MerahPutih.Com - Derasnya informasi yang mengisi ruang publik entar melalui media massa atau media sosial, perlu kecakapan khusus untuk menyaring dan memastikan kebenarannya.
Salah satu memastikan kebenaran sebuah informasi yakni melalui klarifikasi. Kebiasaan memberikan klarifikasi belum nampak dalam masyarat kita. Oleh karena itu, menurut Sosilog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Zuly Qodir budaya masyarakat Indonesia untuk mengklarifikasi setiap informasi yang diterima melalui media sosial perlu ditumbuhkan.
Hal ini guna menghindari penyebarluasan informasi yang menyesatkan dan berpotensi mengusik perdamaian bangsa.
"Kalau dapat informasi yang tidak jelas sumbernya sebaiknya harus 'tabayyun' (klarifikasi) dulu, jangan asal dikonsumsi atau disebarluaskan," kata Zuly dalam diskusi kebangsaan dengan tema "Kebangsaan Dalam Masyarakat Multikultural" di Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY), Selasa (22/8).
Zuly menilai belakangan ini tren masyarakat mengonsumsi serta menyebarluaskan informasi melalui media sosial sangat pesat. Sayangnya, semangat mengonsumsi dan menyebarkan informasi itu kerap tidak diimbangi dengan budaya klarifikasi sehingga justru menimbulkan maraknya penyebarluasan informasi palsu atau "hoax" atau bermuatan fitnah yang justru mengusik perdamaian Indonesia.
"Saya melihat seolah-olah masyarakat kita tidak butuh klarifikasi, mereka hanya melihat dan langsung ikut menyebarkan padahal isinya fitnah dan bermuatan kebencian," kata dia.
Oleh sebab itu, ia mengatakan kemajuan teknologi informasi bisa menjadi bumerang bagi Bangsa Indonesia sendiri apabila dalam pemanfaatannya tidak diimbangi dengan penerapan nilai-nilai kebijaksanaan. "Karena itu saya menilai kedamaian bangsa ini bisa terusik dengan penyebaran berita hoax," kata dia.
Sementara itu, Rektor Universitas Atmajaya Yogyakarta Gregorius Sri Nurhartanto memaklumi tantangan bangsa dalam mengelola informasi semakin meningkat mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial teraktif di dunia.
"Tantangan ada di depan mata, kita tidak mungkin melangkah mundur," kata Nurhartanto dalam acara yang diselenggarakan UAJY dan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta ini.(*)