Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos

Dwi AstariniDwi Astarini - 1 jam lalu
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos

Mars. (Foto: Unsplash/Daniele Colucci)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — SEBUAH wahana antariksa telah diluncurkan dari Jepang menuju bulan milik Mars, Phobos. Wahana itu akan mencoba mengambil sampel debu bulan tersebut dan membawanya kembali ke Bumi. Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.

Wahana antariksa tersebut dijadwalkan tiba di Phobos pada Agustus 2027.

Misi Mars Moons Exploration (MMX), yang dipimpin Badan Antariksa Jepang (JAXA), diharapkan dapat memecahkan misteri tentang bagaimana bulan-bulan Mars terbentuk.

Prof Sara Russell dari Natural History Museum, yang menjabat wakil analisis sampel untuk misi MMX, mengatakan belum pernah ada misi yang berhasil pergi ke Phobos dan membawa pulang sedikit bagian darinya ke Bumi.

"Saya pikir ini misi yang sangat ambisius dan menyenangkan," ujarnya.

Baca juga:

Planet Mars Mulai Pamer Pesona Dekati Bumi, Catat Tanggal Penting Fenomena Langit Ini Biar Nggak Nyesel

Mempelajari 2 Bulan Mars: Phobos dan Deimos



Hanya ada tiga bulan di Tata Surya bagian dalam, yakni Bulan milik Bumi, dan dua bulan yang mengorbit Mars, yaitu Phobos dan Deimos. Kedua bulan Mars berukuran sangat kecil. Phobos berdiameter sekitar 20 km dan Deimos berdiameter sekitar 10 km. Bentuknya juga tidak beraturan, tampak sedikit menyerupai kentang antariksa.

Wahana antariksa MMX akan mempelajari Deimos saat tiba di lingkungan sekitar Mars, lalu akan berfokus pada Phobos.

Misi ini berencana mendaratkan sebuah rover (penjelajah) kecil untuk mengeksplorasi medan di sana. Itu bukanlah tugas yang mudah.

Russell mengatakan belum pernah ada orang yang mendaratkan rover di bulan sekecil itu. “Bulan itu sendiri tidak memiliki gravitasi yang besar. Namun, ia berada di sebelah planet sangat besar yang memiliki gravitasi jauh lebih tinggi. Hal tersebut membuatnya jauh lebih sulit untuk menempatkan rover di permukaannya,” jelasnya.

Rover tersebut akan mencari lokasi pendaratan sehingga wahana MMX sendiri nantinya dapat mendarat di permukaan Phobos. Setelah berada di permukaan, wahana tersebut akan meluncurkan lengan robotik dan dua alat pengambil sampel untuk mengambil debu bulan.

Material ini akan dimasukkan ke kapsul kecil yang akan kembali ke Bumi pada 2031, yang mendarat di Gurun Woomera, Australia Selatan.

Baca juga:

Penemuan Baru Ungkap Penyebab Warna Planet Mars Merah, Berasal dari Air Dingin?

Sampel untuk Ungkap Asal-Usul Bulan Mars



Jumlah material yang dibawa kembali sangat sedikit, hanya sekitar 10 gram.

"Jumlahnya memang sangat sedikit. Namun, kami dapat melakukan beberapa penelitian bahkan pada butiran-butiran individual. Anda tidak perlu membawa kembali berkilo-kilo sampel dari permukaan hanya untuk melakukan sains. Jadi setiap gramnya sangatlah berharga ,” kata Dr Chrysa Avdellidou dari University of Leicester, yang bekerja sama dengan misi Jepang tersebut.

Para ilmuwan percaya bahwa sampel tersebut akhirnya akan mengungkap teka-teki asal-usul bulan-bulan Mars. Ada dua teori yang saling bersaing.

Pertama, sebuah batuan antariksa menghantam Mars pada masa awal sejarahnya, dan Phobos serta Deimos terbentuk dari puing-puing empasan tersebut.

Kedua, bulan-bulan tersebut merupakan dua asteroid pengelana dari Tata Surya bagian luar yang terperangkap oleh gravitasi Planet Merah.

"Ketika kami mendapatkan sampelnya kembali, kami akan dapat melihat secara detail komposisi kimia dan mineralnya. Kedua hipotesis tersebut akan menghasilkan keluaran yang sangat berbeda," kata Russell.

Menurutnya, hasil pengujian sampel batuan akan langsung memperlihatkan dengan jelas apakah itu hasil dari benturan dahsyat tersebut ataukah asteroid yang terperangkap. “Jadi kita akan mengetahuinya dengan sangat cepat,” imbuhnya.


Tim peneliti juga berharap ada bonus tambahan yang ikut terbawa kembali ke laboratorium mereka. "Salah satu hal yang sangat menarik yakni Phobos berada sangat dekat dengan permukaan Mars. Akibatnya, setiap kali ada benturan di permukaan Mars, butiran-butiran kecil dari Mars mungkin ikut tertanam di Phobos," ujar Russell.

Menurutnya, itu berarti sampel yang mereka dapatkan kembali sebenarnya juga bisa mengandung butiran-butiran dari Mars. “Jadi ini dapat memberi kita informasi yang sangat langsung mengenai komposisi dan sejarah Mars,” katanya.

Baca juga:

Tiga Negara Eksploitasi Planet Mars Bulan Juli ini

Ambisi Sampel Murni Mars



Membawa material dari Mars kembali ke Bumi telah lama menjadi ambisi para ilmuwan antariksa. Rover Perseverance milik NASA, yang telah mengeksplorasi Mars sejak 2021, telah mengumpulkan sampel-sampel di Mars secara hati-hati dan menyimpannya dalam tabung (canister).

Namun, misi kedua NASA/ESA yang dinamakan Mars Sample Return, yang seharusnya mengambil dan mengembalikan tabung-tabung tersebut, secara efektif telah dibatalkan setelah pendanaannya dihentikan Kongres AS.

Tiongkok berencana melakukan misi pengambilan sampelnya sendiri ke Mars, yang dijadwalkan meluncur pada 2028. Misi ini akan mencoba mengembalikan material Mars ke Bumi pada 2031.

Beberapa fragmen Planet Merah sebenarnya telah ada di Bumi dalam bentuk meteorit Mars. Itu merupakan potongan-potongan Mars yang terlempar dari permukaannya akibat hantaman asteroid, dan akhirnya terlempar ke arah Bumi.

Meteorit Mars sangat langka. Namun, seperti halnya semua batuan antariksa yang jatuh ke planet kita, mereka langsung terkontaminasi begitu tiba di sini, bercampur dengan udara, debu, tanah, dan air.

Para ilmuwan sangat mendambakan untuk mendapatkan sampel langsung dari Mars dan bulan-bulannya karena sampel tersebut akan berada dalam kondisi yang murni (pristine).(dwi)

Baca juga:

Fakta Menarik Tentang Planet Mars

#Planet Mars #Antariksa #Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - 1 jam lalu
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Dunia
Planet Mars Mulai Pamer Pesona Dekati Bumi, Catat Tanggal Penting Fenomena Langit Ini Biar Nggak Nyesel
Mau tahu cara melihat fenomena Bulan dan Mars yang langka di bulan Oktober ini? Cek jadwal lengkap dan tips mengamatinya di sini!
Angga Yudha Pratama - Selasa, 06 Oktober 2026
Planet Mars Mulai Pamer Pesona Dekati Bumi, Catat Tanggal Penting Fenomena Langit Ini Biar Nggak Nyesel
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Indonesia
Fenomena Langit September: Jadwal Lengkap Melihat Planet dari Venus hingga Cincin Saturnus
Penasaran ada apa di langit malam bulan ini? Cek panduan lengkap jadwal melihat planet September! Mulai dari Venus yang meredup di ufuk barat hingga pesona cincin Saturnus yang makin benderang
Angga Yudha Pratama - Rabu, 02 September 2026
Fenomena Langit September: Jadwal Lengkap Melihat Planet dari Venus hingga Cincin Saturnus
Dunia
Roket Long March 7A China Gagal Sentuh Orbit Bumi, Satelit ChinaSat-4B Hancur Berkeping-keping
Peluncuran roket Long March 7A milik China yang membawa satelit ChinaSat-4B berakhir gagal akibat anomali penerbangan di Hainan
Angga Yudha Pratama - Selasa, 11 Agustus 2026
Roket Long March 7A China Gagal Sentuh Orbit Bumi, Satelit ChinaSat-4B Hancur Berkeping-keping
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Hujan Meteor Perseid 2026: Waktu Terbaik dan Cara Mengamatinya dari Indonesia
Momen tahun ini terasa makin spesial karena puncaknya bertepatan dengan fase bulan baru
Angga Yudha Pratama - Kamis, 30 Juli 2026
Hujan Meteor Perseid 2026: Waktu Terbaik dan Cara Mengamatinya dari Indonesia
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Bagikan