Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Tiga Ilmuwan Raih Hadiah Nobel Fisika, Berjasa dalam Komputasi Kuantum

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 08 Oktober 2025
Tiga Ilmuwan Raih Hadiah Nobel Fisika, Berjasa dalam Komputasi Kuantum

Tiga Ilmuwan Raih Hadiah Nobel Fisika, Berjasa dalam Komputasi Kuantum.(foto: Instagram @nobelprize)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — TIGA ilmuwan ditetapkan sebagai penerima Hadiah Nobel Fisika tahun ini. John Clarke, Michel H Devoret, dan John M Martinis dianugerahi Hadiah Nobel atas penelitian mereka di bidang mekanika kuantum yang membuka jalan bagi lahirnya generasi baru komputer superkuat.

“Tidak ada teknologi canggih yang digunakan saat ini yang tidak bergantung pada mekanika kuantum, termasuk ponsel, kamera, dan kabel serat optik,” kata Komite Nobel dalam pengumuman mereka.

Pengumuman penghargaan dilakukan Royal Swedish Academy of Sciences dalam konferensi pers di Stockholm, Swedia. “Secara halus bisa dikatakan, ini kejutan terbesar dalam hidup saya,” ujar Profesor John Clarke, yang lahir di Cambridge, Inggris, dan kini bekerja di University of California, Berkeley, dikutip BBC.

Michel H Devoret, yang lahir di Paris, Prancis, merupakan profesor di Yale University, sedangkan John M Martinis mengajar di University of California, Santa Barbara. Ketiganya akan berbagi hadiah sebesar 11 juta krona Swedia (sekitar Rp 17 miliar).

Baca juga:

Netanyahu Sebut Nominasikan Donald Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian, begini Peluang Terpilihnya



Eksperimen nan Mengubah Dunia



Komite Nobel mengakui penelitian terobosan yang dilakukan ketiga ilmuwan itu dalam serangkaian eksperimen pada 1980-an terkait dengan sirkuit listrik, khususnya dalam penemuan tunneling kuantum makroskopik dan kuantisasi energi dalam sirkuit listrik.

Meski terdengar rumit, penemuan tersebut memiliki dampak besar dan luas. Banyak perangkat elektronik modern yang bergantung pada penemuan tersebut. Hasil penelitian itu kini menjadi dasar dalam pengembangan komputer kuantum. “Ini merupakan sesuatu yang mengarah pada pengembangan komputer kuantum. Banyak orang yang kini bekerja di bidang tersebut, dan penemuan kami menjadi dasarnya dalam banyak hal,” ujar Clarke.

Ia mengaku terkejut bahwa pekerjaannya empat dekade lalu kini dianggap layak untuk penghargaan paling bergengsi di dunia sains. “Saya benar-benar terpana. Saat itu, kami sama sekali tidak menyangka bahwa penelitian ini bisa menjadi dasar bagi Hadiah Nobel,” katanya.

Mekanika kuantum mempelajari perilaku partikel sangat kecil di dunia subatomik, seperti elektron. Clarke dan timnya meneliti bagaimana partikel-partikel ini tampak melanggar hukum fisika klasik, misalnya dengan menembus penghalang energi yang secara teori tidak mungkin dilewati. Fenomena ini disebut tunneling kuantum.

Dengan efek tunneling ini, elektron mampu menyelusup melalui penghalang energi. Penelitian mereka menunjukkan fenomena ini dapat direplikasi bukan hanya di dunia kuantum, melainkan juga dalam sirkuit listrik di dunia nyata.

Pengetahuan ini kemudian dimanfaatkan untuk menciptakan cip kuantum modern. “Ini menjadi kabar luar biasa dan sangat pantas,” ujar Profesor Lesley Cohen, Associate Provost di Departemen Fisika Imperial College London.

“Penelitian mereka telah meletakkan dasar bagi pengembangan qubit superkonduktor, salah satu teknologi utama dalam perangkat keras komputasi kuantum,” imbuhnya.(dwi)

Baca juga:

Dua Ilmuwan Pencipta Jaringan Saraf Tiruan Raih Hadiah Nobel Fisika

#Sains #Hadiah Nobel #Penghargaan Nobel Fisika
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Dunia
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Spesies asli Floreana, 'Chelonoidis niger niger', punah pada 1840-an karena pelaut mengambil mereka dari pulau tersebut untuk sumber makanan dalam pelayaran.
Dwi Astarini - Senin, 23 Februari 2026
Kura-Kura Raksasa Kembali ke Pulau Galapagos, Pernah Punah Hampir 200 Tahun
Dunia
Warga Korea Selatan Dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian, Bersatu Bela Demokrasi atas Darurat Militer
Ini menjadi sebuah gestur yang oleh para akademisi disebut sebagai pengakuan tegas atas ketahanan demokrasi negara tersebut.
Dwi Astarini - Jumat, 20 Februari 2026
Warga Korea Selatan Dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian, Bersatu Bela Demokrasi atas Darurat Militer
Indonesia
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Presiden Prabowo Subianto bertemu profesor dari 24 universitas top Inggris yang tergabung dalam Russell Group. Kerja sama pendidikan hingga rencana bangun 10 kampus baru di Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 22 Januari 2026
Temui Profesor Oxford hingga Imperial College, Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru di Indonesia
Bagikan