MerahPutih.com - Fenomena maraknya ikan sapu-sapu di Jakarta belakangan ini menjadi perhatian publik. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengingatkan bahwa persoalan ini tidak hanya berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
Ikan sapu-sapu yang hidup di perairan tercemar berisiko mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium.
“Zat ini dapat terakumulasi dalam tubuh ikan dan berbahaya jika masuk ke rantai konsumsi manusia,” ujar Netty kepada wartawan di Jakarta dikutip Minggu (26/4).
Ia menyoroti adanya potensi penyalahgunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku olahan pangan, seperti siomay atau cilok, oleh oknum yang tidak bertanggung jawab karena faktor biaya yang sangat murah.
“Ini yang harus diantisipasi secara serius. Kita tidak boleh menunggu sampai ada korban. Risiko kesehatan dari paparan logam berat bersifat jangka panjang dan sering tidak terdeteksi sejak awal,” tegasnya.
Baca juga:
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Untuk itu, Netty mendesak pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta pemerintah daerah untuk segera melakukan inspeksi lapangan secara menyeluruh terhadap jajanan dan produk pangan olahan, khususnya di wilayah Jakarta.
“Perlu ada pengawasan langsung di lapangan, termasuk pengujian sampel makanan dan penelusuran bahan baku. Ini penting untuk memastikan tidak ada bahan berbahaya yang masuk ke konsumsi masyarakat,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah untuk lebih serius memperbaiki kualitas sungai di Jakarta sebagai solusi jangka panjang.
“Kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar adalah gejala dari kondisi sungai yang tercemar. Selama kualitas air tidak diperbaiki, maka spesies invasif akan terus mendominasi dan ikan lokal akan semakin terdesak,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan telah melakukan penangkapan besar-besaran terhadap spesies invasif tersebut.
Pada 17 April 2026, petugas gabungan berhasil menangkap sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat mencapai 6,98 ton.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kemampuan bertahan hidup di lingkungan dengan kualitas air yang buruk dan cenderung mendominasi perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung.
Kondisi ini sekaligus menjadi sinyal menurunnya kualitas ekosistem sungai dan terdesaknya spesies ikan lokal. (Knu)