Sains

Berakhir Pekan dengan Bulan Purnama Pink

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Kamis, 14 April 2022
Berakhir Pekan dengan Bulan Purnama Pink

Bulan purnama pink akan muncuk akhir pekan ini. (Foto: Freepik/Wirestock)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

PENCINTA astronomi akan bahagia akhir pekan ini. Dilansir Live Science, Kamis (14/4), Bulan Purnama Pink bakal menyinari Bumi akhir pekan ini, mulai Sabtu (16/4) hingga Senin (18 April) pagi.

Fenomena Pink Moon atau Bulan Merah Muda hanya bisa dinikmati sesaat, yakni pada pukul 14.55 EDT atau 01.55 WIB. Di Indonesia, Bulan Purnama Pink akan terjadi pada Minggu (17/4) dini hari.

Baca Juga:

Kenali Makna di Balik Festival Kue Bulan

Bulan Pink di April ini disebut bakal menjadi pemandangan yang indah untuk dilihat. Sekalipun warnanya tidak akan tampak pink seperti namanya. "Kita akan berakhir pekan dengan bulan purnama pink," ujar Gordon Johnston, Eksekutif Program di Direktorat Misi Sains di Markas Besar NASA.

Sebutan Bulan Pink diambil dari ramuan bunga moss pink, yang juga disebut phlox merayap, phlox moss atau phlox gunung yang merupakan tanaman asli Amerika Timur yang mekar di awal musim semi.

Sebutan Bulan Pink diambil dari ramuan bunga moss pink. (Foto: Freepik/Camomileleyla)

Nama lain untuk Bulan Pink April termasuk Sprouting Grass Moon, Egg Moon, dan Fish Moon, karena ini adalah saat di mana Ikan Shad menurut sejarahnya bermigrasi ke hulu untuk bertelur, menurut Maine Farmer's Almanac.

Bulan ini juga dikenal sebagai Pesach atau Bulan Paskah, karena hari raya Paskah Yahudi dimulai saat matahari terbenam pada hari Jumat dan berlangsung selama delapan hari. Bulan pink pun disebut membantu menentukan tanggal Paskah.

Sementara untuk umat Hindu, Bulan Pink April juga diartikan sebagai waktu untuk merayakan Hanuman Jayanti, yakni memperingati kelahiran Dewa Hanuman dan sesuai dengan bulan purnama Chaitra, satu bulan dalam kalender lunar Hindu.

Baca Juga:

Sains Menjawab Alasan Awal Ramadan Tahun ini Dimulai pada 3 April 2022

Bagi umat Buddha, khususnya di Sri Lanka dimana itu adalah hari libur nasional, bulan purnama ini menandai Bak Poya, hari untuk diingat ketika Sang Buddha mengunjungi Sri Lanka dan mencegah perang dengan menyelesaikan perselisihan antara kepala suku.

supermoon berada dekat titik terdekat dengan Bumi di orbit peredarannya_freepik/eberhardgross. (Foto: Freepik/Eberhardgross)

Observatorium Bosscha milik Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan supermoon berada dekat titik terdekat dengan Bumi di orbit peredarannya. "Peristiwa supermoon terjadi saat Bulan berada pada atau di dekat titik terdekatnya dengan Bumi di orbit peredarannya, atau disebut sebagai titik perigee," ujar Observatorium Bosscha melalui akun Instagramnya.

Beberapa ahli, Dilansir dari Earthsky mengatakan akan terjadi fenomena pasang surut air laut saat bulan purnama pink. Fenomena itu disebut dengan nama pasang surut perigean. Jika kamu tinggal di sepanjang garis pantai samudera, diprediksi pasang surut dalam dan naiknya air akan terjadi satu hingga dua hari.

Pasang laut imbas dari Supermoon ekstra tinggi ini berpotensi menyebabkan banjir ketika dibarengi dengan cuaca ekstrem pada saat air di pesisir pasang yang sangat tinggi. (dgs)

Baca Juga:

Sains Menjawab Kapan Lebaran Tiba

#Sains
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Dunia
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Badan antariksa Amerika Serikat NASA mengumumkan misi antariksa Artemis II akan membawa kru manusia meluncur ke bulan.
Dwi Astarini - Kamis, 02 April 2026
Setelah Setengah Abad, Manusia Kembali ke Bulan lewat Misi Artemis II
Lifestyle
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Kerangka itu ditemukan terkubur di sebuah makam di depan altar Gereja St Peter and Paul di Kota Maastricht, Belanda Selatan.
Dwi Astarini - Selasa, 31 Maret 2026
Arkeolog Temukan Kerangka yang Diduga Anggota Three Musketeers D'Artaganan
Bagikan