Sains

Perubahan Suhu Drastis Bisa Bikin Kaca Pecah

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Jumat, 10 Maret 2023
Perubahan Suhu Drastis Bisa Bikin Kaca Pecah

Kaca bisa pecah ketika suhu tak menentu. (Foto: Unsplash/Michael)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

AKHIR-akhir ini cuaca sedang tidak menentu. Terkadang hujan deras berjam-jam, lalu tiba-tiba cerah, bahkan bisa amat terik hingga menusuk kulit. Perubahan cuaca yang sangat ekstrem ini ternyata dapat memengaruhi kondisi benda tertentu.

Menurut dermcare, kulitmu adalah bagian dari benda hidup yang memiliki tingkat sensitivitas tinggi. Saat cuaca panas, kulitmu akan menghasilkan banyak minyak dan pada saat dingin kulit akan menyerap minyak hingga meninggalkan kulit kering. Akan hal ini, sulit untukmu menjaga kompleksitas kulit agar seimbang dan tidak iritasi.

Baca Juga:

PLTS Atap Makin Diminati Pelaku Industri

Sama seperti kulit yang merupakan bagian dari benda hidup, kaca yang masuk ke dalam kategori benda mati pun dapat rusak jika terpapar dua temperatur berlawanan dalam waktu yang berdekatan atau bahkan bersamaan.

kaca yang masuk ke dalam kategori benda mati pun dapat rusak jika terpapar dua temperatur berlawanan. (Foto: Unsplash/Joel Filipe)

Contohnya saja saat terjadi kebakaran di suatu bangunan. Kaca jendela seringkali tiba-tiba pecah padahal tidak dipecahkan oleh pemadam kebakaran. Kondisi ini dinamakan thermal shock.

Seperti dilansir CORROSIONPEDIA, thermal shock atau kejutan termal adalah fenomena perubahan suhu yang cepat yang kemudian menghasilkan beban mekanis sementara pada suatu objek. Beban mekanis ini dapat menghasilkan pemuaian atau penyusutan pada suatu objek.

Baca Juga:

Energi Terbarukan Ramah Lingkungan, Pengganti Energi Fosil

Jika objeknya memiliki konduksi panas yang tinggi seperti logam, perubahan fisik karena suhu akan merata dan kemungkinan besar tidak akan terjadi kejutan termal. Ini tentu berbeda dari kaca yang sama rentannya dengan keramik, keduanya memiliki pengantar konduksi yang buruk, sehingga sangat mungkin untuk mengalami kejutan termal saat dihadapkan dengan perubahan suhu drastis.

Kaca bisa mengalami ekspansi diferensial yang menyebabkan keregangan. (Foto: Unsplash/Rob Wingate)

Saat berada di bawah tingkat kenaikan suhu yang cepat dan kenaikan suhu yang lebih kecil, kaca akan mengalami ekspansi diferensial yang menyebabkan keregangan. Ketika regangannya melebihi kekuatan tarik material, itu dapat menyebabkan retakan dan akhirnya menyebabkan kegagalan struktural alias pecah.

Maka dari itu, penting untuk mulai berhati-hati saat berada di dekat benda-benda yang merupakan konduktor panas yang buruk pada cuaca labil ini. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kejutan termal tak terduga yang bisa membahayakan nyawamu. (kmp)

Baca Juga:

Gedung Kampus UMN Paling Hemat Energi se-Asia Tenggara

#Sains
Bagikan
Ditulis Oleh

Ikhsan Aryo Digdo

Learner.

Berita Terkait

Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Indonesia
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto bertemu profesor dari 24 universitas top Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Kerja sama pendidikan hingga rencana bangun 10 kampus baru di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Fun
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Museum MACAN meluncurkan Water Turbine Project, program pendidikan seni kolaborasi dengan Grundfos Indonesia. Angkat isu air, lingkungan, dan keberlanjutan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 18 Desember 2025
Water Turbine Project: Inisiatif Pendidikan Seni Museum MACAN untuk Isu Air dan Lingkungan
Lifestyle
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Jejak-jejak yang sebagian berdiameter hingga 40 sentimeter itu tersusun sejajar dalam barisan paralel.
Dwi Astarini - Rabu, 17 Desember 2025
Ribuan Jejak Kaki Dinosaurus Ditemukan di Pegunungan Italia, Polanya Rapi bahkan Membentuk Pertahanan
Indonesia
Temui Jokowi di Solo, Dato Tahir Bocorkan Tanggal Peresmian Museum Sains dan Teknologi
Founder dan Chairman Mayapada Group, Dato Sri Tahir, menemui Jokowi di Solo. Ia mengatakan, Museum Sains dan Teknologi diresmikan Maret 2026.
Soffi Amira - Jumat, 12 Desember 2025
Temui Jokowi di Solo, Dato Tahir Bocorkan Tanggal Peresmian Museum Sains dan Teknologi
Bagikan