MERAHPUTIH.COM — KOPILOT yang dilaporkan mencoba membajak pesawat Flydubai mengaku berencana menabrakkan pesawat tersebut ke Bandara Ben Gurion Tel Aviv atau ke sebuah gedung bertingkat di ibu kota Israel tersebut. Demikian dilaporkan Amerika Serikat dan Israel. Kopilot yang diketahui merupakan warga negara Oman tersebut dilaporkan merupakan seorang ekstremis ‘lone wolf’ (bertindak sendiri).
Jaksa Agung Uni Emirat Arab menyatakan kopilot tersebut berusaha melakukan tindakan terorisme pada penerbangan FZ1073 dari Dubai ke Tel Aviv pada Rabu (30/9). Ia menyerang dan melukai kapten pilot menggunakan kapak darurat (emergency crash axe) yang disimpan di kokpit sebelum akhirnya dilumpuhkan para penumpang. Awak pesawat lain yang sedang dalam perjalanan mengemudikan pesawat tersebut mendaratkannya di Arab Saudi.
Perdana Menteri Israel mengatakan kopilot tersebut telah mengalami doktrinasi radikal Islamis dan bahwa kapten, para penumpang, serta awak pesawat kedua berhasil mencegah bencana bergaya 11 September (9/11).
Rincian lebih lanjut mengenai kopilot penerbangan Flydubai tersebut, yang oleh berbagai laporan diidentifikasi sebagai Hamam al-Hammami, mulai terungkap akhir pekan ini seiring pemeriksaan di UEA. Selama pemeriksaan, perwakilan Israel mendapatkan pembaruan informasi secara berkala.
Baca juga:
Geger Skenario 'False Flag' Israel, Netanyahu Dituduh Korbankan Flydubai Demi Seret Trump ke Perang!
Media Israel mengutip sumber-sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut, yang mengatakan kopilot memberi tahu para penyidik bahwa, setelah menyerang Kapten Smit Machchhar, ia berniat untuk terus menerbangkan pesawat seperti biasa ke dalam ruang udara Israel dan menerima izin pendaratan dari Bandara Ben Gurion.
Ia kemudian berencana menabrakkan Boeing 737 MAX tersebut ke bandara atau ke gedung bertingkat di pusat kota Tel Aviv, dengan gaya serangan 11 September 2001 milik al-Qaeda di AS. Di dalam pesawat, ada lebih dari 180 penumpang. Ia disebut amat mungkin bertindak sendiri daripada atas nama organisasi radikal atau pemerintah asing.
Kopilot tersebut juga dilaporkan memberi tahu para penyidik bahwa ia sebelumnya berniat membajak dan menabrakkan penerbangan terdahulu ke Tel Aviv, tetapi mengurungkan niatnya karena mengenal seseorang di dalam pesawat tersebut. Belum ada komentar langsung dari otoritas UEA maupun Israel.
Jaksa Agung UEA Hamad al-Shamsi mengatakan pada Sabtu bahwa penyelidikan negaranya akan mengungkap seluruh keadaan, motif, dan keterkaitan apa pun yang berhubungan dengan insiden tersebut. Hasilnya akan diumumkan setelah penyelidikan selesai.
Proses Rekrutmen Dipertanyakan
Pertanyaan juga bermunculan terkait dengan celah keamanan besar, termasuk bagaimana pelaku direkrut oleh Flydubai dan diberi izin untuk menerbangkan pesawat yang dipenuhi warga Israel ke Tel Aviv. Pejabat regional mengatakan kopilot tersebut telah dilarang terbang oleh maskapai nasional Oman, Oman Air, dan dipindahkan ke pekerjaan administratif karena kekhawatiran atas pandangan ekstremisnya.
Ia kemudian direkrut Flydubai yang berbasis di UEA setelah menjalani pemeriksaan keamanan standar, tapi tidak memeriksa latar belakangnya atas potensi tanda-tanda radikalisasi.
Peraturan penerbangan Israel menyatakan pilot yang merupakan warga negara dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, seperti Oman, tidak diizinkan mengoperasikan penerbangan ke negara tersebut.
Pejabat regional, dikutip Associated Press pada Minggu, mengatakan otoritas UEA telah membagikan daftar penumpang dan awak pesawat kepada Israel sebelum keberangkatan penerbangan FZ1073. Lembaga keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, mengatakan kementerian perhubungan bertanggung jawab atas pemeriksaan daftar tersebut dari maskapai asing.
Namun, Menteri Perhubungan Miri Regev mengatakan kementeriannya tidak diberi daftar penumpang dan awak pesawat. Lebih jauh mereka menyebut pengawasan keamanan untuk penerbangan yang dioperasikan maskapai asing berada di bawah wewenang Shin Bet dan badan intelijen luar negeri Mossad.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan kepala Dewan Keamanan Nasional untuk meninjau seluruh aspek keamanan terkait dengan penerbangan sipil asing ke Israel.
Di saat yang sama, otoritas Australia sedang menyelidiki hubungan kopilot tersebut dengan Australia. Sumber-sumber memberi tahu media lokal bahwa ia pernah menempuh pendidikan di sana antara tahun 2015 dan 2017.(dwi)
Baca juga: