Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati menilai bahwa pendidikan memiliki peranan penting untuk mencegah suburnya radikalisme di Indonesia.
“Pendidikan sangat penting untuk mencegah. Karena paham-paham (radikal) ini, 'kan masuk melalui institusi pendidikan,” kata Asfin saat ditemui merahputih.com beberapa waktu lalu di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat.
Menurut Asfin, paham radikal dapat masuk melalui lembaga pendidikan yang bersifat formal dan nonformal. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah untuk segera membenahi hal tersebut.
“Baik kegiatan nonformal, seperti ekstrakulikuler (ekskul) maupun dari dosen atau guru. Itu yang dibenahi, karena efeknya besar sekali, ucapnya.
Asfin menilai, upaya pemerintah membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak efektif. Menurutnya, counter wacana melalui dunia pendidikan akan lebih efektif.
“Karena saya yakin, kalau dibubarkan mereka akan makin militan atau tetap akan lakukan gerakan bawah tanah. Jadi, pada akhirnya tujuannya gak akan tercapai juga. Gak efektif,” ucapnya.
“Sejarah menunjukkan, orang-orang yang dipidana karena keyakinannya itu makin kuat. Lebih baik, bikin counter wacana ke dunia pendidikan dan juga kepada masyarakat,” sambung Asfin.
Mantan Direktur LBH Jakarta ini menekankan, selain pendidikan, kesolidan pemerintah juga penting untuk meminimalisir menguatnya radikalisme. Ia juga berpesan, di jajaran pemerintah jangan ada yang intoleran dengan mengafirmasi kelompok-kelompok radikal.
“Penyegelan tempat ibadah, mukul orang karena berbeda, sweeping-sweeping di bulan Ramadan, ya, itu ditindak, supaya masyarakat tahu kita tidak boleh melakukan itu di Indonesia, tandasnya. (Pon)
Baca berita terkait YLBHI lainnya di: YLBHI Nilai Pembubaran HTI Karena Ideologi Bertentangan Dengan HAM