Merahputih.com - Penasaran apa penyebab IHSG melemah hari ini hingga bikin portofolio investasi kamu mendadak merah merona? Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melorot tajam pagi ini rupanya dipicu oleh lonjakan harga minyak global serta kekhawatiran pasar terhadap agresifnya kenaikan suku bunga The Fed pada September 2026.
Situasi bursa saham yang sedang tak menentu ini memaksa para investor untuk lebih waspada dan segera meracik ulang strategi demi mengamankan aset mereka.
Baca juga:
Kurs Rupiah Hari Ini Loyo Hadapi Dolar, Bagaimana Nasib IHSG dan Saham LQ45?
Saat bel perdagangan berbunyi, IHSG turun cukup lumayan yakni 36,55 poin (0,55 persen) dan harus rela tergelincir ke level 6.552,79.
Enggak cuma indeks utamanya, kumpulan saham-saham jagoan alias Indeks LQ45 juga ikut kena imbas dari bursa Asia dan global anjlok, meluncur turun 0,50 persen ke posisi 652,70.
Tren lesunya pasar saham ini sebenarnya adalah reaksi domino dari rentetan sentimen negatif dampak konflik geopolitik dan ketegangan ekonomi di tingkat internasional.
Ancaman Suku Bunga The Fed Bikin Pasar Tegang

Usut punya usut, biang kerok ketegangan ini berawal dari rilis data inflasi tingkat produsen (PPI) di Amerika Serikat yang melesat di luar dugaan.
PPI AS pada bulan Agustus 2026 tercatat naik 0,4 persen secara bulanan (mtm) dan 5,4 persen secara tahunan (yoy). Hal ini ngasih sinyal kuat kalau inflasi di sana masih cukup bandel dan ekonomi mereka masih lumayan resilien.
Gara-gara angka ini, ekspektasi para pelaku pasar langsung berubah haluan. Banyak yang makin yakin The Fed punya alasan kuat untuk bersikap hawkish dan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps di rapat FOMC pertengahan September 2026 nanti.
Mengutip data dari CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga ini bahkan lompat signifikan dari 64 persen jadi 73 persen pasca rilisnya data PPI tersebut.
Konflik Geopolitik AS-Iran Dorong Harga Minyak Terbang
Di luar urusan inflasi Amerika, ada risiko lain yang bikin pasar makin keringat dingin. Konflik yang kembali memanas antara AS dan Iran sukses membuat kekhawatiran akan tersendatnya pasokan energi global memuncak.
Imbasnya? Harga minyak dunia langsung meroket tajam! Minyak Brent lompat 8,7 persen ke angka USD 109,97 per barel, sementara WTI naik 8,54 persen menuju USD 104 per barel.
Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dalam jangka lebih panjang sekaligus memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara,
ungkap Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.
Gimana Proyeksi IHSG ke Depannya?
Buat kamu yang lagi trading, jangan keburu panik dulu. Meskipun lagi tertekan, masih ada peluang teknikal yang patut dicermati. Liza memberikan sedikit angin segar terkait titik-titik level krusial yang bisa jadi patokan investor.
Jika bertahan, IHSG berpeluang rebound menguji 6.673-6.723, dengan resistance berikutnya 6.859. Sebaliknya, jika breakdown di bawah 6.520, koreksi berpotensi menuju 6.420, dengan support berikutnya 6.377,
papar Liza.
Dampak Mahalnya Minyak ke Kantong Negara (APBN)
Naiknya harga minyak mentah ini tentu bikin beban APBN, khususnya di pos subsidi dan kompensasi energi, jadi makin berat. Mengingat pemerintah mematok asumsi harga minyak di kisaran USD 90 per barel, angka riil saat ini jelas jauh melampaui target.
Untungnya, ruang fiskal negara kita dinilai masih cukup lega. Defisit APBN hingga Agustus 2026 masih sangat aman di kisaran 0,95 persen dari PDB. Jadi, untuk saat ini pemerintah merasa belum perlu buru-buru menambah kuota subsidi BBM.
Di sisi lain, ada kabar menarik dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pemerintah berencana mencairkan dana cadangan APBN untuk membiayai program pembukaan rekening bagi 200 juta masyarakat.
Program masif ini baru bakal dieksekusi tahun 2027 nanti karena butuh sinkronisasi data raksasa antara perbankan, Bank Indonesia (BI), dan Dukcapil. Pak Menteri juga menegaskan anggarannya tidak akan menembus angka Rp11 triliun karena warga yang sudah punya rekening di bank terkait tak perlu repot bikin yang baru.
Wall Street dan Bursa Asia Kompak Kebakaran Jenggot
Kalau kamu melirik pergerakan pasar saham luar negeri, pemandangannya juga sama-sama memerah. Bursa saham dunia lagi kompak rontok berjamaah pada penutupan Kamis (10/9/2026). Di benua Eropa, Euro Stoxx 50 melemah 0,66 persen, dan DAX Jerman terjun 0,84 persen.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Rungkad Terimbas Perang AS-Iran, Cek Prediksi dan Sentimen Pasarnya
Sementara di Wall Street, trio indeks utama tumbang bareng:
-
S&P 500 turun 0,58% ke level 7.591,70
-
Nasdaq Composite merosot 0,65% ke 26.081,73
-
Dow Jones tergelincir 0,60% ke 52.064,10
Kepanikan ini nular cepat ke bursa Asia di Jumat paginya. Indeks Nikkei Jepang jadi yang paling babak belur dengan terjun bebas 2,68 persen, disusul Kospi Korea (minus 2,18 persen), Shanghai (minus 1,80 persen), dan Hang Seng yang anjlok 1,36 persen.
Melihat rentetan sentimen negatif dari segala penjuru ini, nggak heran kalau IHSG butuh waktu dan momentum ekstra kuat buat bisa balik menghijau dalam waktu dekat.