MerahPutih.com - Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta menilai terjadinya sejumlah kecelakaan pesawat TNI harus dijadikan pelajaran serius. Menurut Sukamta, perlu ada peremajaan terhadap alutsista TNI mengingat maraknya pesawat yang 'bertumbangan'.
"Kita sangat perlu terus meng-ABG-kan.(meremajakan) alutsista kita. Harus akui ada alutsista kita yang berusia sudah tua meskipun masih dinyatakan layak terbang, apalagi ‘hanya’ untuk latihan misalnya," tegas Sukamta, dalam keteranganya di Jakarta, Rabu (17/6).
Baca Juga
Pesawat Tempur Hawk 0209 Jatuh, Menhan Prabowo Diminta Audit Alutsista TNI
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menyatakan, pesawat milik TNI sudah beberapa kali jatuh. Awal tahun 2016 pesawat Tucano jatuh di Malang, kemudian akhir tahun 2016 pesawat Hercules C-130 juga jatuh di Wamena.
Lalu, Juni ini juga helikopter milik TNI AD jatuh di Kendal, menewaskan 4 orang. Ia mengatakan, evaluasi rutin harus terus dilakukan.
"Mungkin kita perlu buat standar baru yang tinggi atas kondisi kelayakan terbang pesawat alutsista. Jadi standar kelayakan yang ada sekarang dibuat lebih ketat lagi. Pesawat yang selama ini masih dikatakan layak terbang oleh standar lama, bisa jadi sudah tidak layak terbang menurut standar baru nanti," imbuh Sukamta.
engan begitu, hanya pesawat yang tergolong muda saja yang layak diterbangkan. "Ini lebih baik untuk keselamatan kita semua, bangsa ini," tegas Sukamta.
Wakil Ketua Fraksi PKS ini menjelaskan, tahun 2020 ini bertepatan dengan mulai masuknya pada tahap Minimum Essential Force (MEF) ke-4, yaitu tahun 2020-2024.
Kejadian itu, kata Sukamta, sekaligus bisa menjadi momentum untuk terus mengevaluasi dan memperkuat alutsista. Dia mendorong agar industri pertahanan lebih ditingkatkan.
"Kita punya PT Dirgantara Indonesia yang bisa memproduksi pesawat, bahkan produknya sudah diekspor ke beberapa negara," ujar Sukamta.
Sukamta berharap, eemoga ke depan Indonesia bisa memenuhi sendiri kebutuhan alutsista dalam negeri secara dominan dan minim impor alutsista.
Baca Juga
Pesona Empat Pesawat Militer Legendaris di Museum Pusat Dirgantara TNI AU
"Sehingga kebutuhan anggarannya bisa ditekan dan dioptimalkan untuk dapat spesifikasi yang tinggi,” tutup Sukamta.
Seperti diketahui, kurang dari satu bulan dua buah pesawat militer milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) jatuh. Pada tanggal 6 Juni 2020 helikopter kepunyaan TNI AD jatuh di Kendal, Jawa tengah dan disusul pesawat tempur milik TNI AU jatuh di Kampar, Riau, pada Senin (15/6). (Knu)