Jerry Indrawan: ISIS Tidak Bisa Ditangkal Serbuan Prajurit

Fredy WansyahFredy Wansyah - Kamis, 26 Maret 2015
Jerry Indrawan: ISIS Tidak Bisa Ditangkal Serbuan Prajurit

Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Islam Solo melakukan unjuk rasa di depan balai kota Solo, Jawa Tengah, Senin (23/3). (Foto: Antara/Yusuf Nugroho)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Analis pertahanan Universitas Bung Karno (UBK) Jerry Indrawan Gihartono kembali menegaskan ancaman gerakan radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) tidak bisa dihadapi dengan pengerahan pasukan dalam skala besar. (Baca: Analis Intelijen: Isu ISIS Skenario Golkan RUU Kamnas)

"Tidak bisa tangkal ISIS pakai metode geo politik," kata Jerry saat dihubungi Merahputih.com, Kamis (26/3).

Alumnus Universitas Pertahanan ini menilai gerakan radikal yang mengatasnamakan agama tersebut tengah berkembang di Tanah Air bersumber dari keyakinan ideologi dan agama. Untuk membendung gerakan tersebut agar tidak berkembang luas adalah dengan cara melakukan counter ideologi. Salah satunya adalah dengan agenda deradikalisasi.

Agenda deradikalisasi ini, sambung Jerry, ditujukan kepada kelompok-kelompok yang sudah teridentifikasi mempunyai kaitan dengan gerakan Islam radikal, baik itu ISIS, Al-Qaeda atau gerakan radikal masa lampau.

"Kalau mau atasi ya pakai gerakan deradikalisasi ini, jangan kerahkan prajurit," sambung Jerry.

Dosen Universitas Paramadina itu menambahkan, sejauh ini proses deradikalisasi yang dijalankan oleh pemerintah dan elemen terkait selama ini belum berjalan maksimal. Persoalan lain yang juga menjadi pemicu tumbuh-kembangnya gerakan Islam radikal adalah persoalan ekonomi dan kesejahteraan.
Sebab, simpatisan yang tergabung dengan garakan islam radikal ISIS sebagian besar adalah kelas ekonomi bawah yang memiliki keterbatasa akses untuk dapat hidup layak.

"Itulah sebabnya diperlukan pendekatan serius untuk meredam gerakan radikal atas nama agama. Disamping pemberdayaan ekonomi kepada simpatisan atau mereka yang diduga kuat terlibat dalam jaringan gerakan islam radikal," tandas Dosen Universitas Paramadina.

Seperti diberitakan Merahputih.com sebelumnya, Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tengah mencanangkan operasi untuk menangkap kelompok Abu Santoso cs. Operasi itu diberi sandi Operasi Camar Maleo dan berakhir pada tanggal 26 Maret 2015. (Baca: Lampu Kuning Terorisme, Jokowi Minta Data Intelijen Diperkuat)

Sementara itu, TNI sendiri mengirimkan ribuan personel yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Rekasi Cepat (PPRC) ke Poso, Sulawesi Tengah. Ribuan personel TNI itu akan menjalani latihan gabungan dengan simulasi kembali merebut Poso dari cengkraman gerakan Islam radikal. (bhd)

#Terorisme #ISIS
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Indonesia
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Rencana pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme tuai kritik. SETARA Institute menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan supremasi sipil dan sistem peradilan pidana.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Januari 2026
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Bagikan