WWF Laporkan Harapan dalam Upaya Konservasi, Tuna Sirip Biru kembali Terlihat di Pantai Inggris

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
WWF Laporkan Harapan dalam Upaya Konservasi, Tuna Sirip Biru kembali Terlihat di Pantai Inggris

WWF rilis laporan terbarunya. (foto: dok/WWF)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — KEMBALINYA tuna sirip biru ke lepas pantai Inggris membawa kabar segar dalam langkah konservasi. Spesies dengan status populasi terancam ini telah kembali dalam jumlah besar di lepas pantai Inggris setelah sempat hampir lenyap dari perairan negara tersebut.

Dalam laporan utama terbaru dari WWF, kembalinya ikan predator berukuran raksasa ini disebut menjadi salah satu contoh pemulihan satwa liar. Menurut lembaga tersebut, Hal ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi benar-benar membuahkan hasil. Meski demikian, Living Planet Report 2026 juga menemukan bahwa populasi satwa liar yang dipantau di seluruh dunia telah merosot rata-rata sebesar 73 persen sejak 1970.

Organisasi konservasi satwa liar tersebut menyatakan kondisi alam masih berada dalam ‘kemerosotan tajam’. Namun, menyebut laporan ini membawa pesan harapan.

"Belum terlambat," ujar Mike Barrett, kepala penasihat ilmiah di WWF-UK, dikutip BBC.

Baca juga:

WWF Indonesia Kampanyekan Beyond Wildlife, Upaya Mengaungkan Aksi Penyelamatan Bumi

Harapan dalam Kembalinya Populasi Hewan



Inggris dulunya merupakan kawasan industri perikanan tuna yang besar. Namun, penangkapan ikan secara berlebihan (overfishing), baik terhadap tuna maupun ikan-ikan kecil yang menjadi mangsanya, menyebabkan spesies ini sebagian besar menghilang pada dekade 1960-an.

Laporan tersebut mengaitkan pemulihan tuna baru-baru ini dengan kerja sama internasional yang terpadu, termasuk pengurangan kuota penangkapan, pembatasan ukuran ikan, serta perlindungan area pemijahan, yang juga didukung kampanye dari konsumen, juru masak, dan pelaku usaha ritel.

Hannah Rudd, kepala bagian kelautan di Angling Trust, mengatakan hasil dari upaya ini berujung pada peningkatan populasi yang sangat pesat. "Menurut saya, tuna sirip biru merupakan contoh kasus emas yang membuktikan bahwa pengelolaan perikanan berhasil," ujarnya.

Laporan WWF ini turut menyoroti pemulihan spesies lain di berbagai belahan dunia, termasuk peningkatan populasi harimau liar sebesar lebih dari 70 persen, dari sekitar 3.200 ekor pada 2010 menjadi sekitar 5.700 ekor pada 2025.

Tahun lalu, penyu hijau menjadi penyu laut pertama yang status perlindungannya diturunkan dari ‘terancam punah’ (endangered) menjadi ‘risiko rendah’ (least concern). Penurunan status itu dicapai setelah 50 tahun upaya konservasi di sekitar 80 negara.

Jumlah gajah tercatat stabil atau bertumbuh di bagian selatan Afrika, salah satunya berkat undang-undang baru yang memberikan masyarakat lokal bagian dari pendapatan yang dihasilkan gajah, termasuk dari sektor pariwisata.

Barrett menyampaikan keberhasilan ini lahir dari tujuan yang jelas, rencana yang terukur, serta orang-orang yang percaya bahwa mereka dapat membawa perubahan. Laporan tersebut menyebutnya sebagai ‘sains tentang harapan’.


"Harapan itu berbeda dengan sekadar angan-angan. Harapan itu tidak pasif. Harapan ialah tentang tindakan nyata,” tegasnya.

Baca juga:

KKP dan WWF Perkuat Perlindungan Habitat Hiu dan Pari di Indonesia

Masih Banyak yang Perlu Dipulihkan



Namun, di balik berbagai keberhasilan individu tersebut, gambaran umum kondisi alam secara keseluruhan tetap memprihatinkan. Lewat kerja sama dengan Zoological Society of London, WWF memantau hampir 36.000 populasi dari sekitar 6.000 spesies mamalia, burung, ikan, reptil, dan amfibi.

WWF memperkirakan populasi satwa liar yang dipantau secara global telah menyusut rata-rata 73 persen sejak 1970. Angka ini mengukur rata-rata perubahan ukuran populasi tersebut, bukan jumlah individu hewan yang lenyap. Sekitar separuh dari populasi yang dipantau berada dalam kondisi stabil atau bertumbuh, tetapi peningkatan tersebut kalah besar jika dibandingkan dengan penurunan di tempat lain.

Dr Katie Collins, kurator senior di Natural History Museum London, juga mengingatkan indeks ini belum mencakup sejumlah besar spesies penting lainnya karena hanya meneliti hewan vertebrata sehingga melewatkan tumbuhan, serangga, dan makhluk lain tempat mereka bergantung.

"Jika Anda kehilangan siput taman, Anda juga akan kehilangan burung song thrush," katanya memperingatkan. WWF menyatakan tindakan konservasi saja tidak cukup untuk membalikkan penurunan ini. Harus ada langkah nyata untuk mengatasi akar penyebabnya. Tekanan terbesar berasal dari sektor pertanian yang dapat merusak habitat alami satwa liar, serta pembakaran bahan bakar fosil untuk energi yang memicu perubahan iklim.

Organisasi tersebut mengkritik alokasi dana global yang dinilai salah sasaran. Laporan tersebut memperkirakan bahwa pada 2023, sekitar USD 7,3 triliun (sekitar Rp 130.670 triliun) mengalir ke aktivitas yang merusak alam, jika dibandingkan dengan hanya USD 220 miliar (Rp 3.520 triliun) yang diinvestasikan untuk melindungi atau memulihkannya. Perbandingan itu mencapai sekitar 33:1.


Barrett telah terlibat dalam penyusunan tujuh laporan Living Planet, tetapi ia menyebut baru kali ini pesan utama yang ingin disampaikan berfokus pada harapan.


"Fakta bahwa kajian sains masih menunjukkan adanya jalan keluar merupakan hal yang sangat luar biasa. Peluang ini memang semakin sempit, tetapi pintunya masih terbuka, asalkan kita bertindak sekarang juga,” tegasnya.(dwi)

Baca juga:

Ikan Tuna Indonesia Mejeng di SENA 2024

#World Wide Fund For Nature (WWF) #Konservasi #Lingkungan Hidup Dan Kehutanan #Ikan Tuna
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Dunia
WWF Laporkan Harapan dalam Upaya Konservasi, Tuna Sirip Biru kembali Terlihat di Pantai Inggris
Organisasi konservasi satwa liar tersebut menyatakan kondisi alam masih berada dalam ‘kemerosotan tajam’. Namun, menyebut laporan ini membawa pesan harapan.
Dwi Astarini - Kamis, 08 Oktober 2026
WWF Laporkan Harapan dalam Upaya Konservasi, Tuna Sirip Biru kembali Terlihat di Pantai Inggris
Lifestyle
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
PT Amerta Jiwa Indonesia mewujudkan misi pelestarian dengan menanam 1.500 bibit pohon di Gunung Gede Pangrango.
Dwi Astarini - Rabu, 19 Agustus 2026
PT Amerta Jiwa Indonesia Tanam 1.500 Bibit Pohon di Gunung Pangrango, Wujudkan Misi Pelestarian Alam
Indonesia
RUU Kehutanan, Fraksi PKB Minta Pengelolaan Hutan Didasarkan Pasal 33 UUD
Pengelolaan kawasan hutan harus sepenuhnya berpedoman pada amanat Pasal 33 UUD 1945 untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dwi Astarini - Selasa, 21 Juli 2026
RUU Kehutanan, Fraksi PKB Minta Pengelolaan Hutan Didasarkan Pasal 33 UUD
Travel
Sah! Teluk Saleh NTB Sandang Status Area Konservasi Baru Hiu Paus
Teluk Saleh sah menjadi kawasan konservasi hiu paus seluas 73 ribu hektare, sekaligus mengunci arah pembangunan pariwisata berbasis ekosistem, bukan eksploitasi jangka pendek.
Wisnu Cipto - Kamis, 07 Mei 2026
Sah! Teluk Saleh NTB Sandang Status Area Konservasi Baru Hiu Paus
Indonesia
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Aktivis lingkungan, Arief Kamarudin mengatakan ia tidak pernah menganjurkan masyarakat untuk langsung turun tangan menangkap ikan sapu-sapu di perairan.
Dwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Lifestyle
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu
Arief bukanlah pengamat. Ia saksi hidup yang tumbuh bersama Ciliwung.
Dwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu
Fun
Kenal Lebih Dekat Kuda Laut, Singapore Oceanarium Luncurkan Program Baru
Singapore Oceanarium luncurkan tur Animal Spotlight: Seahorses. Pengunjung bisa melihat langsung kehidupan kuda laut dan belajar konservasi.
Ananda Dimas Prasetya - Minggu, 29 Maret 2026
Kenal Lebih Dekat Kuda Laut, Singapore Oceanarium Luncurkan Program Baru
Indonesia
Prabowo Ingin Bentuk Satgas Pendanaan Taman Nasional, DPR Ingatkan Fungsi Konservasi
Anggota DPR Daniel Johan menanggapi rencana Presiden Prabowo membentuk Satgas Pendanaan Taman Nasional. Tekankan fungsi konservasi jadi prioritas utama.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 13 Maret 2026
Prabowo Ingin Bentuk Satgas Pendanaan Taman Nasional, DPR Ingatkan Fungsi Konservasi
Indonesia
Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Penemuan seperti ini dikenal sebagai ‘lazarus taxon’, sebuah istilah yang terinspirasi dari tokoh dalam Alkitab yang dibangkitkan dari kematian.
Dwi Astarini - Jumat, 06 Maret 2026
 Dikira Punah 6.000 Tahun Lalu, Possum Kecil dan Glider Muncul di Papua Barat
Indonesia
Kemenhut Cabut Izin Lembaga Konservasi Bandung Zoo, Koleksi Satwa Diambil Alih Negara
Kemenhut mencabut izin YMT pengelola Kebun Binatang Bandung. Pemerintah pusat dan daerah ambil alih pengelolaan hingga ditetapkan pengelola baru.
Wisnu Cipto - Jumat, 06 Februari 2026
Kemenhut Cabut Izin Lembaga Konservasi Bandung Zoo, Koleksi Satwa Diambil Alih Negara
Bagikan