MERAHPUTIH.COM — KEMBALINYA tuna sirip biru ke lepas pantai Inggris membawa kabar segar dalam langkah konservasi. Spesies dengan status populasi terancam ini telah kembali dalam jumlah besar di lepas pantai Inggris setelah sempat hampir lenyap dari perairan negara tersebut.
Dalam laporan utama terbaru dari WWF, kembalinya ikan predator berukuran raksasa ini disebut menjadi salah satu contoh pemulihan satwa liar. Menurut lembaga tersebut, Hal ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi benar-benar membuahkan hasil. Meski demikian, Living Planet Report 2026 juga menemukan bahwa populasi satwa liar yang dipantau di seluruh dunia telah merosot rata-rata sebesar 73 persen sejak 1970.
Organisasi konservasi satwa liar tersebut menyatakan kondisi alam masih berada dalam ‘kemerosotan tajam’. Namun, menyebut laporan ini membawa pesan harapan.
"Belum terlambat," ujar Mike Barrett, kepala penasihat ilmiah di WWF-UK, dikutip BBC.
Baca juga:
WWF Indonesia Kampanyekan Beyond Wildlife, Upaya Mengaungkan Aksi Penyelamatan Bumi
Harapan dalam Kembalinya Populasi Hewan
Inggris dulunya merupakan kawasan industri perikanan tuna yang besar. Namun, penangkapan ikan secara berlebihan (overfishing), baik terhadap tuna maupun ikan-ikan kecil yang menjadi mangsanya, menyebabkan spesies ini sebagian besar menghilang pada dekade 1960-an.
Laporan tersebut mengaitkan pemulihan tuna baru-baru ini dengan kerja sama internasional yang terpadu, termasuk pengurangan kuota penangkapan, pembatasan ukuran ikan, serta perlindungan area pemijahan, yang juga didukung kampanye dari konsumen, juru masak, dan pelaku usaha ritel.
Hannah Rudd, kepala bagian kelautan di Angling Trust, mengatakan hasil dari upaya ini berujung pada peningkatan populasi yang sangat pesat. "Menurut saya, tuna sirip biru merupakan contoh kasus emas yang membuktikan bahwa pengelolaan perikanan berhasil," ujarnya.
Laporan WWF ini turut menyoroti pemulihan spesies lain di berbagai belahan dunia, termasuk peningkatan populasi harimau liar sebesar lebih dari 70 persen, dari sekitar 3.200 ekor pada 2010 menjadi sekitar 5.700 ekor pada 2025.
Tahun lalu, penyu hijau menjadi penyu laut pertama yang status perlindungannya diturunkan dari ‘terancam punah’ (endangered) menjadi ‘risiko rendah’ (least concern). Penurunan status itu dicapai setelah 50 tahun upaya konservasi di sekitar 80 negara.
Jumlah gajah tercatat stabil atau bertumbuh di bagian selatan Afrika, salah satunya berkat undang-undang baru yang memberikan masyarakat lokal bagian dari pendapatan yang dihasilkan gajah, termasuk dari sektor pariwisata.
Barrett menyampaikan keberhasilan ini lahir dari tujuan yang jelas, rencana yang terukur, serta orang-orang yang percaya bahwa mereka dapat membawa perubahan. Laporan tersebut menyebutnya sebagai ‘sains tentang harapan’.
"Harapan itu berbeda dengan sekadar angan-angan. Harapan itu tidak pasif. Harapan ialah tentang tindakan nyata,” tegasnya.
Baca juga:
KKP dan WWF Perkuat Perlindungan Habitat Hiu dan Pari di Indonesia
Masih Banyak yang Perlu Dipulihkan
Namun, di balik berbagai keberhasilan individu tersebut, gambaran umum kondisi alam secara keseluruhan tetap memprihatinkan. Lewat kerja sama dengan Zoological Society of London, WWF memantau hampir 36.000 populasi dari sekitar 6.000 spesies mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi.
WWF memperkirakan populasi satwa liar yang dipantau secara global telah menyusut rata-rata 73 persen sejak 1970. Angka ini mengukur rata-rata perubahan ukuran populasi tersebut, bukan jumlah individu hewan yang lenyap. Sekitar separuh dari populasi yang dipantau berada dalam kondisi stabil atau bertumbuh, tetapi peningkatan tersebut kalah besar jika dibandingkan dengan penurunan di tempat lain.
Dr Katie Collins, kurator senior di Natural History Museum London, juga mengingatkan indeks ini belum mencakup sejumlah besar spesies penting lainnya karena hanya meneliti hewan vertebrata sehingga melewatkan tumbuhan, serangga, dan makhluk lain tempat mereka bergantung.
"Jika Anda kehilangan siput taman, Anda juga akan kehilangan burung song thrush," katanya memperingatkan. WWF menyatakan tindakan konservasi saja tidak cukup untuk membalikkan penurunan ini. Harus ada langkah nyata untuk mengatasi akar penyebabnya. Tekanan terbesar berasal dari sektor pertanian yang dapat merusak habitat alami satwa liar, serta pembakaran bahan bakar fosil untuk energi yang memicu perubahan iklim.
Organisasi tersebut mengkritik alokasi dana global yang dinilai salah sasaran. Laporan tersebut memperkirakan bahwa pada 2023, sekitar USD 7,3 triliun (sekitar Rp 130.670 triliun) mengalir ke aktivitas yang merusak alam, jika dibandingkan dengan hanya USD 220 miliar (Rp 3.520 triliun) yang diinvestasikan untuk melindungi atau memulihkannya. Perbandingan itu mencapai sekitar 33:1.
Barrett telah terlibat dalam penyusunan tujuh laporan Living Planet, tetapi ia menyebut baru kali ini pesan utama yang ingin disampaikan berfokus pada harapan.
"Fakta bahwa kajian sains masih menunjukkan adanya jalan keluar merupakan hal yang sangat luar biasa. Peluang ini memang semakin sempit, tetapi pintunya masih terbuka, asalkan kita bertindak sekarang juga,” tegasnya.(dwi)
Baca juga: