Merahputih.com - Dunia sains kembali digemparkan dengan penemuan spesies kucing liar baru bernama Leopardus tilcayo di Bolivia, yang menjadi temuan jenis kucing perdana dalam kurun waktu lebih dari seabad terakhir.
Temuan bersejarah tentang kucing tutul misterius ini bermula dari ketidaksengajaan, yakni saat seorang warga menyelamatkan seekor anak kucing dari pinggir hutan yang awalnya disangka hanya kucing peliharaan biasa.
Terungkapnya spesies kucing liar Bolivia ini tidak hanya menambah kekayaan keanekaragaman hayati kita, tapi juga langsung mendobrak peta silsilah genetik keluarga kucing di seluruh dunia.
Baca juga:
3 Serial Baru Netflix Agustus 2026: Horor Berdarah hingga Animasi Lucu Kucing Jalanan
Awal mula terbongkarnya identitas asli dari penemuan sains terbaru ini sebenarnya sudah bergulir sejak 2016 lalu. Saat itu, Paola Nogales-Ascarrunz—seorang ahli biologi sekaligus National Geographic Explorer—mendapat laporan dari suaka margasatwa lokal tentang keberadaan hewan yang mereka sebut "kucing aneh".
Kucing berwajah mungil dengan kumis panjang dan motif mirip macan tutul ini rupanya menyimpan rahasia genetik raksasa. Lewat analisis genomik kucing liar yang mendalam, para ahli akhirnya membuktikan bahwa hewan ini bukan sekadar subspesies yang naik level, melainkan spesies mutlak yang benar-benar baru bagi ilmu pengetahuan.
Dari Kucing Pungut hingga Memikat Ilmuwan
Perjalanan Leopardus tilcayo menuju panggung sains dimulai saat ia dipelihara oleh seorang pria lokal selama setahun, sebelum akhirnya diserahkan ke suaka margasatwa Senda Verde di lereng pegunungan Andes.
Nogales-Ascarrunz, yang juga pendiri Program Riset Felidae Bolivia, langsung kepo dan mengunjunginya.
Saya mengambil ratusan foto hewan itu, Saya sangat terpesona,
ucap Nogales-Ascarrunz dinukil National Geographic.
Awalnya, Nogales-Ascarrunz menduga kucing tersebut adalah bagian dari spesies Leopardus tigrinus (sering disebut oncilla atau kucing tutul kecil).
Namun, pada tahun 2019, saat ia membandingkan fotonya dengan buku panduan referensi kucing dari Brasil, ia menyadari ada yang janggal. Kucing asal Bolivia ini punya corak tutul (rosette) yang jauh lebih besar.
Pembuktian DNA Spesies Baru: Kenalan dengan "Tilcayo"
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab beberapa tahun kemudian, ketika kemampuan analisis genetik Nogales-Ascarrunz makin mumpuni.
Bekerja sama dengan ahli genetika Eduardo Eizirik dari Brasil dan Jonas Lescroart dari Universitas Antwerp, tim ini berhasil memetakan posisi pasti sang kucing misterius di pohon keluarga felidae.
Mereka kemudian sepakat memberinya nama ilmiah Leopardus tilcayo. Uniknya, nama ini diambil dari sebutan warga lokal yang maknanya sendiri sebenarnya masih misteri.
Kami bertanya kepada warga setempat, ‘Mengapa kalian menyebutnya tilcayo?’,
cerita Nogales-Ascarrunz yang juga asli Bolivia. "Dan mereka bilang, ‘Nggak tahu deh! Kakek saya memanggilnya tilcayo, jadi saya ikut panggil tilcayo’,”
Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology ini menunjukkan bahwa L. tilcayo sudah berpisah secara evolusi dari spesies kerabatnya sekitar 1,4 juta tahun lalu. Jarak evolusi ini kira-kira sama jauhnya dengan perbedaan antara singa modern dan singa gua purba yang sudah punah.
Revolusi Silsilah Kucing dan Dampak Konservasinya
Penemuan ini tidak sekadar menambah satu nama baru di buku biologi. Menurut Eduardo Eizirik yang sudah meneliti kucing jenis ini selama 25 tahun, data genomik perlahan mengurai banyak rahasia yang tak kasat mata.
Apa yang dulunya kita pikir cuma satu spesies tunggal, kini mulai terlihat kalau sebenarnya itu adalah kompleks spesies,
jelas Eizirik.
Jika sebelumnya spesies Leopardus tigrinus dianggap membentang luas dari Kosta Rika hingga Brasil selatan, kini ilmuwan membaginya menjadi lima spesies berbeda.
Baca juga:
Komunitas KucingMu Berdiri, Kucing Sekarang Bisa Punya KTA Muhammadiyah
Hal ini memberikan pukulan telak yang menyadarkan kita pada isu konservasi. Mengapa? Karena ketika satu spesies besar dipecah menjadi lima, otomatis jumlah populasi masing-masing spesies di alam liar jauh lebih sedikit dan rentan punah.
James Sanderson, direktur Small Wild Cat Conservation Foundation, menegaskan bahwa penemuan ini bikin status perlindungan satwa jadi sangat mendesak. Apalagi sampai detik ini, ilmuwan belum tahu pasti apa makanan harian tilcayo, bagaimana mereka berkembang biak, atau berapa sisa populasinya di hutan Yungas, Bolivia.
Meski masih banyak PR bagi dunia sains, Nogales-Ascarrunz mengingatkan kita pada satu pesan penting. Alam masih menyimpan segudang misteri yang menunggu untuk dibongkar.
Bahkan pada keluarga kucing sekalipun, masih banyak hal di luar sana yang belum terdeskripsikan dan belum ditemukan manusia. Jadi, mari kita keluar, temukan, dan lindungi mereka,
jelas dia.