MERAHPUTIH.COM - SEBANYAK 28 siswa TK Gaya Baru III di Kampung Ngoresan, Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Solo, menempati sekolah rusak dan rawan roboh. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Pemkot Solo langsung menganggarkan dana Rp 150 juta untuk perbaikan sekolah tersebut.
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengatakan pihaknya mendapatkan laporan mengenai kerusakan bangunan sekolah yang dinilai membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
“Hasil pengecekan kondisi sejumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan cukup parah. Plafon di beberapa ruangan telah terlepas, atap bangunan tampak melengkung, kerangka atap mengalami pelapukan, sehingga kuda-kuda bangunan terlihat retak,” kata Astrid, Kamis (30/7).
Kondisi tersebut, kata dia, dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatan apabila proses belajar-mengajar tetap berlangsung di ruang yang rusak.
Baca juga:
Angin Kencang Terjang Cilincing, 51 Rumah dan 1 Sekolah Rusak
Astrid menegaskan keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik menjadi prioritas utama. Menurutnya, setiap anak di Kota Surakarta berhak memperoleh layanan pendidikan yang aman, nyaman, serta didukung sarana dan prasarana yang layak.
“Hal yang paling utama yakni memastikan proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan baik tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Anak-anak harus mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan layak karena itu merupakan hak mereka,” tegasnya.
Ia memastikan kegiatan belajar-mengajar tidak akan terhenti. Untuk sementara, proses pembelajaran direlokasi ke SD Bulu Kantil Ngoresan hingga kondisi bangunan memungkinkan untuk digunakan kembali. “Kami ingin memastikan anak-anak tetap bisa belajar dengan nyaman. Relokasi ini merupakan langkah sementara agar proses pendidikan tetap berjalan sambil menunggu penanganan bangunan sekolah,” katanya.
Kepala TK Gaya Baru III Nanik Santoso menyebut kerusakan bangunan sebenarnya telah berlangsung cukup lama. “Awalnya itu kerusakan hanya terjadi pada bagian plafon, tapi seiring waktu kondisinya semakin memburuk meski sempat dilakukan perbaikan sederhana,” kata Nanik.
Dia mengungkapkan beberapa tahun lalu plafon di salah satu ruang kelas pernah ambruk hingga menimpa seorang guru. Setelah kejadian tersebut, dilakukan penggantian plafon, tapi kerusakan kembali muncul dan kini kondisinya semakin mengkhawatirkan.
Menurut Nanik, TK Gaya Baru III berdiri sejak 1980 dengan luas bangunan sekitar 90 meter persegi. Kerusakan mulai terlihat di sejumlah titik sejak 2018 dan terus berkembang hingga saat ini. Akibat kerusakan tersebut, atap bangunan mengalami kebocoran. Saat hujan turun, air masuk ke ruang kelas sehingga mengganggu aktivitas belajar. Siswa bahkan harus menunggu lantai mengering sebelum dapat memasuki kelas.
“Selama ini, upaya perbaikan hanya mengandalkan dana Sumbangan Pembinaan Pendidikan sebesar Rp 90.000 per bulan dan Bantuan Operasional Penyelenggaraan. Namun, kondisi keuangan sekolah juga terbatas karena masih terdapat tunggakan pembayaran dari sebagian wali murid,” kata dia.
Dia menambahkan TK Gaya Baru III berdiri di atas lahan seluas 108 meter persegi milik Pemerintah Kota Surakarta dan memiliki izin operasional di bawah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jebres. Saat ini sekolah tersebut melayani 28 siswa yang mayoritas berasal dari keluarga menengah ke bawah.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Solo Dwi Ariyatno mengatakan anggaran yang diusulkan untuk perbaikan sekitar Rp 150 juta. Anggaran ini untuk konstruksi atap sekolah. "Kami kemarin mengusulkan sesuai kebutuhan pembangunan dan segala macam proyeksinya sekitar Rp 150 juta. Itu untuk konstruksi atap saja,” kata Dwi.
Dia menyebut, kalau bangunan TK sampai dirobohkan, tidak cukup waktu karena hanya ada waktu tiga bulan. Oleh karena itu, perbaikan difokuskan untuk atap sekolah.
“Karena kalau sampai merobohkan segala macamnya itu enggak cukup waktu. Karena perubahan ini sekitar tiga bulan efektif. Sedangkan kalau saya lihat kemarin permasalahan utamanya adalah konstruksi atap supaya ada cahaya masuk," tutupnya.(Ismail/Jawa Tengah)
Baca juga:

