MerahPutih.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah meminta rencana PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) untuk mengimpor 105 ribu mobil niaga dari India menggunakan dana APBN agar dipertimbangkan ulang, bahkan dibatalkan.
Menurut Said, langkah tersebut dinilai tidak sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang selama ini menekankan penguatan perekonomian domestik dan industri nasional.
“Rencana mengimpor 105 ribu mobil niaga tersebut malah merugikan perekonomian nasional,” kata Said kepada wartawan di Jakarta, dikutip Rabu (25/2).
Said menilai PT Agrinas belum sepenuhnya memahami arah pembangunan ekonomi yang berpihak pada penguatan industri dalam negeri.
Baca juga:
Rp 24,66 Triliun untuk Datangkan Mobil Pikap India, DPR: Impor Harus Jadi Opsi Terakhir
Ia mengingatkan bahwa sejak 2011, pertumbuhan industri manufaktur selalu berada di bawah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, sektor manufaktur seharusnya menjadi andalan dalam mengembangkan hilirisasi sumber daya alam (SDA).
Dengan memilih opsi impor, Agrinas dinilai abai terhadap upaya memperbesar permintaan bagi produsen dalam negeri agar industri otomotif nasional dapat tumbuh lebih ekspansif.
“Saya sangat menyayangkan uang APBN dibelanjakan tetapi tidak memberi nilai tambah ekonomi bagi rakyat di dalam negeri. Lebih bijak langkah ini tidak perlu dipikir ulang, tapi perlu dibatalkan,” tegasnya.
Potensi Kerugian Triliunan Rupiah
Said juga mengutip hasil perhitungan Celios yang dimuat di berbagai media. Dalam kajian tersebut, rencana impor mobil niaga berpotensi:
- Menggerus PDB hingga Rp39,29 triliun
- Menurunkan pendapatan masyarakat
- Memangkas surplus industri otomotif hingga Rp21,67 triliun
- Mengurangi pendapatan tenaga kerja di seluruh rantai pasok otomotif hingga Rp17,39 triliun
- Menekan penerimaan pajak bersih hingga Rp240 miliar
Baca juga:
Ia mempertanyakan apakah PT Agrinas telah berkomunikasi dengan produsen dalam negeri, termasuk Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
“Pengadaan 105.000 mobil niaga hampir setara dengan produksi mobil niaga sepanjang 2025. Apakah tidak ada komunikasi dengan pabrikan dalam negeri?” ujarnya.
Dorong Pengadaan dari Dalam Negeri
Said menegaskan, jika pengadaan mobil niaga dilakukan di dalam negeri, dampaknya akan jauh lebih positif bagi perekonomian nasional.
“Langkah ini akan membangkitkan industri otomotif dalam negeri, menyerap tenaga kerja baru, dan menciptakan efek berantai ekonomi lainnya,” katanya. (∫)