Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun

Dwi AstariniDwi Astarini - 2 jam, 29 menit lalu
 Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun

Ilustrasi terumbu karang.(Foto: pexels-andromeda)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — EKOSISTEM terumbu karang dunia hampir semuanya menghadapi risiko tinggi mengalami keruntuhan dalam 50 tahun medndatang. Sebagian besar keruntuhan itu disebabkan pemanasan samudra dan gelombang panas. Demikian diungkap penilaian global yang dirilis pada Kamis (22/10).

Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang diumumkan di sela-sela konferensi keanekaragaman hayati PBB di Albania, menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal sudah berada dalam kondisi kritis dan dapat lenyap pada 2075.

Sebagian besar sistem terumbu karang terkenal di dunia semuanya berada dalam kondisi terancam kritis dengan tingkat ancaman tertinggi. Terumbu karang itu termasuk termasuk Great Barrier Reef di Australia, Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) di Samudra Pasifik Barat dan Asia Tenggara, Sistem Terumbu Karang Penghalang Mesoamerika, serta terumbu karang Laut Merah.

“Risiko keruntuhan terumbu karang kian meningkat, tetapi ini harus menjadi pengingat untuk bertindak daripada menjadi alasan untuk berputus asa," kata Mishal Gudka, pemimipin ilmiah dari penilaian IUCN Red List of Coral Reef Ecosystems.

Baca juga:

Mangrove dan Terumbu Karang di Pulau Biawak Dirusak, KLH Dalami Dampak dan Langkah Perbaikan



Gudka menyebut terumbu karang telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk bangkit kembali dari peristiwa pemutihan (bleaching) yang merusak. “Kantung-kantung terumbu karang tangguh yang berhasil bertahan masih bisa ada di masa depan, jadi kita harus melakukan segala daya upaya untuk mendukung keberhasilan mereka,” jelasnya.

Terumbu Karang Vital bagi Lautan



Penilaian ini merupakan kabar buruk terbaru bagi terumbu karang, yang merupakan sumber penting bagi makanan laut dan pariwisata, serta sering berfungsi sebagai penyangga dari erosi pantai dan badai. Terumbu karang, yang acap dijuluki ‘hutan hujan di lautan’, memiliki beberapa keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Mereka menopang seperempat spesies laut serta masyarakat pesisir dan dunia usaha.

Ketika terumbu karang runtuh, karang keras lenyap dan digantikan ganggang, puing-puing, dan spons. Akibatnya, terumbu karang tidak lagi dapat menopang ekosistem yang beragam, yang dapat mencakup segala hal mulai dari invertebrata kecil hingga ikan karang seperti kerapu.

"Terumbu karang merupakan salah satu tanda vital paling jelas dari kesehatan lautan," kata Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar dalam sebuah pernyataan.

Penilaian tersebut, yang mencakup 127 wilayah ekologi (ecoregions) tropis dan subtropis serta meliputi 188.362 kilometer persegi terumbu karang secara global, menyebut perubahan iklim sebagai ancaman paling konsisten yang mendorong penurunan terumbu karang di seluruh dunia.

Perubahan Iklim Jadi Salah Satu Penyebab


Seminggu yang lalu, studi lain dalam jurnal Nature oleh IUCN menemukan hampir 44 persen spesies karang pembentuk terumbu menghadapi peningkatan risiko kepunahan akibat perubahan iklim. Setahun yang lalu, sebuah survei menemukan pemutihan karang yang berbahaya di dunia telah meluas hingga mencakup 84 persen terumbu karang di lautan. Itu merupakan paling intens dari jenisnya dalam sejarah yang tercatat.

Tahun 2024 merupakan masa terpanas di bumi yang pernah tercatat, dan sebagian besar dari panas tersebut masuk ke lautan. Suhu rata-rata permukaan laut tahunan di luar wilayah kutub mencapai rekor 20,87 derajat celsius.

Selain memerangi peningkatan emisi global, para ahli mengatakan upaya untuk mengurangi pencemaran, penangkapan ikan berlebihan (overfishing), dan pembangunan wilayah pesisir dapat membantu terumbu karang bertahan hidup.

"Kita tahu apa yang dibutuhkan: pengurangan emisi yang ambisius, upaya perlindungan dan pemulihan yang lebih kuat, serta investasi berkelanjutan pada ekosistem pesisir yang tangguh dan masyarakat yang bergantung padanya,” kata Aguilar.(dwi)

Baca juga:

Kerusakan Terumbu Karang Kepulauan Seribu Capai 60 Persen

#Sains #Terumbu Karang #Lingkungan Hidup Dan Kehutanan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal kritis dan dapat lenyap pada 2075.
Dwi Astarini - 2 jam, 29 menit lalu
 Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Lifestyle
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Wahana penjelajah NASA, Volatiles Investigating Polar Exploration Rover (VIPER), dijadwalkan untuk memulai misi ke wilayah kutub selatan bulan pada 2027.
Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Dunia
WWF Laporkan Harapan dalam Upaya Konservasi, Tuna Sirip Biru kembali Terlihat di Pantai Inggris
Organisasi konservasi satwa liar tersebut menyatakan kondisi alam masih berada dalam ‘kemerosotan tajam’. Namun, menyebut laporan ini membawa pesan harapan.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
WWF Laporkan Harapan dalam Upaya Konservasi, Tuna Sirip Biru kembali Terlihat di Pantai Inggris
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Lifestyle
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
PT Amerta Jiwa Indonesia mewujudkan misi pelestarian dengan menanam 1.500 bibit pohon di Gunung Gede Pangrango.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
RUU Kehutanan, Fraksi PKB Minta Pengelolaan Hutan Didasarkan Pasal 33 UUD
Pengelolaan kawasan hutan harus sepenuhnya berpedoman pada amanat Pasal 33 UUD 1945 untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dwi Astarini - Selasa, 21 Juli 2026
RUU Kehutanan, Fraksi PKB Minta Pengelolaan Hutan Didasarkan Pasal 33 UUD
Bagikan