MerahPutih.com - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meminta maaf kepada warga terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo, setelah Gibran mengunjungi SD Negeri Pasusukan, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Senin (28/9), untuk melihat langsung penanganan korban dugaan keracunan MBG.
Diketahui sebanyak 700 siswa mengalami dugaan keracunan setelah menerima MBG. Dari jumlah tersebut, 34 siswa masih menjalani perawatan di RSUD Batang, RSUD Limpung, dan Puskesmas Bawang.
“Intinya Pak Wapres Gibran minta maaf atas kejadian ini,” ujar Bambang dari rilis Pemprov Jateng yang diterima Merahputih.com, Senin (28/9).
Baca juga:
Terbang ke Batang Jateng, Wapres Gibran Pastikan Korban Dugaan Keracunan MBG Dirawat sampai Pulih
Gibran Cek Kondisi Pasien
Dalam kunjungannya, Gibran didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Keduanya mendatangi pasien satu per satu dan berbincang untuk menanyakan kondisi terkini mereka.
Turut hadir Bupati Batang M Faiz Kurniawan beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jawa Tengah dan Kabupaten Batang.
Di tengah proses penanganan, pemerintah masih menelusuri penyebab munculnya gejala yang dialami para penerima manfaat MBG.
Pemeriksaan sampel makanan, air, dan spesimen pasien dilakukan untuk memastikan sumber kejadian.
SPPG Bawang Dievaluasi
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, dr Zulfachmi Wahab, mengatakan penanganan kasus tersebut dilakukan sesuai standar operasional yang telah disiapkan untuk pelaksanaan MBG di Jawa Tengah di bawah koordinasi Wakil Gubernur Taj Yasin.
Menurut Zulfachmi, evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi bagian penting dalam penanganan kejadian tersebut.
Evaluasi meliputi ketersediaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), inspeksi kesehatan lingkungan (IKL), hingga pelatihan bagi penjamah makanan.
SPPG-nya harus dievaluasi, ketersediaan SLHS, sudah pernah ada inspeksi IKL, dan kursus pada penjamah makanan yang bekerja di sana,
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab.
Ia menjelaskan, begitu muncul dugaan keracunan, puskesmas terdekat langsung melakukan kunjungan ke lokasi terdampak dan SPPG. Petugas kemudian mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium.
Pemeriksaan juga mencakup sampel air serta spesimen pasien, seperti muntahan dan feses bagi mereka yang mengalami diare.
Selain itu, petugas melakukan inspeksi sanitasi lingkungan, memeriksa dokumen, penggunaan alat pelindung diri, hingga peralatan kerja di SPPG.
Zulfachmi menambahkan, penjamah makanan pada umumnya telah mendapatkan pelatihan terkait pengolahan makanan dan pencegahan keracunan. Namun, penyebab pasti kejadian di Batang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Sampel airnya, makanan dan bahan makanan yang disajikan. Kalau ada muntahan, kita periksa pula muntahannya,” kata dia.
Baca juga:
Wapres Gibran Minta Investigasi Dugaan Keracunan MBG di Batang Segera Dituntaskan
Kondisi Pasien dalam Pemulihan
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi, mengatakan penerima manfaat MBG yang terdampak berasal dari berbagai kelompok.
Mereka terdiri atas peserta didik jenjang PAUD hingga SMA, serta kelompok lainnya, termasuk balita dan ibu hamil.
Ida memastikan kondisi pasien yang masih dirawat terus menunjukkan perkembangan positif.
Dari laporan semua fasilitas kesehatan yang saat ini sedang merawat, semua pasien dalam kondisi terhidrasi dan sudah dalam pemulihan,
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida Susilaksmi.
Meski demikian, pasien tetap menjalani evaluasi oleh dokter penanggung jawab untuk menentukan apakah kondisi mereka telah memungkinkan untuk dipulangkan.
Keluhan yang dialami para penerima manfaat antara lain pusing, mual, diare, hingga sakit perut.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Batang telah melakukan penelusuran dan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium.
Hasil pemeriksaan di laboratorium Yogyakarta masih ditunggu untuk memastikan penyebab kejadian.
Sebagai langkah penanganan sementara, operasional SPPG Bawang dihentikan selama 30 hari sembari menunggu proses investigasi.
Adapun penanganan terkait operasional SPPG menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional. (Ismail/Jawa Tengah)