MERAHPUTIH.COM - SD Kanisius Pucangsawit, Jebres, Solo, menjadi sorotan publik. Mereka sukses memanfaatkan halaman sekolah menjadi lahan pertanian untuk ketahanan pangan. Seluruh hasil panen dari halaman sekolah itu digunakan untuk mencukupi gizi siswa sekolah.
Wali Kota Solo Respati Ardi memberikan apresiasi terhadap program ketahanan pangan yang dijalankan guru dan murid. Ia mengatakan program kemandirian pangan ini akan menjadi inspirasi sekolah-sekolah nasional lainnya.
“Kegiatan tersebut tidak hanya mengajarkan murid di tingkat dasar untuk belajar bercocok tanam, tapi juga menumbuhkan karakter anak yang baik,” kata Respati, Jumat (1/5).
Ia mengatakan bapak dan ibu guru bersama siswa bersama-sama menjalankan kebun sekolah. Jenis sayuran yang ditanam mulai dari pakcoy, timun, tomat, cabai, bawang, dan jagung. “Semoga bisa menginspirasi kita semua karena ini merupakan investasi karakter anak. Ini mahal sekali harganya. Saya salut. Guru-guru dan muridnya luar biasa,” katanya.
Baca juga:
GNTI Bersiap Panen Raya 1.500 Hektare Jagung, Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Respati mengatakan para murid juga diajarkan untuk memelihara hewan ternak ayam untuk dimanfaatkan telurnya. “Ketika musim panen tiba, hasil berkebun dan berternak nantinya akan diolah bersama dengan melibatkan guru dan orangtua,” kata dia.
Ia mendorong agar tiap SD negeri di Kota Solo dapat mengaplikasikan gerakan berkebun ini. Ia memastikan akan memberikan dukungan penuh terhadap inovasi pendidikan di Surakarta. “Saya berharap ini bisa diaplikasikan oleh sekolah negeri lainnya. Terima kasih untuk SD Kanisius Pucangsawit telah menginspirasi kami. Ini luar biasa, harus kita aplikasikan segera karena sangat relevan untuk investasi karakter anak-anak kita di masa depan,” imbuhnya.
Kepala SD Kanisius Pucangsawit, Perdana Wulansari menjelaskan pihaknya menerapkan sistem pembelajaran holistik kepada murid-murid. Metode ini dilakukan agar anak-anak lebih dapat merasakan dan mengenali lingkungan sekitarnya. “Karena kami punya kebun, jadi anak-anak bisa belajar mencintai bumi, merawat bumi sebagai rumah kita bersama itu bisa diaplikasikan secara langsung. Lalu dampak tambahannya, anak-anak bisa menikmati hasil kebun yang mereka rawat dan mereka olah,” jelasnya.
Ia juga menggandeng orangtua dalam mengolah hasil kebun agar gizi anak terpenuhi dan terpantau.
“Anak-anak juga mendapat edukasi pangan sehingga mereka ketika mau mengonsumsi sesuatu, mereka tahu ini lo yang bergizi karena ada juga pembelajaran makronutrien dan mikronutrien dari ahli gizi,” tutupnya.(Ismail/Jawa Tengah)
Baca juga:
Menko Pangan Bakal Keluarkan Aturan Bahan Baku Lokal Program MBG, Tekan Biaya Logistik