Sains

Penyu Raksasa Pernah Hidup di Bumi

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2020
Penyu Raksasa Pernah Hidup di Bumi

Ilustrasi Stupendemys geographicus. (Foto: Jaime Chirinos, Science Advances)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEBAGAI salah satu hewan arkaik yang bertahan ratusan juta tahun di Bumi, penyu mengalami evolusi panjang. Hidup sekitar 13 hingga tujuh juta tahun yang lalu di Amerika Selatan, penyu ini dibentuk untuk peperangan.

Seperti dilansir Reuters dan CNN, fosil penyu yang dinamai Stupendemys geographicus ini pertama kali ditemukan pada 1976 oleh ahli paleontologi Roger Wood. Namun, fosil yang tidak lengkap membuatnya tak bisa mengidentifikasi ukuran dan bobotnya. Temuan fosil baru di Gurun Tatacoa, Kolombia, dan wilayah Urumaco di Venezuela mengungkap ukuran sebenarnya dari Stupendemys. Hewan purba itu ternyata memiliki panjang hingga 4 meter dan berat 1,25 ton.

BACA JUGA:

Di Masa Lalu, Paus Punya Empat Kaki

"Cangkangnya yang mengesankan membuat makhluk purba ini salah satu penyu terbesar, bahkan bisa jadi penyu terbesar yang pernah ada," kata Marcelo Sánchez-Villagra, peneliti senior studi dalam sebuah pernyataan.

Fosil baru itu tidak hanya memperlihatkan ukuran dan bobot. Para ilmuwan menemukan fitur-fitur unik sang penyu dari cangkang dan rahang bawah sang penyu. Stupendemys memiliki cangkang dengan tanduk raksasa di dekat leher. Tanduk itu berguna untuk membantu melindungi tengkorak besar sang jantan saat mereka bertarung dengan jantan lain. Betina tidak memiliki ciri ini.

penyu purba
Perbandingan ukuran antara manusia, penyu terbesar saat ini, dan Stupendemys. (Foto: twitter @Extinct_Animals)

Mengutip Reuters, Edwin Cadena, pemimpin studi, mengatakan perkelahian masih terjadi di antara penyu tertentu yang hidup hari ini terutama antarkura-kura jantan seperti snapping turtle (Chelydridae). Pada spesies itu, sesama jantan sering berkelahi untuk menunjukkan dominasi di wilayah yang tumpang tindih.

Hal yang membuat peneliti gembira ialah penemuan rahang bawah Stupendemys. "Ini merupakan sesuatu yang telah kami cari-cari dan tunggu-tunggu selama beberapa dekade," ucap Cadena kepada CNN.

CNN melaporkan penemuan rahang bawah itu membantu mengisi informasi lain tentang kura-kura ini dengan memberikan gambaran yang lebih baik tentang diet mereka. Cadena mengatakan memakan berbagai jenis ikan, buaya, ular, dan moluska. Mereka bahkan mampu membuka benih dengan tulang rahang bawah mereka yang besar.

stupendous turtle.

Happy #FossilFriday! Meet Stupendemys geographicus, the It’s one of the largest turtles to have ever existed & it lived during the Late Miocene some 5 million years ago. It's a pleurodire, or side-necked turtle, closely related to the living Podocnemis genus. pic.twitter.com/W1egcCMfQM — American Museum of Natural History (@AMNH) January 17, 2020

Walau beberapa orang percaya Stupendemys ialah penyu terbesar, sepertinya Stupendemys hanya memiliki cangkang terbesar di antara semua penyu. Penyu terbesar yang pernah hidup di Bumi ialah Archelon. Raksasa itu hidup sekitar 70 juta tahun yang lalu pada akhir zaman dinosaurus. Panjangnya mencapai sekitar 4,6 meter.

Pengetahuan yang lebih banyak tentang penyu raksasa ini telah membantu para peneliti mengklarifikasi evolusi penyu dan menentukan bahwa kerabat terdekat Stupendemys ialah penyu berkepala besar dari sungai Amazon. Meskipun ukurannya 100 kali lebih kecil, pola makan mereka serupa.

"Penemuan ini juga membantu kami untuk lebih memahami evolusi penyu Amerika Selatan bagian utara dan bagaimana mereka berinteraksi dengan hewan raksasa lain yang hidup di wilayah ini sekitar 13 juta tahun yang lalu," ucap Cadena kepada CNN.(Lev)

BACA JUGA:

Idap Penyakit Langka, Perempuan Muda Tak Bisa Kenali Wajah Sendiri di Cermin

#Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan
Melalui ekspedisi Project Pressure, ia berupaya mendokumentasikan sisa-sisa gletser tropis Papua yang terus menyusut akibat perubahan iklim.
Dwi Astarini - 1 jam, 41 menit lalu
Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan
Dunia
Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal kritis dan dapat lenyap pada 2075.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
 Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Lifestyle
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Wahana penjelajah NASA, Volatiles Investigating Polar Exploration Rover (VIPER), dijadwalkan untuk memulai misi ke wilayah kutub selatan bulan pada 2027.
Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Bagikan