Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan

Dwi AstariniDwi Astarini - 50 menit lalu
Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan

Pegunungan Carstensz dijuluki puncak abadi es dikabarkan akan meleleh. (Foto: bbc)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - DI tengah bentang alam tropis Papua yang diselimuti hutan hujan dan udara lembap, keberadaan gletser mungkin terdengar seperti sesuatu yang sulit dipercaya. Namun, di ketinggian Pegunungan Carstensz, tepatnya di Puncak Jaya, lapisan es abadi pernah menjadi bagian dari lanskap yang bertahan selama ribuan tahun. Kini, keberadaannya perlahan terancam dan diperkirakan akan segera menjadi bagian dari sejarah.


Kondisi tersebut mendorong Klaus Thymann, penjelajah sekaligus pembuat peta asal Denmark, untuk kembali menapakkan kaki di kawasan Puncak Carstensz pada akhir 2025. Melalui ekspedisi Project Pressure, ia berupaya mendokumentasikan sisa-sisa gletser tropis Papua yang terus menyusut akibat perubahan iklim.


Salah satu sasaran utama ekspedisi ini ialah East Northwall Firn, lapisan es yang masih bertahan di kawasan pegunungan tersebut. Bagi Thymann, perjalanan ini bukan sekadar upaya menjangkau puncak tertinggi di Indonesia, melainkan kesempatan untuk merekam jejak es yang mungkin tidak akan bertahan lebih lama lagi.


Namun, mencapai lokasi gletser bukan perkara mudah. Kondisi keamanan di Papua membuat akses menuju kawasan pegunungan tersebut terbatas. Tim ekspedisi harus menggunakan helikopter untuk mencapai base camp di Lembah Kuning, yang berada pada ketinggian sekitar 4.200 meter di atas permukaan laut.

Baca juga:

BNPB Kerahkan Modifikasi Cuaca untuk Tekan Karhutla Papua Selatan


Menurut laporan BBC News Indonesia, Thymann bahkan harus menunggu lebih dari sepekan di Timika sebelum memperoleh kesempatan terbang menuju kawasan Carstensz. Setibanya di base camp, perjalanan kembali tertunda karena tim harus menunggu cuaca yang memungkinkan sekaligus mendapatkan izin keamanan untuk melanjutkan ekspedisi.
Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat urgensi yang lebih besar: merekam keberadaan gletser sebelum semuanya benar-benar menghilang.


Sebagai salah satu kawasan dengan gletser tropis yang sangat langka, Papua menyimpan catatan penting mengenai perubahan iklim bumi. Sejak 1980, wilayah ini dilaporkan telah kehilangan empat dari enam lapisan es permanennya seiring meningkatnya suhu global.
Ancaman tersebut kini semakin nyata. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan es abadi di Puncak Jayawijaya akan mencair sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027.


“Sulit dipercaya, tapi mungkin kita ialah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia,” tulis BMKG melalui media sosialnya pada Juli lalu.


Prediksi itu sejalan dengan kekhawatiran Thymann terhadap masa depan gletser Papua. Dalam laporan The Guardian, ia menyebut hilangnya es bukan lagi persoalan apakah hal itu akan terjadi, melainkan kapan waktunya tiba.

Es itu akan hilang, bukan soal apakah akan hilang, melainkan soal kapan.

Klaus Thymann, penjelajah sekaligus pembuat peta asal Denmark

Bagi kebanyakan orang, gletser mungkin lebih lekat dengan kawasan kutub atau pegunungan bersalju di belahan bumi utara. Padahal, fenomena alam ini juga dapat ditemukan di sejumlah wilayah tropis, seperti Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Afrika Timur, hingga Papua. Keberadaan es di tengah lingkungan tropis menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah suhu udara, tetapi juga perlahan menghapus bentang alam yang selama ini dianggap abadi.


Ketika gletser Papua mencair, dunia bukan hanya kehilangan lanskap yang unik. Lapisan es tersebut juga menyimpan rekaman sejarah iklim bumi yang terbentuk selama ribuan tahun. Kehilangannya berarti hilangnya sebagian arsip alam yang tidak mungkin dipulihkan kembali.
Melalui Project Pressure, Thymann berusaha memastikan bahwa jejak tersebut tetap dapat dipelajari meski esnya kelak sudah tidak ada. Dokumentasi visual dan data ilmiah yang dikumpulkan dalam ekspedisi ini akan menjadi arsip bagi peneliti, pemerintah, serta generasi mendatang.


Salah satu hasil penting dari perjalanan tersebut yakni pemetaan tiga dimensi gletser yang tersisa. Model ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengamati perubahan luas dan volume es dari waktu ke waktu, sekaligus membantu memahami seberapa cepat gletser Papua menuju kepunahannya.


Pada akhirnya, ekspedisi Thymann bukan semata perjalanan menuju puncak. Ia juga menjadi upaya merekam sesuatu yang perlahan menghilang dari hadapan manusia. Di antara pegunungan Papua, es abadi kini menyisakan pertanyaan tentang seberapa lama lagi generasi berikutnya masih dapat menyaksikan kehadirannya secara langsung.(Far)

Baca juga:

Bumi makin Panas, Gletser China Menyusut 26 Persen Mengancam Sumber Air Dunia

#Sains #Papua #Gletser
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan
Melalui ekspedisi Project Pressure, ia berupaya mendokumentasikan sisa-sisa gletser tropis Papua yang terus menyusut akibat perubahan iklim.
Dwi Astarini - 50 menit lalu
Klaus Thymann Petakan Gletser Terakhir Papua yang di Ambang Kepunahan
Indonesia
Karhutla di Papua Selatan Mulai Berkurang Berkat Modifikasi Cuaca
Upaya OMC memicu hujan di wilayah utara dan tengah Merauke, bagian selatan Boven Digoel, serta bagian selatan Mappi.
Dwi Astarini - Kamis, 29 Oktober 2026
Karhutla di Papua Selatan Mulai Berkurang Berkat Modifikasi Cuaca
Indonesia
Marinir Satgas Pengamanan Perbatasan RI-PNG Sita Senjata Diduga Milik KKB Yahukimo
Prajurit menemukan beberapa senapan angin tanpa laras, selongsong amunisi kaliber 5,56 milimeter dan 9 milimeter, gelang bermotif Bintang Kejora, kamera, dan telepon genggam rusak
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 29 Oktober 2026
Marinir Satgas Pengamanan Perbatasan RI-PNG Sita Senjata Diduga Milik KKB Yahukimo
Dunia
Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal kritis dan dapat lenyap pada 2075.
Dwi Astarini - Jumat, 23 Oktober 2026
 Ilmuwan Peringatkan Nyaris Semua Terumbu Karang Bisa Hilang dalam 50 Tahun
Lifestyle
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Wahana penjelajah NASA, Volatiles Investigating Polar Exploration Rover (VIPER), dijadwalkan untuk memulai misi ke wilayah kutub selatan bulan pada 2027.
Dwi Astarini - Kamis, 22 Oktober 2026
NASA Rencanakan Misi VIPER pada 2027, Cari Air di Bulan
Lifestyle
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Jika berhasil, ini akan menjadi kali pertama sampel dari Mars atau bulan-bulannya dikembalikan untuk dianalisis di laboratorium di Bumi.
Dwi Astarini - Rabu, 21 Oktober 2026
Misi Antariksa Meluncur ke Mars, Ambil Sampel dari Phobos
Indonesia
TNI Tembak Mati Komandan OPM di Maybrat, 2 Anak Buahnya Hanyut di Sungai
Personel TNI disebut mendapat serangan saat menjalankan operasi tersebut hingga terjadi aksi saling tembak.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
TNI Tembak Mati Komandan OPM di Maybrat, 2 Anak Buahnya Hanyut di Sungai
Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Indonesia
Pentolan OPM Dikabarkan Tewas Dalam Baku Tembak di Intan Jaya Papua Tengah
Saat peristiwa kontak senjata terjadi, Hermanus Hogajau-lah yang pertama kali menghujani Pasukan Timsus Yonif 315 Garuda dan Tim Taipur Koops TNI Habema di bawah kendali Kogabwilhan III
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Pentolan OPM Dikabarkan Tewas Dalam Baku Tembak di Intan Jaya Papua Tengah
Bagikan