MERAHPUTIH.COM - NELAYAN ikan keramba jaring apung (KJA) di Kawasan perairan Waduk Kedung Ombo (WKO), khususnya di Desa Gilirejo Lama, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, mengeluhkan adanya invasi ikan sapu-sapu. Keberadaan ikan predator tersebut mengancam ikan milik nelayan dan merusak jaring hingga merugikan nelayan.
Salah satu nelayan WKO, Riyanto, mengatakan keberadaan ikan sapu-sapu di WKO perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Terlebih nelayan banyak yang menggantungkan hidup di WKO terancam rugi besar akibat ikan sapu-sapu.
"Masalah kerugian itu banyak dialami warga nelayan, biasanya menangkap dapatnya ikan nila dan lainnya, ini dapatnya ikan sapu-sapu,” kata Riyanto, Senin (10/8).
Ia mengatakan jaring nelayan sekali dapat ikan sapu-sapu harus dipotong dan jaring tidak bisa dipakai lagi dan harus diperbaiki. “Kami tidak bisa terus-terusan seperti ini karena modal nelayan habis hanya untuk perbaiki jaring,” kata dia.
Baca juga:
Tak Semua Orang Bisa Tangkap Ikan Sapu-Sapu di Kali Ciliwung, Arief Kamarudin Ingatkan Bahayanya
Dia berharap ada gerakan masif membersihkan waduk dari ikan sapu-sapu di WKO.
Anggota DPRD Sragen Nugroho Sulistyo mengatakan pihaknya turut prihatin masalah ikan sapu-sapu di WKO karena berdampak pada ekonomi warga Sragen. “Kami fasilitasi dan temukan dengan dinas terkait untuk mencari solusi yang pas, termasuk anggaran yang sekitarnya diperlukan," kata Nugroho.
Menurutnya, kunci utama untuk meredam amukan hama ini yakni kekompakan para pencari ikan di WKO. Sinergi yang solid antara nelayan dan pemerintah diyakini bakal membuat penanganan berjalan efektif dan tepat sasaran.
Ketua Tim Perikanan Tangkap Bidang Perikanan DKP3 Sragen Puri Hidayani membeberkan formula ajaib untuk mengubah hama penghancur jaring ini menjadi pundi-pundi rupiah melalui pupuk organik cair (POC).
"Potensi banget untuk pupuk cair. Bikinnya sederhana, gampang aplikasinya. Ikan sapu-sapu dicacah kecil, lalu kita fermentasikan memakai EM4 dan molase selama tiga minggu," kata Puri.
Ia memastikan proses pembuatan pupuk organik ini sangat efisien dan ramah kantong tanpa memerlukan teknologi mesin yang mahal. Menariknya lagi, hasil fermentasi racikan ini diklaim tidak berbau menyengat, melainkan beraroma asam segar yang siap diaplikasikan langsung ke lahan pertanian warga.
"Setelah disaring, pupuk tersebut siap digunakan, misalnya untuk tanaman jagung saat air WKO sedang surut," imbuhnya.(Ismail/Jawa Tengah)
Baca juga:
Labkesda DKI Temukan Kandungan Logam Berat Timbal pada Ikan Sapu-Sapu Ciliwung