MerahPutih.com - Direktur Eksekutif SETARA Institute, Ismail Hasani menyebut, praktik terorisme di depan gereja Katedral Makassar, menjadi momentum meningkatlan protokol penanganan ekstremisme
Peristiwa bom bunuh di Makassar merupakan sinyal keras bagi seluruh pihak, terutama pemerintah untuk tidak pernah kendor dalam melaksanakan ‘protokol’ penanganan ekstremisme-kekerasan.
Baca Juga
Densus 88 Temukan Buku FPI saat Geledah Rumah Terduga Teroris di Bekasi dan Jaktim
"Baik di ranah pencegahan maupun penindakan,” kata Ismail dalam siaran persnya kepada di Jakarta, Senin (29/3).
Dalam rangka mitigasi dan pencegahan, belum lama ini Presiden telah menandatangani Peraturan Presiden No 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN-PE).
Baginya, akselerasi penerapan Perpres tersebut secara komprehensif dan terukur mendesak untuk dilakukan dalam rangka mencegah berulangnya peristiwa seperti yang terjadi di Makassar
Menurutnya, persoalan ekstremisme-kekerasan yang didorong oleh stimulus ideologis tidak akan surut hanya karena pandemi.
“Di tengah konsentrasi tinggi pemerintah dalam penanganan dampak pandemi, perhatian pada penanganan ekstremisme-kekerasan tetap tidak boleh berkurang,” tuturnya.
Di sisi lain, Ismail juga meminta kepada pemerintah Indonesia untuk terus melakukan langkah dan upaya konkret dalam penanggulangan terorisme ini.
SETARA Institute mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan komprehensif dan terukur untuk memitigasi.
"Termasuk melakukan penegakan hukum yang presisi sesuai dengan kerangka negara hukum untuk menjamin keselamatan seluruh warga,” ujarnya.
Direktur riset SETARA Institute, Halili Hasan dalam kesempatan yang sama pun berharap, agar pemerintah daerah juga ikut andil dalam penanggulangan terorisme ini.
Termasuk membangun lingkungan yang toleran dan inklusif, sehingga seluruh anak bangsa dapat hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) di tengah perbedaan dalam kebinekaan.
Sejatinya, kunci utama bagi keberhasilan penanggulangan terorisme berbasis ekstremisme dan kekerasan ini adalah bagaimana para pelaku dan korban doktrin bisa kembali memeluk kebinekaan dengan sepenuh hatinya.
“Penerimaan atas kebinekaan merupakan prediktor utama bagi keberhasilan penanganan ekstremisme kekerasan dan bagi penguatan kebinekaan,” paparnya. (Knu)
Baca Juga
Kapolri Pastikan Pengobatan Korban Bom Makassar Ditanggung Negara