MerahPutih Nasional - Analis pertahanan Universitas Bung Karno (UBK) Jerry Indrawan Gihartono kembali menegaskan ancaman gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) tidak bisa dihadapi dengan pengerahan pasukan dalam skala besar. (Baca: Analis Intelijen: Isu ISIS Skenario Golkan RUU Kamnas)
"Tidak bisa tangkal ISIS pakai metode geo politik," kata Jerry saat dihubungi Merahputih.com, Kamis (26/3).
Alumnus Universitas Pertahanan ini menilai gerakan radikal yang mengatasnamakan agama tersebut tengah berkembang di Tanah Air bersumber dari keyakinan ideologi dan agama. Untuk membendung gerakan tersebut agar tidak berkembang luas adalah dengan cara melakukan counter ideologi. Salah satunya adalah dengan agenda deradikalisasi.
Agenda deradikalisasi ini, sambung Jerry, ditujukan kepada kelompok-kelompok yang sudah teridentifikasi mempunyai kaitan dengan gerakan Islam radikal, baik itu ISIS, Al-Qaeda atau gerakan radikal masa lampau.
"Kalau mau atasi ya pakai gerakan deradikalisasi ini, jangan kerahkan prajurit," sambung Jerry.
Dosen Universitas Paramadina itu menambahkan, sejauh ini proses deradikalisasi yang dijalankan oleh pemerintah dan elemen terkait selama ini belum berjalan maksimal. Persoalan lain yang juga menjadi pemicu tumbuh-kembangnya gerakan Islam radikal adalah persoalan ekonomi dan kesejahteraan.
Sebab, simpatisan yang tergabung dengan garakan islam radikal ISIS sebagian besar adalah kelas ekonomi bawah yang memiliki keterbatasa akses untuk dapat hidup layak.
"Itulah sebabnya diperlukan pendekatan serius untuk meredam gerakan radikal atas nama agama. Disamping pemberdayaan ekonomi kepada simpatisan atau mereka yang diduga kuat terlibat dalam jaringan gerakan islam radikal," tandas Dosen Universitas Paramadina.
Seperti diberitakan Merahputih.com sebelumnya, Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tengah mencanangkan operasi untuk menangkap kelompok Abu Santoso cs. Operasi itu diberi sandi Operasi Camar Maleo dan berakhir pada tanggal 26 Maret 2015. (Baca: Lampu Kuning Terorisme, Jokowi Minta Data Intelijen Diperkuat)
Sementara itu, TNI sendiri mengirimkan ribuan personel yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Rekasi Cepat (PPRC) ke Poso, Sulawesi Tengah. Ribuan personel TNI itu akan menjalani latihan gabungan dengan simulasi kembali merebut Poso dari cengkraman gerakan Islam radikal. (bhd)