Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Mahfud MD: Demokrasi Kebablasan, Korupsi Merajalela

Eddy Flo - Kamis, 06 September 2018

MerahPutih.Com - Praktik demokrasi di Indonesia menurut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD masih jauh dari tataran ideal. Bahkan Mahfud menyebut demokrasi kita kebablasan. Hal itu merujuk pada kritik sejumlah pihak terhadap kondisi demokrasi yang terjadi di Tanah Air.

Menurut Mahfud, salah satu indikator kenapa demokrasi kebablasan adalah maraknya korupsi. Korupsi di Indonesia ditempuh melalui proses demokrasi, sehingga yang salah itu disahkan oleh lembaga demokrasi.

Hal ini diungkapkan Mahfud MD dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (6/9).

"Misalnya anda mau korupsi sesuatu, lewat DPR aja pesen, pesen pasal, pesen UU, di situ korupsi bisa dilakukan, ketika mau ditangani secara hukum, ini undang-undangnya sudah disetujui oleh DPR, dan DPR itu pun jual beli kan, untuk jadi anggota DPR, beli untuk ini dan sebagainya, inilah demokrasi kebablasan," kata Mahfud yang juga Guru Besar UII Yogyakarta itu.

Mahfud mengatakan, istilah demokrasi kebablasan bukanlah dari dia, namun muncul dari diskusi yang pernah diikutinya.

Mantan Ketua MK Mahfud MD
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD (Foto: ANTARA FOTO)

Ia pun mengutip mantan Menteri Rizal Ramli yang mengatakan demokrasi di Indonesia sebagai demokrasi kriminal.

Mahfud juga mengutip penelitian dari Australia, terjadi anomali demokrasi di Indonesia. Dalam teorinya, semakin demokratis sebuah negara maka korupsi semakin berkurang.

"Tapi hasil penelitian itu menyebutkan semakin demokrasi, semakin banyak korupsinya, berbeda dengan teori yang berlaku di dalam literaturnya, kenapa. Ya, jawabannya itu di sini demokrasi diperjualbelikan," katanya lagi.

Ia pun menyampaikan pendapatnya sebagai mantan Ketua Mahkamah Konstitusi terkait fenomena demokrasi tersebut.

"Sebagai mantan Ketua MK tahu persis minimal yang sampai hari ini ada di penjara itu karena menjual pasal. Kamu mau pasal apa, membayar ke dia, sekarang ada delapan orang di penjara dari DPR, baru keluar satu. Jadi begitu maksudnya, jadi bukan dari saya (istilah demokrasi kebablasan)," pungkas Mahfud MD.

Sementara itu, mantan Anggota BPK Ali Masykur Musa sebagaimana dilansir Antara menyampaikan, bila demokrasi tanpa etik (keadaban) maka yang terjadi adalah demokrasi yang dikendalikan oleh modal dan pasar.

Akibatnya, demokrasi akan diperdagangkan.

"Dan ini kan menjadikan pertentangan masyarakat yang diakibatkan oleh demokrasi," kata Ali Masykur Musa.(*)

Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Hari Pertama Kerja, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Disambut Meriah

Baca Artikel Asli