Kapolri Idham Azis Dikritik karena Gagal Antisipasi Serangan Teroris

Zulfikar SyZulfikar Sy - Kamis, 14 November 2019
Kapolri Idham Azis Dikritik karena Gagal Antisipasi Serangan Teroris

Petugas Kepolisian menyita sejumlah barang dari rumah pelaku bom bunuh diri RMN (24) di Mapolrestabes Medan. (Antara Sumut/Nur Aprilliana Br Sitorus)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Teror bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara adalah kasus serangan teror pertama di periode kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi).

Sebelumnya, teror penikaman menimpa Wiranto (yang saat itu menjabat sebagai Menkopolhukam). Seperti diketahui, kedua pelaku teror tersebut berasal dari Medan.

Baca Juga:

Ikut Perang Bareng ISIS di Suriah, Empat Orang Terduga Teroris Diciduk Densus 88

Dua kasus serangan teroris ini, terutama kasus serangan bom di Mapolrestabes Medan menunjukkan bahwa sel-sel terorisme masih hidup subur di Indonesia, meski Densus 88 terus menerus melakukan penangkapan dan pembersihan ke sarang sarang teroris.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai, serangan bom di Polresta Medan bisa dilihat sebagai upaya kalangan teroris untuk mempermalukan Kapolri Jenderal Idham Azis yang baru dilantik sebagai Kapolri.

“Idham sendiri merupakan tokoh penting Densus 88, sebuah detasemen khusus di bawah Mabes Polri yang memiliki tupoksi menanggulangi ancaman terorisme,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (14/11).

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane. (Foto: Antaranews)
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane. (Foto: Antaranews)

Menurut Neta, kasus bom Medan ini sekaligus menunjukkan Polri di bawah kepimpinan Idam Azis sangat lemah dalam sistem deteksi dini, baik deteksi dini dari jajaran Densus 88 maupun dari intelijen kepolisian maupun Bareskrim.

“Hingga saat ini saja Idham belum berhasil memilih Kabareskrim yang baru. Artinya dalam memilih Kabareskrim saja, Idham tergolong lelet, apalagi untuk melakukan deteksi dan antisipasi dini terhadap serangan terorisme,” tuturnya.

Neta mengungkapkan, lamanya penunjukkan Kabareskrim hingga saat ini membuktikan Idham Azis tidak becus menjadi Kapolri.

“Lamanya penunjukan Kabareskrim baru membuktikan Idham Azis sebagai Kapolri tidak profesional dan tidak paham apa sesungguhnya yang harus menjadi prioritas,” gumamnya.

Padahal di sepanjang era kampanye dan Pilpres 2019, Polri sudah melakukan pagar betis dan pembersihan terhadap kantong-kantong terorisme.

“Tapi mengapa saat Idham baru menjabat sebagai Kapolri, Polri bisa kebobolan? Selain itu, selama ini jajaran kepolisian sendiri yg selalu mengatakan bahwa sasaran terorisme saat ini sudah meluas dan polisi dijadikan sebagai sasaran utamanya, tapi kenapa Polri lengah dan masih kebobolan,” tanyanya.

Baca Juga:

Puan Minta Brimob Galak ke Teroris, Bukan ke Rakyat

Neta menyarankan, melihat pola serangan di Medan, tidak ada kata lain bahwa Polri tak boleh lengah untuk terus menerus meningkatkan deteksi dininya.

“Apalagi selama ini Polri sangat agresif memburu para teroris dan para teroris menganggap jajaran Polri adalah penghambat utama dari gerakan perjuangan mereka, sehingga jika Polri lengah wajar kalangan teroris bermanuver mencari celah dengan modus modus baru,” jelasnya.

Pelaku bom bunuh diri di Malpolrestabes Medan. Foto: Net
Pelaku bom bunuh diri di Malpolrestabes Medan. (Foto: Istimewa)

Neta juga mengatakan, penggunaan ojek online adalah modus baru dalam sistem serangan terorisme di Indonesia. Polri juga harus mencermati hal ini dengan serius, apakah korban adalah benar benar pelaku bom bunuh diri dalam serangan di Polrestabes Medan atau korban merupakan korban yg diperalat jaringan terorisme.

“Dalam artian, jaringan terorisme menyewa ojek online untuk membawa penumpang dan barang (bom) ke Polrestabes Medan dan begitu tiba di TKP, bom yang dibawa diledakkan dengan sistem remot kontrol dari jarak jauh,” urainya.

Neta menghimbau, fenomena tersebut patut dicermati Polri. Terlepas dari semua itu, Kapolri juga harus bisa bekerja cepat, terutama dalam menetapkan Kabareskrim yang baru.

“Tujuannya agar Polri bisa konsolidasi, terutama untuk mencermati manuver kelompok terorisme. Bagaimana Polri bisa mencermati dan mendeteksi manuver jajaran terorisme, jika Polri sendiri tidak terkonsolidasi dengan mengambangnya posisi Kabareskrim,” tegasnya.

Neta menilai, fenomena yang muncul saat ini adalah munculnya beberapa manuver negatif di kalangan internal kepolisian.

“Yang ada justru muncul manuver-manuver negatif di internal kepolisian yang membuat jajaran kepolisian menjadi bingung untuk bersikap di tengah maraknya serangan terorisme,” pungkasnya. (Knu)

Baca Juga:

Lebih Radikal, Istri Bomber Polrestabes Medan Diduga Rencanakan Aksi Teror di Bali

#Terorisme #Neta S Pane #Idham Azis
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Kopilot Flydubai Berkicau, Ungkap Rencana Tabrakkan Pesawat ke Bandara atau Gedung di Tel Aviv
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Berita Foto
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Silence momen dan doa dalam acara Peringatan Hari Internasional untuk Peringatan dan Penghormatan bagi Korban Terorisme 2026 di Jakarta, Jum'at (21/8/2026).
Didik Setiawan - Jumat, 21 Agustus 2026
Hari Internasional untuk Korban Terorisme 2026, Kolaborasi Perkuat Perlindungan Korban
Indonesia
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Ancaman terorisme saat ini sudah mulai bergeser. Kini, internet dijadikan sarana untuk melakukan rekrutmen, kontrapropaganda, hingga pendanaan terorisme
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 27 Juli 2026
BNPT Siapkan 111 Pencegahan Terorime Sejak Dini, 250 Anak Telah Berhasil Direhabilitasi
Indonesia
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Kadensus 88 AT Polri mengungkap pola baru terorisme digital yang menyasar generasi muda melalui algoritma, komunitas virtual, dan kerentanan psikologis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Densus 88 Ungkap Pola Baru Terorisme Digital, Anak Muda Jadi Target Rentan
Indonesia
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Wakapolri mengungkap pola baru terorisme dan ekstremisme yang kini berkembang melalui ruang digital. Polri juga menyoroti ratusan anak terpapar radikalisme di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 21 Mei 2026
Waspada! Paham Ekstremisme dan Terorisme Kini Menyebar Lewat Algoritma Digital
Indonesia
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pengembangan dan pendalaman terhadap kedelapan tersangka tersebut
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 06 Mei 2026
Densus 88 Antiteror Polri Tangkap 8 Orang Diduga Sebaran Propaganda Terorisme di Medsos
Indonesia
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Presiden RI, Prabowo Subianto, meneken Perpres RAN PE. DPR pun mengapresiasi pencegahan terorisme.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Prabowo Teken Perpres RAN PE, DPR Apresiasi Pendekatan Cegah Terorisme
Indonesia
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
untuk aspek penegakan hukum, peran Polri tetap menjadi yang utama. Sementara itu, pelibatan TNI akan disesuaikan dengan bentuk dan tingkat ancaman terorisme yang dihadapi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 10 Februari 2026
Aturan Pelibatan TNI Dalam Penanganan Terorisme Belum Diputus, Masih Dirumuskan
Indonesia
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Rencana pelibatan TNI dalam penanggulangan terorisme tuai kritik. SETARA Institute menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan supremasi sipil dan sistem peradilan pidana.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 19 Januari 2026
SETARA Institute Kritik Rencana Libatkan TNI dalam Penanggulangan Terorisme
Bagikan