Sains

PBB Sebut Dunia Gagal Selamatkan Alam

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Senin, 21 September 2020
PBB Sebut Dunia Gagal Selamatkan Alam

Alam semakin lama semakin rusak. (unsplash/dwoodhouse)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BANYAK rencana dan usaha dilakukan untuk menyelamatkan bumi. Tetapi jika dibuktikan dengan keadaan alam saat ini, sudah jelas banyak yang tidak berhasil.

Melansir laman CNN, pada 2010, para pemimpin dari 196 negara berkumpul di Jepang dan menyetujui daftar tujuan yang dirancang untuk menyelamatkan Bumi bernama "Aichi Biodiversity Targets".

Baca juga:

Lindungi Paus Artinya Selamatkan Krisis Iklim

Target ini menetapkan rencana 10 tahun untuk melestarikan keanekaragaman hayati dunia, mempromosikan keberlanjutan, dan melindungi ekosistem.

Targetnya ambisius, tapi krusial. Salah satunya, bertujuan untuk mencegah kepunahan spesies terancam dan meningkatkan statusnya pada 2020.

Tapi sekarang sudah lewat pertengahan tahun 2020. United Nations (PBB) Global Biodiversity Outlook melaporkan dunia telah gagal menyelamatkan alam. The Guardian menuliskan ini adalah dekade kedua berturut-turut di mana para pemerintah gagal memenuhi target.

Banyak habitat alam yang hilang atau rusak. (unsplash/justusmenke)

Laporan Global Biodiversity Outlook 5 menemukan meskipun ada kemajuan di beberapa daerah, habitat alam terus menghilang. Sejumlah besar spesies tetap terancam punah akibat aktivitas manusia, dan 500 miliar dolar (7,4 triliun rupiah) dari subsidi pemerintah yang merusak lingkungan belum dihapuskan.

"Kita semua juga telah terjun ke dalam kepunahan massal keenam, populasi satwa liar turun lebih dari dua pertiga sejak 1970, dan terus menurun dalam dekade terakhir," tulis laporan itu.

Dari 20 target, hanya enam target yang sebagian telah tercapai, termasuk yang berada di kawasan lindung dan spesies invasif.

Meskipun pemerintah tidak berhasil melindungi 17% wilayah perairan darat dan darat serta 10% habitat laut, 44% wilayah keanekaragaman hayati yang penting sekarang dilindungi meningkat dari 29% pada 2000. Sekitar 200 berhasil memberantas spesies invasif di pulau-pulau juga telah terjadi.

Populasi satwa liar turun lebih dari dua pertiga sejak 1970. (unsplash/sandym10)

Rata-rata, negara yang ikut menyetujui target Aichi Biodiversity melaporkan lebih dari sepertiga target nasional berada di jalur yang tepat. Lalu setengah dari target nasional melihat kemajuan yang lebih lambat, 11% target tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, dan 1% sebenarnya bergerak ke arah yang salah.

Baca juga:

Ganti Istilah 'Perubahan Iklim' Menjadi 'Krisis Iklim'

Memang ada proses yang bisa dirayakan. Tetapi jika dibandingkan skala masalah yang dihadapi bumi sekarang, usaha dan proses para negara jauh dari cukup.

"Tingkat hilangnya keanekaragaman hayati belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia dan tekanan semakin meningkat," kata Elizabeth Maruma Mrema, sekretaris eksekutif Konvensi PBB tentang Keanekaragaman Hayati.

Mrema menambahkan yang sedang dikompromikan bukanlah hal sepele. Saat ini kita berbicara tentang dan bertanggung jawab atas sistem kehidupan bumi secara keseluruhan.

Laporan PBB juga memperingatkan bahwa kita melakukan ini tidak untuk saat ini saja, tetapi untuk generasi-generasi yang mendatang.

Jika kita terus malah mempercepat krisis iklim, keanekaragaman hayati akan terus memburuk. "Semua didorong oleh pola produksi dan konsumsi, pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi, yang tidak berkelanjutan" kata laporan itu.

Dunia butuh kebijakan-kebijakan yang pro lingkungan, bukan malah yang merusak lingkungan. (unsplash/masplashti)

Walau banyak kegagalan dalam memenuhi target-target Aichi, belum terlambat untuk memperlambat, menghentikan dan akhirnya membalikkan tren penurunan keanekaragaman hayati saat ini.

Banyak tindakan yang diperlukan telah diidentifikasi dan disepakati di bawah perjanjian internasional seperti Perjanjian Perubahan Iklim Paris.

Beberapa waktu yang lalu kita juga mendapatkan kabar baik suksesnya upaya konservasi yang berhasil menyelamatkan 48 spesies dari kepunahan dalam beberapa dekade terakhir.

Ini memberi kita harapan dan kepastian jika kita benar-benar ingin mencapai sesuatu. Dengan kebijakan-kebijakan yang benar, pasti manusia bisa menyelamatkan alam. (lev)

Baca juga:

Greta Thunberg: Tangani Masalah Perubahan Iklim Seperti Sebuah Krisis

#Sains #Pelestarian Lingkungan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Bagikan