Meta Disidang di 29 Negara Bagian AS, Bisa Ubah Masa Depan Instagram dan Facebook

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 20 Agustus 2026
 Meta Disidang di 29 Negara Bagian AS, Bisa Ubah Masa Depan Instagram dan Facebook

Logo Meta, perusahaan induk dari Facebook dan Instagram. (Foto: Unsplash/Dima Solomin)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — META menghadapi kasus terbesar mereka sejak beroperasi. Koalisi negara bagian di Amerika Serikat (AS) menggugat Meta Platforms atas tuduhan bahwa Facebook dan Instagram dirancang dengan cara yang membahayakan kesehatan mental pengguna muda. Persidangan dengan agenda penyampaian argumen digelar di pengadilan federal California, Selasa (18/8). Kasus ini berpotensi mengubah aplikasi media sosial paling populer di dunia.

Pengacara dari Colorado, California, New Jersey, dan Kentucky, yang memimpin kelompok bipartisan beranggotakan 29 negara bagian, akan menyampaikan pernyataan pembuka di hadapan delapan anggota juri di Oakland. Juri tersebut secara khusus berperan sebagai penasihat bagi Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers, yang akan memutuskan perkara ini.

Persidangan ini akan menguji tuduhan dari empat negara bagian tersebut bahwa Meta merancang Facebook dan Instagram agar bersifat adiktif bagi anak-anak dan remaja. Meta juga disebut menyesatkan konsumen mengenai keamanan platform bagi pengguna muda. Persidangan juga akan membahas tuduhan dari seluruh 29 negara bagian yang menuding Meta secara tidak semestinya mengumpulkan dan menggunakan data pribadi anak-anak ketika mereka menggunakan platform milik perusahaan tersebut. Praktik itu dinilai melanggar hukum federal.

Pengacara Meta diperkirakan akan menyampaikan kepada juri bahwa perusahaan telah melakukan upaya besar untuk menjaga keamanan anak-anak di internet. Perusahaan juga berpendapat bahwa mereka tidak pernah memberikan pernyataan yang menyesatkan mengenai keamanan platform dan bahwa negara-negara bagian tersebut gagal menunjukkan bukti adanya kerugian nyata terhadap warganya.

Pendiri sekaligus CEO Meta Mark Zuckerberg diperkirakan akan memberikan kesaksian selama persidangan yang berlangsung beberapa pekan tersebut. Kepala Instagram, Adam Mosseri, juga diperkirakan akan bersaksi.

Baca juga:

Meta Setuju Bentuk Tim Berantas Spam Komen Judol di FB dan Instagram



Ujian Terbesar Meta




Para pakar menyebut persidangan ini sebagai ujian terbesar Meta sejauh ini. Gugatan itu bahkan berpotensi memunuculkan denda dan berdampak besar terhadap Meta. Kasus ini berlangsung di tengah meningkatnya sorotan global terhadap dampak media sosial terhadap pengguna berusia muda.

Meta mengatakan sanksi yang mungkin dijatuhkan dapat mencapai USD 1,4 triliun, hampir setara dengan kapitalisasi pasar perusahaan yang mencapai sekitar USD 1,5 triliun. Para jaksa agung negara bagian belum secara spesifik menyebutkan jumlah denda yang mereka tuntut, tetapi dalam sidang pekan lalu mereka mengatakan nilainya mungkin lebih mendekati USD 200 miliar.

Jaksa agung Colorado, Kentucky, California, dan New Jersey juga meminta hakim mengeluarkan perintah yang mewajibkan perusahaan menerapkan pembatasan usia, menghapus fitur infinite scroll atau pengguliran tanpa batas, serta melakukan perubahan lain pada platformnya di seluruh Amerika Serikat.

Dalam pernyataan menjelang persidangan, juru bicara Meta mengatakan tuduhan dari negara-negara bagian tersebut tidak memiliki dasar dan perusahaan tetap mempertahankan rekam jejaknya dalam memberikan perlindungan yang kuat bagi pengguna remaja.

“Para jaksa agung tidak memberikan bukti bahwa ada orang di negara bagian mereka yang disesatkan. Mereka mengklaim fitur-fitur yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti memiliki akun Instagram tambahan, telah merugikan warga mereka, serta berupaya menghukum Meta atas persoalan yang dihadapi seluruh industri, seperti verifikasi usia,” kata juru bicara tersebut.

“Alih-alih berpegang pada fakta atau hukum, negara-negara bagian tersebut justru memilih mengejar tuntutan kompensasi yang tidak masuk akal,” imbuhnya.




Investigasi Multinegara Bagian



Gugatan yang diajukan pada 2023 tersebut merupakan hasil dari investigasi multinegara bagian mengenai dampak Instagram dan Facebook terhadap pengguna muda.

Investigasi itu diumumkan setelah muncul pengungkapan dari mantan karyawan Meta, Frances Haugen. Dalam kesaksiannya di hadapan komite Senat AS pada 2021, Haugen mengatakan perusahaan mengetahui bahwa produk-produknya dapat membahayakan pengguna muda dan mengetahui cara membuatnya lebih aman, tetapi memilih untuk tidak melakukan perubahan tersebut demi mengejar keuntungan yang lebih tinggi.

Negara-negara bagian tersebut diperkirakan akan menghadirkan sejumlah besar dokumen internal dan hasil penelitian Meta, serta kesaksian dari mantan karyawan Meta dan para pakar.

Meta dan perusahaan media sosial lainnya, seperti Snap Inc., ByteDance selaku induk TikTok, serta Alphabet selaku induk YouTube, menghadapi tekanan yang semakin besar dari anggota parlemen dan melalui jalur hukum.

Gugatan yang diajukan 29 negara bagian ini merupakan salah satu dari ribuan perkara yang telah diajukan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut oleh pemerintah negara bagian, pemerintah daerah, distrik sekolah, dan individu. Mereka menuduh produk-produk perusahaan tersebut membahayakan pengguna muda.

Meta mengatakan gelombang gugatan hukum tersebut dapat memberikan dampak serius terhadap bisnis dan kinerja keuangan perusahaan.(dwi)

Baca juga:

Meta Luncurkan Paket Lengkap Langganan IG, FB, dan WhatsApp Rp 124 Ribu, Ini Fitur-Fitur Plusnya!

#Meta #Media Sosial #Mark Zuckerberg
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Tekno
Kejutan, Meta Kenalkan Perangkat AI Portabel Muse Charm
Meta menyebut Charm akan siap dikirimkan untuk liburan Desember mendatang.
Dwi Astarini - Jumat, 25 September 2026
 Kejutan, Meta Kenalkan Perangkat AI Portabel Muse Charm
Tekno
Meta Muse Melesat, 2,5 Juta Unduhan dalam 13 Hari, Kalahkan ChatGPT
Muse resmi meluncur pada 8 September dan telah mencatat sekitar 2,5 juta unduhan dalam 13 hari pertama.
Yusuf Abdillah - Rabu, 23 September 2026
Meta Muse Melesat, 2,5 Juta Unduhan dalam 13 Hari, Kalahkan ChatGPT
Tekno
Meta One Resmi Hadir di Indonesia, Ini Daftar Harga dan Paketnya
Meta memperkenalkan Meta One, layanan berlangganan baru yang menggabungkan berbagai fitur premium dari ekosistem Meta.
Yusuf Abdillah - Senin, 21 September 2026
Meta One Resmi Hadir di Indonesia, Ini Daftar Harga dan Paketnya
Tekno
Usai Dikritik soal Privasi, Meta Siapkan Kacamata Pintar Tanpa Kamera
Meta dikabarkan tengah menyiapkan kacamata pintar baru bernama Luna yang tidak dilengkapi kamera.
Yusuf Abdillah - Jumat, 18 September 2026
Usai Dikritik soal Privasi, Meta Siapkan Kacamata Pintar Tanpa Kamera
Tekno
Meta Muse Resmi Meluncur, AI Agent Ini Bisa Kirim Email hingga Berbelanja
Meta Muse dapat membantu berbagai aktivitas, mulai dari mengirim email, mengatur kalender, memesan perjalanan, berbelanja, hingga melakukan pembayaran.
Yusuf Abdillah - Rabu, 09 September 2026
Meta Muse Resmi Meluncur, AI Agent Ini Bisa Kirim Email hingga Berbelanja
Tekno
Meta Tambah Fitur Privasi di Kacamata Pintar, Perekaman Diam-Diam Makin Sulit
Meta kembali memperkuat sistem privasi pada kacamata pintarnya yang dibekali teknologi AI.
Yusuf Abdillah - Jumat, 28 Agustus 2026
Meta Tambah Fitur Privasi di Kacamata Pintar, Perekaman Diam-Diam Makin Sulit
Dunia
Polandia Murka, Minta Uni Eropa Denda Meta Rp5,1 Triliun Atas Tuduhan Penipuan Iklan
Polandia meminta Komisi Eropa menjatuhkan denda Rp5,1 triliun kepada Meta. Tuduhan kelalaian pengawasan iklan penipuan di Facebook dan Instagram
Wisnu Cipto - Jumat, 28 Agustus 2026
Polandia Murka, Minta Uni Eropa Denda Meta Rp5,1 Triliun Atas Tuduhan Penipuan Iklan
Indonesia
WhatsApp di Indonesia Diblokir Massal, Meta Akui Imbas Eror Sistem Global
Meta akhirnya buka suara terkait pemblokiran massal sejumlah akun WhatsApp yang menimpa pengguna warga negara Indonesia (WNI) di tanah air.
Wisnu Cipto - Kamis, 27 Agustus 2026
WhatsApp di Indonesia Diblokir Massal, Meta Akui Imbas Eror Sistem Global
Tekno
WhatsApp Siapkan Password Gantikan PIN 6 Digit, Keamanan Akun Makin Kuat
WhatsApp terus memperkuat keamanan akun pengguna melalui sejumlah pembaruan.
Yusuf Abdillah - Kamis, 27 Agustus 2026
WhatsApp Siapkan Password Gantikan PIN 6 Digit, Keamanan Akun Makin Kuat
Dunia
Jumlah Anak Pengguna Media Sosial di Australia Justru Kembali Meningkat Setelah Adanya Larangan
Efektivitas larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun di Australia menjadi pertanyaan.
Yusuf Abdillah - Rabu, 26 Agustus 2026
Jumlah Anak Pengguna Media Sosial di Australia Justru Kembali Meningkat Setelah Adanya Larangan
Bagikan