Merahputih.com - Pemerintah tengah membidik penerapan kebijakan Bioetanol E20 demi memangkas angka impor BBM secara besar-besaran. Strategi ini menjadi langkah taktis dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya langkah konversi energi demi menyelamatkan devisa negara.
Kita harus konversi untuk mengurangi impor. Kalau B50 bisa kita memenuhi kebutuhan kenapa bensin tidak,
ujar Bahlil.
Saat ini, kebutuhan bensin domestik menembus angka 40 juta kilo liter. Sementara itu, kapasitas produksi kilang di dalam negeri baru menyentuh angka 20 juta kilo liter. Defisit sebesar 20 juta kilo liter selama ini tertutup lewat jalur impor.
Baca juga:
DPR Ingatkan Pemerintah: Perdamaian AS–Iran Bukan Euforia, Rakyat Butuh BBM Murah
Meskipun capaian lifting domestik belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan nasional, pasokan luar negeri wajib ditekan ke titik terendah agar beban finansial negara tidak semakin membengkak.
Target Substitusi Impor Mulai 2028
Pemerintah menjadwalkan implementasi penuh Bioetanol E20 berjalan pada periode 2028–2029. Keberhasilan penerapan program B50 menjadi modal optimisme utama dalam menyukseskan program diversifikasi bensin ini.
"Dari 20 juta kilo liter bensin dan nanti kita terapkan E20, berarti tinggal 16 juta. Tinggal kita dorong bagaimana bisa meningkatkan lifting untuk menghasilkan bensin," tutur Bahlil.
Pemanfaatan bioetanol terbukti efektif di berbagai belahan dunia dalam memutus ketergantungan pada komoditas minyak bumi.
"Amerika, Brasil dan beberapa negara lain sudah menerapkan. Tujuannya apa? Agar kita bisa mengurangi impor supaya devisa kita itu tidak keluar," ucapnya.
Tiga Jurus Dongkrak Lifting Minyak
Selain mendorong pemanfaatan Bioetanol E20, Kementerian ESDM tengah mematangkan tiga strategi utama dalam menggenjot produksi minyak mentah atau lifting di dalam negeri.
"Ada tiga pendekatan akan kita lakukan untuk meningkatkan lifting minyak," kata Bahlil.
Langkah pertama berfokus pada adopsi teknologi mutakhir guna mengoptimalkan sumur-sumur produksi. Langkah kedua menyasar pengaktifan kembali proyek-proyek Plan of Development (PoD) terbengkalai.
Baca juga:
DPR Tekankan Transparansi ESDM, Publik Berhak Nikmati Penurunan Harga BBM
Strategi terakhir bertumpu pada penggalakan kembali aktivitas eksplorasi demi menemukan cadangan migas baru di berbagai wilayah potensi.
"Mau tidak mau kita melakukan eksplorasi. Kita punya sekitar 120 potensi sumur sekarang sudah melakukan tender eksplorasi," pungkasnya.