Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam

Dwi AstariniDwi Astarini - 53 menit lalu
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam

Gletser di dataran tinggi Tibet d China mencair lebih cepat.(foto: pexels-julia-volk)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — GLETSER-gletser di Swiss mengalami rekor kehilangan es yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya pada 2026. Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen. Lebih daripada 5 persen sisa es gletser di negara tersebut telah lenyap dalam 12 bulan terakhir. Para ilmuwan disebut sebagai hal yang ‘luar biasa’.

Para ilmuwan kemudian memperingatkan bahwa pencairan secepat ini bukan lagi hal yang mengejutkan mengingat laju perubahan iklim saat ini. Hal tersebut dapat mengancam pasokan air untuk pertanian, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan transportasi dalam beberapa dekade mendatang.

Selain itu, kehilangan es gletser juga dapat merusak stabilitas lereng gunung dan meningkatkan risiko tanah longsor di beberapa tempat. Dalam kasus ekstrem, hal itu dapat memicu banjir bandang, seperti yang terjadi di Nepal pada Agustus.

Baca juga:

Perdana Menteri Nepal Sebut Banjir Bandang Peringatan bagi Dunia, Desak Kerja Sama Global untuk Hadapi Krisis



Laju Pencairan Amat Cepat



Temuan penting dari laporan terbaru ini bukan sekadar menyusutnya gletser di Swiss—hal yang memang sudah diperkirakan dalam iklim kita yang kian memanas, yang dipicu terutama oleh emisi bahan bakar fosil—melainkan juga laju pencairannya yang begitu cepat.

Hingga baru-baru ini, para ahli gletser (glaciologist) di wilayah Alpen menganggap kehilangan 2 persen es dalam satu tahun sebagai tingkat yang ‘ekstrem’. Namun tahun ini, sebanyak 5,5 persen es diperkirakan telah hilang.

"Ini benar-benar mengenaskan," kata Dr Matthias Huss, Direktur Glacier Monitoring Switzerland, lembaga yang menyusun laporan tersebut, dikutip BBC.

Gletser di Swiss memulai musim panas dalam kondisi yang memang sudah sulit, tertutup lebih sedikit salju daripada biasanya setelah melewati musim dingin yang hangat. Sebagian besar salju tersebut pun lenyap dengan cepat akibat gelombang panas yang datang lebih awal dan intens pada Mei dan Juni sehingga mengekspos es gletser di bawahnya. Es yang terbuka berwarna lebih gelap dan kurang memantulkan cahaya ketimbang salju segar. Akibatnya, es itu menyerap lebih banyak energi matahari.

Hal itu membuat gletser menjadi kian rentan untuk mencair lebih cepat pada gelombang panas berikutnya.

"Sepuluh tahun yang lalu, saya tidak akan pernah mengira gletser bisa hilang secepat ini," kata Dr Fabien Maussion, seorang ahli gletser dari University of Bristol yang tidak terlibat dalam laporan Swiss tersebut.

Maussion menyebut apa terjadi sepanjang musim panas ini sangat mengerikan. “Namun, pada saat yang sama, hal itu sudah dapat diprediksi dari sudut pandang ilmuwan iklim," tambahnya.

Baca juga:

Demi 151 Nyawa Tragedi Kanjuruhan, John Herdman Bakar Semangat Garuda Tampil Beringas Habisi Bangladesh!



Sumber Penting untuk Irigasi




Air lelehan gletser bisa menjadi sumber air penting untuk irigasi, PLTA, dan bahkan lalu lintas pelayaran selama kondisi cuaca panas dan kering. Para ilmuwan memperkirakan bahwa gletser di Swiss melepaskan 2,2 triliun liter air lelehan antara Juli dan September.

Meskipun hal itu membantu meringankan kekurangan air pada musim panas ini, pasokan es yang membeku tersebut makin menipis dengan cepat. Huss memperingatkan kehilangan es dapat menimbulkan tantangan jangka panjang karena gletser yang makin kecil tidak akan mampu menambah pasokan air ke tingkat yang sama.

"Setiap tetes air yang mengalir selama gelombang panas ini merupakan semacam air tua yang telah tersimpan di dalam es gletser selama bertahun-tahun atau berabad-abad lalu. Air itu membantu kita (sekarang), tetapi ini tidak berkelanjutan, jadi kita tidak akan memilikinya lagi pada gelombang panas berikutnya,” kata Huss.

Sungai Rhine mencapai titik terendah sepanjang sejarah di beberapa tempat pada musim panas ini, yang memengaruhi rute navigasi pelayaran dan meningkatkan biaya transportasi.




Temuan yang Mencemaskan





Salah satu temuan yang paling mencemaskan yakni apa yang diamati para peneliti di titik pengamatan pada elevasi tertinggi, tempat suhu berada pada titik terendah dan gletser biasanya tertutup salju.

Di ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut, para ilmuwan bahkan tidak menemukan sisa salju di akhir musim panas.

"Di beberapa gletser, kami melihat kehilangan es hingga empat meter di titik tertinggi, tempat yang seharusnya tertutup salju musim dingin setebal beberapa meter pada waktu-waktu seperti ini," kata Huss.

Salju ibarat makanan bagi gletser, dan dalam kondisi stabil, sebagian darinya lambat laun akan memadat menjadi es. Namun, jika tidak ada salju yang tersisa setelah musim panas, salju tersebut tidak dapat menggantikan es yang hilang akibat pencairan di elevasi yang lebih rendah dan lebih hangat. Gletser akan kelaparan, menyusut, dan akhirnya lenyap.

"Gletser itu kompleks karena massa es bertambah di bagian atas dan mengalir ke bawah, jadi ada banyak proses fisika di sana. Namun, dalam bentuknya yang paling sederhana, apa yang kita lihat sekarang adalah seperti mengambil es batu dari dalam kulkas dan es itu mencair begitu saja di depan mata kita,” jelas Maussion.



Iklim makin Hangat, Gletser Susah Bertahan Hidup





Para ilmuwan mengatakan iklim saat ini sudah terlalu hangat bagi banyak gletser Alpen untuk dapat bertahan hidup. Beberapa di antaranya, seperti Plattalva di Swiss timur, bahkan telah lenyap sama sekali.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa pemotongan emisi karbon secara drastis masih dapat menyelamatkan sebagian besar es gletser dunia. Hal ini terutama berlaku untuk kawasan Himalaya dan wilayah kutub, tempat sebagian besar es bumi berada.

"Di sanalah kita masih bisa membuat perubahan besar dengan melindungi iklim. Jika massa es ini dapat diselamatkan atau distabilkan, kita dapat membatasi kenaikan permukaan air laut global, yang dapat berdampak pada miliaran orang yang tinggal di sepanjang pesisir,” ujar Huss.(dwi)

Baca juga:

Bumi makin Panas, Gletser China Menyusut 26 Persen Mengancam Sumber Air Dunia

#Sains #Swiss #Gletser
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - 53 menit lalu
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Olahraga
Kartu Merah Konyol Breel Embolo Menjadi Taktik Licik Berujung Petaka Saat Argentina vs Swiss
Padahal, semenit sebelumnya, penyerang sayap Swiss Dan Ndoye baru saja mencetak gol penyama kedudukan menjadi 1-1
Angga Yudha Pratama - Minggu, 12 Juli 2026
Kartu Merah Konyol Breel Embolo Menjadi Taktik Licik Berujung Petaka Saat Argentina vs Swiss
Olahraga
Hasil Argentina vs Swiss Piala Dunia 2026: Julian Alvarez dan Lautaro Martinez Singkirkan 10 Pemain Rossocrociati
Sihir kapten Lionel Messi mengawali keunggulan Argentina lewat skema sepak pojok akurat pada babak pertama
Angga Yudha Pratama - Minggu, 12 Juli 2026
Hasil Argentina vs Swiss Piala Dunia 2026: Julian Alvarez dan Lautaro Martinez Singkirkan 10 Pemain Rossocrociati
Olahraga
Prediksi Argentina Vs Swiss: Pertahanan Messi Dkk Masih Punya Kelemahan, Skor Akhir Bisa Mengejutkan
Argentina menghadapi Swiss di perempat final Piala Dunia 2026. Messi dkk difavoritkan, namun pertahanan rapuh bisa dimanfaatkan Swiss. Simak prediksi skor, statistik, dan susunan pemain.
Wisnu Cipto - Sabtu, 11 Juli 2026
Prediksi Argentina Vs Swiss: Pertahanan Messi Dkk Masih Punya Kelemahan, Skor Akhir Bisa Mengejutkan
Olahraga
Swiss Pulangkan Kolombia Lewat Babak Tos-tosan, Tantang Messi dkk di Perempat Final
Swiss menyingkirkan Kolombia 4-3 lewat adu penalti di 16 besar Piala Dunia 2026. Gregor Kobel jadi pahlawan. Swiss akan menghadapi Argentina di perempat final.
Wisnu Cipto - Rabu, 08 Juli 2026
Swiss Pulangkan Kolombia Lewat Babak Tos-tosan, Tantang Messi dkk di Perempat Final
Olahraga
Jadwal Piala Dunia 2026 Babak 16 Besar 5-8 Juli: Semua Laga dan Link Streaming Resmi Gratis
Jadwal lengkap Piala Dunia 2026 babak 16 besar 5, 6, 7, 8 Juli 2026, lengkap jam tayang, duel Brasil, Inggris, Spanyol, Argentina dan link streaming resmi.
ImanK - Sabtu, 04 Juli 2026
Jadwal Piala Dunia 2026 Babak 16 Besar 5-8 Juli: Semua Laga dan Link Streaming Resmi Gratis
Olahraga
Prediksi Swiss vs Aljazair Piala Dunia 2026: Rekor Buruk 88 Tahun Murat Yakin Hantui Vancouver
Secara keseluruhan, peluang kelolosan Swiss mencapai 63,75 persen berbanding 36,25 persen milik Aljazair
Angga Yudha Pratama - Kamis, 02 Juli 2026
Prediksi Swiss vs Aljazair Piala Dunia 2026: Rekor Buruk 88 Tahun Murat Yakin Hantui Vancouver
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Bagikan