Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu

Dwi AstariniDwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu

Arief Kamarudin.(foto: Merahputih.com/Tika Ayu)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - BERBAGAI sampah tampak berserakan di sekitar Kali Ciliwung. Banyak lagi terlihat di dalam aliran kalinya. Kotor dan bau. Demikianlah kondisi Kali Ciliwung belakangan ini. Sebuah sungai yang identik dengan penuh masalah. Lewat mata Arief Kamarudin, wajah Ciliwung jauh lebih kompleks daripada kotor dan bau. Baginya, Ciliwung ialah tentang sampah, limbah, dan ikan sapu-sapu.

Arief bukanlah pengamat. Ia saksi hidup yang tumbuh bersama Ciliwung. Ia tumbuh remaja hingga dewasa di pinggir kali Ciliwung. Arief bercerita, saat remaja, ia akrab dengan aktivitas menjala di Sungai Ciliwung. Seiring waktu, ia mulai menyadari perubahan ekosistem yang perlahan terjadi.


“Awalnya saya cuma hobi ngejala. Namun, lama-lama kok yang didapat sapu-sapu terus,” katanya saat ditemui di Setu Babakan, (18/4)

Rasa penasaran itu membawanya pada pencarian panjang. Ia mulai mempelajari fenomena tersebut, berdiskusi dengan akademisi, hingga akhirnya memahami bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Namun, menurut Arief, menyalahkan ikan sapu-sapu saja tidak cukup. Ledakan populasi ikan sapu-sapu hanya secuplik dari puncak gunung es masalah Kali Ciliwung. Arief mengatakan permasalahannya lebih besar lagi, yakni pencemaran lingkungan yang sangat parah. Ia bercerita sampah dan limbah yang terus mengalir tanpa henti ke sungai hampir setiap periode banyak dan intens. Kedua hal itu menjadi akar kerusakan lingkungan, sedangkan ikan sapu-sapu hanyalah persoalan lanjutan di sebuah ekosistem yang sudah tidak sehat. “Semua harus dibereskan. Tapi kalau bicara prioritas, ya sampah dan limbah dulu,” tegasnya.

Arief mengaku kegiatannya membuat konten peduli lingkungan dimulai sejak 2019. Ia mulai aktif mengangkat isu lingkungan lewat siar konten digital. Dia menyadari bahwa saat itu, kegiatannya kurang menarik perhatian. Kesadaran untuk mulai fokus menyoroti dominasi Hypostomus plecostomus didasari rasa kesal hasil tebar jaringnya kerap disangkuti ikan sapu-sapu ketimbang ikan-ikan sungai yang bisa dikonsumsi.

"Karena saya hobi ngejala, terus karena ngejala dapat ikan sapu-sapu memulu gitu kan, pada akhirnya saya pelajari tuh, sapu-sapu. 'Kok di Kali Ciliwung banyak ikan sapu-sapu'," katanya.

Pada 2025, ketika pembahasan tentang ikan sapu-sapu viral, perhatiannya terhadap Ciliwung mulai dilirik publik luas. Di balik sorotan tersebut, aktivitasnya tidaklah mudah. Turun ke sungai bukan sekadar aksi simbolis, melainkan pekerjaan penuh risiko. “Air itu bukan domain kita. Bisa tenggelam, banyak benda tajam, limbah, bahkan ular berbisa,” ungkapnya.

Arief menyebut, dalam seminggu, ia bisa turun ke sungai hingga beberapa kali. Sekali turun, ia bisa menghabiskan waktu hingga tiga jam, bahkan lebih. Hasil tangkapannya pun tidak sedikit, bisa puluhan ekor ikan sapu-sapu dalam sekali aktivitas dan beratnya dan ukurannya luar biasa di atas rata-rata ikan sungai.

Baca juga:

Perburuan Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung: Mengatasi Spesies Invasif di Jakarta



Meski begitu, Arief tidak mendorong masyarakat untuk ikut menangkap ikan tersebut secara sembarangan. Ia justru lebih menekankan pentingnya kesadaran menjaga lingkungan. “Hal yang paling penting itu jangan buang sampah sembarangan. Jaga ekosistem dulu,” katanya.

Baginya, solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan memusnahkan ikan sapu-sapu. Ia kini tengah mencari cara agar ikan tersebut bisa dimanfaatkan, mulai dari penelitian kandungan hingga potensi dijadikan produk bernilai ekonomi. “Kalau cuma dimusnahkan, sampai kapan? Harus ada manfaatnya supaya bisa berkelanjutan,” jelasnya.

Aktivitasnya membersihkan Kali Ciliwung dari ikan sapu-sapu telah menarik perhatian publik. Akibatnya, banyak yang melabelinya aktivis hingga pahlawan lingkungan. Namun, bagi Arief label itu tidak penting. Alih-alih memanfaatkannya untuk popularitas, Arief memilih untuk konsen memanfaatkan previlese dari keviralan ini membangun relasi untuk penelitian, laiknya seperti apa pengolahan ikan sapu-sapu ini agar bisa bermanfaat bagi masyarakat dan punya nilai jual yang baik untuk lingkungan.

Ia menyebut melakukan semua ini atas kesadarannya sebagai bagian dari ekosistem di kawasan Kali Ciliwung itu sendiri. “Saya cuma orang biasa. Karena saya ngerasa Ciliwung itu rumah saya,” tuturnya.

Arief menyebut beberapa perubahan yang terjadi di Ciliwung selain bertambah banyaknya ikan invasif seperti ikan sapu-sapu yakni menghilangnya pancuran air. "Termasuk sumber mata air kali itu udah kering, karena mungkin air tanah sudah banyak disedot sama rumah-rumah, kan semakin banyak rumah kan," katanya.

Selain itu, debit sampah di sungai juga bertambah banyak serta kualitas airnya turun sehingga sangat tidak cocok untuk dijadikan sumber kebutuhan air rumah tangga. "Saya rasakan itu. Dulu kalau mandi di kali enggak gatal kayak sekarang. Kalau sekarang bisa dilihat ini, tangan saya udah pada buduk semua," katanya.

Baca juga:

Pemprov DKI Gandeng Bogor Basmi Ikan Sapu-sapu di Kali Ciliwung, Fokus dari Hulu

Ciliwung dari Masa ke Masa

Kali Ciliwung merupakan salah satu sungai penting bagi Kota Jakarta. Eksistensinya begitu penting bahkan sejak abad 10 saat masa kerajaan Pajajaran.

Seperti dilansir WWF, Kerajaan Pajajaran menggunakan Kali Ciliwung sebagai sarana transportasi utama dari ibu kota kerajaan di Pakuan menuju ke laut. Sungai sepanjang aliran 120 kilometer terhubung dari Gunung Gede hingga bermuara di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pada masa penjajahan Belanda, Sungai Ciliwung jadi sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari warga karena dibangunnya kanal buatan. Kegiatan ini sekaligus mengatasi permasalahan banjir dan kekeringan.

Sejak penjajahan Belanda berlangsung, kawasan bataran Sungai Ciliwung mulai ditinggali. Peningkatan pesat terjadi pada 1960-an seiring populasi di Jakarta meningkat pesat yang diikuti dengan okupasi lahan di bantaran Ciliwung sebagai hunian.(Tka)

Baca juga:

Pemkot Jakarta Pusat Keruk Bantaran Kali Ciliwung, Banyak Sampah dan Alirannya Mampet

#Aktivis Lingkungan #Lingkungan Hidup Dan Kehutanan #Ikan Sapu-sapu #Kali Ciliwung
Bagikan
Ditulis Oleh

Tika Ayu

Berita Terkait

Indonesia
Labkesda DKI Temukan Kandungan Logam Berat Timbal pada Ikan Sapu-Sapu Ciliwung
Selain protein, hasil uji laboratorium menunjukkan ikan sapu-sapu mengandung karbohidrat sebesar 9 persen
Angga Yudha Pratama - Jumat, 08 Mei 2026
Labkesda DKI Temukan Kandungan Logam Berat Timbal pada Ikan Sapu-Sapu Ciliwung
Berita Foto
TNI AL dan Pasukan Oranye Kompak Basmi Ikan Sapu-Sapu di Setu Babakan
Petugas gabungan dari TNI AL dan PPSU menangkap ikan sapu-sapu di kawasan Setu Babakan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Didik Setiawan - Selasa, 05 Mei 2026
TNI AL dan Pasukan Oranye Kompak Basmi Ikan Sapu-Sapu di Setu Babakan
Indonesia
Jakarta ‘Darurat’ Ikan Sapu-sapu, DPR Desak Kementerian Kesehatan dan BPOM Turun Tangan
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani menyoroti adanya potensi penyalahgunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku olahan pangan, seperti siomay atau cilok
Frengky Aruan - Minggu, 26 April 2026
Jakarta ‘Darurat’ Ikan Sapu-sapu, DPR Desak Kementerian Kesehatan dan BPOM Turun Tangan
Indonesia
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Aktivis lingkungan, Arief Kamarudin mengatakan ia tidak pernah menganjurkan masyarakat untuk langsung turun tangan menangkap ikan sapu-sapu di perairan.
Dwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Lifestyle
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu
Arief bukanlah pengamat. Ia saksi hidup yang tumbuh bersama Ciliwung.
Dwi Astarini - Jumat, 24 April 2026
Arief Kamarudin Kisahkan Kali Ciliwung, Sungai yang Menghidupi kini Penuh Sampah, Limbah, dan Invasi Ikan Sapu-Sapu
Berita
Dari Hama Jadi Cuan, Di Meksiko Ikan Sapu-Sapu Diolah Jadi Camilan Hewan
Start-up di Meksiko mengolah ikan sapu-sapu menjadi camilan hewan bernutrisi. Inovasi ini jadi solusi masalah lingkungan sekaligus peluang bisnis.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 23 April 2026
Dari Hama Jadi Cuan, Di Meksiko Ikan Sapu-Sapu Diolah Jadi Camilan Hewan
Indonesia
Pedagang Siomay Ikan Sapu-Sapu di Jaksel Dipantau 'Intel Pangan', Lokasi Berjualan Sedang Dipetakan
Selain mengawasi hilir atau pedagang, Pemkot Jaksel juga bergerak di hulu dengan mendistribusikan peralatan tangkap ke seluruh kecamatan
Angga Yudha Pratama - Kamis, 23 April 2026
Pedagang Siomay Ikan Sapu-Sapu di Jaksel Dipantau 'Intel Pangan', Lokasi Berjualan Sedang Dipetakan
Indonesia
Pakar IPB Ikut Kritik Cara Pemprov DKI Musnahkan Ikan Sapu-Sapu
Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi, bahkan ketika sudah tidak berada di dalam air.
Dwi Astarini - Rabu, 22 April 2026
Pakar IPB Ikut Kritik Cara Pemprov DKI Musnahkan Ikan Sapu-Sapu
Indonesia
Pemprov DKI Gandeng Bogor Basmi Ikan Sapu-sapu di Kali Ciliwung, Fokus dari Hulu
Pemprov DKI Jakarta menggandeng Bogor untuk membasmi ikan sapu-sapu. Populasi ikan tersebut kini makin mengkhawatirkan.
Soffi Amira - Rabu, 22 April 2026
Pemprov DKI Gandeng Bogor Basmi Ikan Sapu-sapu di Kali Ciliwung, Fokus dari Hulu
Indonesia
Pakar Lingkungan UI Ungkap Alasan Mengapa Ikan Sapu-Sapu Harus Segera Dikendalikan
Pemprov DKI Jakarta menerapkan kebijakan pemusnahan terkontrol dengan mengubur hasil tangkapan guna memutus rantai penyebaran
Angga Yudha Pratama - Rabu, 22 April 2026
Pakar Lingkungan UI Ungkap Alasan Mengapa Ikan Sapu-Sapu Harus Segera Dikendalikan
Bagikan