Waspadai Propaganda Teroris Bermodus "Teror Rekayasa"

Zulfikar SyZulfikar Sy - Sabtu, 16 November 2019
Waspadai Propaganda Teroris Bermodus

Ilustrasi Densus 88 Antiteror (MP/Win)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com – Setiap kali terjadi peristiwa teror di Indonesia, nyaris selalu muncul ujaran dari pihak tertentu yang menyebutkan bahwa aksi tersebut adalah rekayasa. Bahkan, seorang tokoh menyebut bahwa aktor bom bunuh diri di Polrestabes Medan (13/11) adalah negara seperti pada zaman orba.

Begitu juga dengan insiden penusukan terhadap mantan Menkopolhukam Wiranto beberapa waktu lalu, ada yang menyebutnya sebagai rekayasa.

Baca Juga:

Ikut Perang Bareng ISIS di Suriah, Empat Orang Terduga Teroris Diciduk Densus 88

Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta mengatakan, tuduhan dan komentar yang bias ini tentu harus diluruskan agar tidak menjadi hal yang kontraproduktir terhadap penanggulangan terorisme di Indonesia.

"Fakta paling mudah untuk membuktikan adanya kasus terorisme adalah adanya proses hukum. Sejak tahun 2000 hingga pertengahan 2018 tercatat sebanyak 1.499 orang menjalani proses hukum karena peristiwa terorisme," kata Stanislaus dalam keterangannya, Sabtu (16/11).

Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)
Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Anggota program doktoral dan kajian intelijen UI ini menambahkan, dengan banyaknya korban dari masyarakat maupun dari aparat kepolisian dalam kasus terorisme di Indonesia, sekaligus adanya fakta-fakta persidangan yang sudah dilakukan, maka jika ada pihak yang meragukan adanya terorisme di Indonesia patut diduga bahwa pihak tersebut adalah bagian dari aksi tersebut.

"Mereka bertugas untuk melakukan propaganda di masyarakat dan melemahkan program penanggulangan terorisme," imbuh Stanislaus.

Stanislaus melihat, aksi terorisme di Indonesia dipengaruhi oleh dinamika terorisme transnasional.

Saat ini, kelompok atau orang dengan paham radikal di Indonesia, yang menggunakan aksi teror sebagai cara untuk mencapai tujuan, lebih dominan terpengaruh oleh ISIS.

Beberapa kelompok di Indonesia yang berafiliasi dengan berbaiat dengan ISIS antara lain JAD, JAT, JAKDN, dan MIT. Kelompok-kelompok ini bisa dengan cepat berubah, namun kiblatnya tetap sama yaitu ISIS.

Baca Juga:

Lebih Radikal, Istri Bomber Polrestabes Medan Diduga Rencanakan Aksi Teror di Bali

Dengan terdesaknya ISIS di Timur Tengah saat ini dan pasca kematian pemimpin ISIS Abu Bakar Al Baghdadi, maka dinamika kelompok radikal di Indonesia diprediksi justru akan menguat.

"Setelah sebelumnya target utamanya adalah polisi dan biasanya rumah ibadah, maka karena Abu Bakar Al Baghdadi tewas oleh pasukan Amerika, simbol-simbol Amerika atau orang asing di Indonesia diperkirakan akan menjadi target prioritas dari kelompok atau orang yang berafiliasi dengan ISIS," kata Stanislaus.

Pelaku bom bunuh diri di Malpolrestabes Medan. Foto: Net
Pelaku bom bunuh diri di Malpolrestabes Medan. Foto: Net

Aksi terorisme di Polrestabes Medan (13/11) lalu misalnya, diduga kuat menjadi aksi balasan pertama dari kelompok atau orang yang berafiliasi dengan ISIS terhadap pihak yang dianggap sebagai thagut di Indonesia.

Dengan kondisi saat ini maka potensi aksi teror ke depan masih cukup kuat terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru yang biasanya menjadi momentum dengan daya tarik kuat bagi teroris untuk melakukan aksinya.

"Kewaspadaan terhadap ancaman terorisme di Indonesia tidak boleh melemah. Berbagai logika yang menyesatkan serta persepsi yang menyudutkan pemerintah terutama Polri tidak perlu ditanggapi," pungkas dia. (Knu)

Baca Juga:

Kapolri Idham Azis Dikritik karena Gagal Antisipasi Serangan Teroris

#Terorisme #Ancaman Teroris
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Indonesia
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Rencana pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme tuai kritik. SETARA Institute menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan supremasi sipil dan sistem peradilan pidana.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Januari 2026
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Bagikan