan fotonya dengan buku panduan referensi kucing dari Brasil, ia menyadari ada yang janggal. Kucing asal Bolivia ini punya corak tutul (rosette) yang jauh lebih besar.

Pembuktian DNA Spesies Baru: Kenalan dengan "Tilcayo"

Penemuan spesies kucing liar baru bernama Leopardus tilcayo di Bolivia (Paola Nogales-Ascarrunz/X @pubity)

Rasa penasaran itu akhirnya terjawab beberapa tahun kemudian, ketika kemampuan analisis genetik Nogales-Ascarrunz makin mumpuni.

Bekerja sama dengan ahli genetika Eduardo Eizirik dari Brasil dan Jonas Lescroart dari Universitas Antwerp, tim ini berhasil memetakan posisi pasti sang kucing misterius di pohon keluarga felidae.

Mereka kemudian sepakat memberinya nama ilmiah Leopardus tilcayo. Uniknya, nama ini diambil dari sebutan warga lokal yang maknanya sendiri sebenarnya masih misteri.

Kami bertanya kepada warga setempat, ‘Mengapa kalian menyebutnya tilcayo?’,

cerita Nogales-Ascarrunz yang juga asli Bolivia. "Dan mereka bilang, ‘Nggak tahu deh! Kakek saya memanggilnya tilcayo, jadi saya ikut panggil tilcayo’,”

Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology ini menunjukkan bahwa L. tilcayo sudah berpisah secara evolusi dari spesies kerabatnya sekitar 1,4 juta tahun lalu. Jarak evolusi ini kira-kira sama jauhnya dengan perbedaan antara singa modern dan singa gua purba yang sudah punah.

Revolusi Silsilah Kucing dan Dampak Konservasinya

Penemuan ini tidak sekadar menambah satu nama baru di buku biologi. Menurut Eduardo Eizirik yang sudah meneliti kucing jenis ini selama 25 tahun, data genomik perlahan mengurai banyak rahasia yang tak kasat mata.

Apa yang dulunya kita pikir cuma satu spesies tunggal, kini mulai terlihat kalau sebenarnya itu adalah kompleks spesies,

jelas Eizirik.

Jika sebelumnya spesies Leopardus tigrinus dianggap membentang luas dari Kosta Rika hingga Brasil selatan, kini ilmuwan membaginya menjadi lima spesies berbeda.

Baca juga:

Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah

Hal ini memberikan pukulan telak yang menyadarkan kita pada isu konservasi. Mengapa? Karena ketika satu spesies besar dipecah menjadi lima, otomatis jumlah populasi masing-masing spesies di alam liar jauh lebih sedikit dan rentan punah.

James Sanderson, direktur Small Wild Cat Conservation Foundation, menegaskan bahwa penemuan ini bikin status perlindungan satwa jadi sangat mendesak. Apalagi sampai detik ini, ilmuwan belum tahu pasti apa makanan harian tilcayo, bagaimana mereka berkembang biak, atau berapa sisa populasinya di hutan Yungas, Bolivia.

Meski masih banyak PR bagi dunia sains, Nogales-Ascarrunz mengingatkan kita pada satu pesan penting. Alam masih menyimpan segudang misteri yang menunggu untuk dibongkar.

Bahkan pada keluarga kucing sekalipun, masih banyak hal di luar sana yang belum terdeskripsikan dan belum ditemukan manusia. Jadi, mari kita keluar, temukan, dan lindungi mereka,

jelas dia.
#Kucing #Kucing Ajaib #Kucing Lokal
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Ilmuwan Temukan Leopardus tilcayo: Spesies Kucing Liar Baru yang Mengubah Sejarah Genetik Kucing Dunia
Heboh penemuan spesies kucing liar baru bernama Leopardus tilcayo di Bolivia, yang pertama dalam 100 tahun terakhir! Berawal dari hewan pungut, kucing mungil ini guncang dunia sains berkat tes DNA.
Angga Yudha Pratama - Jumat, 18 September 2026
Ilmuwan Temukan Leopardus tilcayo: Spesies Kucing Liar Baru yang Mengubah Sejarah Genetik Kucing Dunia
Fun
Nutrisi Tepat Jaga Kesehatan Anabul, Bisa Habiskan Lebih Banyak Waktu Bersama Kesayangan
Para pemilik hewan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anabul kesayangan mereka.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
Nutrisi Tepat Jaga Kesehatan Anabul, Bisa Habiskan Lebih Banyak Waktu Bersama Kesayangan
Indonesia
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
: Muhammadiyah DIY meluncurkan Komunitas KucingMu sebagai wadah dakwah pecinta hewan. Uniknya, ada KTAM khusus kucing yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis.
Wisnu Cipto - Sabtu, 11 Juli 2026
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
Indonesia
Jakarta Diperkirakan Punya 300 Ribu Kucing Liar, Pemprov Perluas Program Sterilisasi
Dinas KPKP DKI Jakarta memperkirakan populasi kucing liar mencapai 300 ribu ekor. Pemprov memilih program sterilisasi dan Trap Neuter Return (TNR).
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 10 Juli 2026
Jakarta Diperkirakan Punya 300 Ribu Kucing Liar, Pemprov Perluas Program Sterilisasi
Indonesia
Ajak Warga Lapor Resto-Pasar Jual Daging Anjing, Pemprov Jakarta Jamin Identitas Cepu Aman
"Kami akan memastikan nama pelapor tetap kami rahasiakan, jadi tidak perlu takut," kata Kepala Dinas KPKP Jakarta Hasudungan Sidabalok
Wisnu Cipto - Selasa, 09 Desember 2025
Ajak Warga Lapor Resto-Pasar Jual Daging Anjing, Pemprov Jakarta Jamin Identitas Cepu Aman
Indonesia
Anjing dan Kucing 'Haram' Dijual untuk Santapan, Pramono Perintahkan Satpol PP Turun Tangan
Pramono berharap regulasi ini dapat berkontribusi dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan warga Jakarta
Angga Yudha Pratama - Jumat, 05 Desember 2025
Anjing dan Kucing 'Haram' Dijual untuk Santapan, Pramono Perintahkan Satpol PP Turun Tangan
Indonesia
Pramono Resmi Berlakukan Pergub Perdagangan Daging Anjing dan Kucing di Jakarta
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi memberlakukan Pergub larangan jual-beli daging anjing dan kucing di Jakarta.
Soffi Amira - Rabu, 26 November 2025
Pramono Resmi Berlakukan Pergub Perdagangan Daging Anjing dan Kucing di Jakarta
Indonesia
Sah! Pergub Larangan Perdagangan Daging Anjing dan Kucing Berlaku 24 November 2025
Peraturan ini secara rinci tertuang dalam Pergub Nomor 36 Tahun 2025
Angga Yudha Pratama - Selasa, 25 November 2025
Sah! Pergub Larangan Perdagangan Daging Anjing dan Kucing Berlaku 24 November 2025
Indonesia
Polisi Tetapkan 1 Anak Di Bawah Umur Tersangka Pejarahan Kucing Uya Kuya
Anak di bawah umur itu diketahui mencuri kucing dan sofa dari rumah Uya Kuya
Wisnu Cipto - Rabu, 10 September 2025
Polisi Tetapkan 1 Anak Di Bawah Umur Tersangka Pejarahan Kucing Uya Kuya
Indonesia
Kucing Uya Kuya Terlantar Pasca-Penjarahan. Kini Dirawat Puskeswan Ragunan Masih Diinfus
Kucing berwarna oranye itu setelah sempat terlantar usai aksi pejarahan rumah Uya Kuya akhir pekan lalu
Wisnu Cipto - Kamis, 04 September 2025
Kucing Uya Kuya Terlantar Pasca-Penjarahan. Kini Dirawat Puskeswan Ragunan Masih Diinfus
Bagikan