Merahputih.com - Banyak yang bertanya-tanya kenapa nilai tukar rupiah hari ini kembali loyo di hadapan dolar Amerika Serikat.
Ternyata, pergerakan kurs rupiah yang sempat merosot 43 poin ke level Rp17.739 per dolar AS ini sangat dipengaruhi oleh kejutan kebijakan moneter AS.
Keputusan bank sentral Amerika yang kembali menaikkan suku bunga acuan sukses bikin ruang gerak mata uang Garuda makin tercekik.
Baca juga:
The Fed Resmi Naikkan Suku Bunga Akibat Efek Perang Iran, Cicilan Kredit dan KPR Siap-Siap Meroket!
Kondisi ini memang bikin pelaku pasar agak was-was, apalagi suku bunga The Fed baru saja resmi dikerek naik 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen demi meredam inflasi di negara mereka.
Imbasnya, pesona dolar AS makin tak terbendung dan sukses menjaga imbal hasil US Treasury anteng di posisi puncak.
Wajar saja kalau prediksi rupiah ke depannya masih dibayangi awan mendung karena tekanan berat dari sentimen global tersebut.
Analisis Pakar: Kombinasi Faktor Global dan Domestik
Merosotnya nilai tukar kita saat pembukaan perdagangan hari Kamis memang bukan tanpa alasan. Muhammad Amru Syifa, tim Research and Development dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), membenarkan bahwa pergerakan mata uang kita lagi-lagi disetir oleh dinamika di luar negeri.
Pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi pasar global,
ucap Amru.
Walaupun dolar sedang di atas angin, ada sedikit kabar baik dari sektor komoditas. Amru menjelaskan bahwa meredanya kekhawatiran soal pasokan minyak global bikin harga minyak mulai turun.
Hal ini setidaknya memberikan sedikit ruang napas buat mata uang regional di Asia untuk bergerak lebih stabil dan tidak terlalu anjlok.
Di sisi lain, dari dalam negeri sendiri, mata para investor sedang menyorot tajam kondisi fiskal kita. Stabilitas pasar keuangan domestik, terutama bagaimana pemerintah bisa putar otak menjaga kredibilitas APBN di tengah gempuran eksternal, jadi kunci penting penahan laju pelemahan rupiah.
Proyeksi ke Depan: Bakal Bergerak Volatil?
Sebagai gambaran tambahan, tekanan pada mata uang kita juga sudah mulai tercermin dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Pada Rabu (16/9), posisi rupiah bertengger di angka Rp17.712 per dolar AS, sedikit merangkak naik dari posisi Rp17.687 di hari sebelumnya.
Baca juga:
Analisis Pergerakan IHSG Hari Ini: The Fed Naikkan Suku Bunga, Pasar Modal Justru Menghijau
Lalu, bagaimana nasib rupiah dalam beberapa waktu ke depan? Menurut Amru, pergerakan kurs kemungkinan besar bakal sedikit liar alias volatil.
Dengan kondisi tersebut, rupiah berpotensi bergerak volatil dan masih berada dalam tekanan dalam jangka pendek, dengan kisaran Rp17.650 - Rp17.800 per dolar AS. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, perkembangan yield US Treasury, serta sentimen terhadap kondisi fiskal domestik,
tutup Amru dinukil Antara.
Buat kamu yang sering transaksi pakai dolar, pastikan untuk terus memantau pergerakan suku bunga dan berita ekonomi makro biar nggak kaget dengan fluktuasi kurs yang lumayan dinamis ini!