Merahputih.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan akhir pekan ini terpaksa ditutup melemah tipis di level Rp17.758, terimbas oleh masih tingginya harga minyak dunia dan ancaman naiknya suku bunga The Fed.
Sentimen negatif yang membayangi rupiah vs dolar AS tersebut membuat pelaku pasar cenderung wait and see sambil memantau eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan depan, pelemahan pergerakan kurs rupiah hari ini langsung menjadi fokus utama investor yang tengah mengatur ulang strategi aset mereka.
Baca juga:
Kabar Cuan Akhir Pekan: IHSG Hari Ini Meroket, Rupiah Ikut Libas Dolar AS
Kalau kamu terus memantau nilai tukar rupiah belakangan ini, wajar saja grafiknya sedikit lesu dengan penurunan sekitar 5 poin (0,03 persen) dibandingkan hari sebelumnya yang berada di Rp17.753 per dolar AS.
Menurut analisis pasar, tekanan yang dialami mata uang Garuda sangat berkaitan erat dengan bandelnya harga minyak dunia yang masih nangkring di level tinggi dan jauh melampaui asumsi APBN kita.
Walaupun begitu, ada sedikit kabar baik dari kurs JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) Bank Indonesia yang justru memperlihatkan penguatan ke angka Rp17.745 per dolar AS, memberi sedikit bantalan di tengah kuatnya tarikan greenback.
Mengapa Harga Minyak dan Konflik Geopolitik Bikin Rupiah Tertekan?

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebutkan bahwa pelemahan tipis rupiah ini adalah respons logis dari ketidakpastian komoditas energi global.
Penguatan obligasi pemerintah masih dibayangi risiko harga minyak yang masih di level tinggi di atas asumsi APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),
ucap Rully dinukil Antara.
Meskipun laporan dari Anadolu mencatat harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November sempat turun 1,3 persen ke posisi 103,40 dolar AS per barel, berkat harapan adanya rute distribusi alternatif dari Asia Barat, pasar ternyata masih was-was.
Ketegangan yang berpusat di Selat Hormuz serta memanasnya konflik antara Arab Saudi dan Ansarullah di Yaman sukses menahan harga minyak agar tidak turun dari level tiga digit. Buntutnya, sejumlah pengiriman minyak tujuan Eropa pada pertengahan bulan ini terpaksa dibatalkan, yang otomatis bikin rantai pasok kembali goyah.
Terjepit Efek "Hawkish" The Fed dan Menanti Gebrakan Bank Indonesia
Bukan cuma urusan minyak yang bikin pusing, mata uang kita juga harus berhadapan dengan sikap hawkish Federal Reserve (The Fed).
Keputusan bank sentral AS yang super agresif ini sukses mendorong indeks dolar AS meroket tembus di atas level 100, mengabaikan tren penurunan harga minyak.
Stance kebijakan pengetatan The Fed dengan akselerasi yang tinggi sampai dengan akhir tahun ini. Saat ini, proyeksi kenaikan suku bunga The Fed untuk Oktober oleh pelaku pasar sudah di atas 50 persen,
ungkap Rully.
Kini, bola panas ada di tangan Bank Indonesia. Para investor domestik maupun asing tengah memantau ketat langkah apa yang akan diambil BI buat meredam efek ganda ini.
Baca juga:
Efek Domino The Fed Meluas, Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Makin Loyo
Publik tengah menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026 pekan depan, untuk melihat apakah bakal ada penyesuaian suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah.