Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Soeharto Presiden Tersukses, Aktivis 98: Wajar 32 Tahun Berkuasa

Wisnu Cipto - Minggu, 20 Mei 2018

MerahPutih.com – Presiden RI ke-2 Soeharto dinilai sebagai pemimpin Indonesia paling berhasil. Hal tersebut tercermin dari survei nasional bertajuk “Evaluasi 20 Tahun Reformasi” yang digelar Indo Barometer bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi.

“Presiden Indonesia yang dinilai publik paling berhasil adalah Soeharto dengan persentase 32,9 persen,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari, saat memaparkan rilis survei lembaganya di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (20/5).

Di bawah Soeharto, kata Qodari, ada Presiden RI ke-1 Soekarno dengan 21,3 persen disusul Presiden Joko Widodo dengan 17,8 persen dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan 11,6 persen, sebagai presiden paling sukses.

"Setelah keduanya, ada nama Pak BJ Habibie sebesar 3,5 persen, Abdurahman Wahid atau Gus Dur sebesar 1,7 persen, dan Megawati Soekarnoputri sebesar 0,6 persen," imbuh Qodari.

Soeharto
Foto Soeharto saat masih muda. Foto: Arsip Nasional

Menurut Qodari, bukan kali ini saja Soeharto dinilai sebagai presiden paling sukses. Berdasarkan hasil survei Indo Barometer pada April 2011, Soeharto juga dianggap sebagai presiden paling berhasil dengan memperoleh 40,5 persen.

Namun saat itu, survei Indo Barometer menempatkan SBY di posisi kedua dengan 21,9 persen. Sementara Soekarno menempati posisi ketiga dengan memperoleh 8,6 persen. Setelah itu disusul nama Megawati Soekarnoputri dengan 6,5 persen, BJ Habibie dengan 2,0 persen, dan Abdurahman Wahid dengan 1,8 persen.

Menanggapi hasil survei, mantan aktivis 98 yang kini menjadi politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko menganggap wajar jika Soeharto dinilai sebagai presiden paling berhasil kerena berkuasa selama 32 tahun. "Jadi wajar ada persepsi bahwa pak Harto cukup berhasil," kata dia.

Seorang pengunjung menyimak karya pewarta Antara, Saptono. Karya itu menjadi ikon omega pergerakan Reformasi. (foto: ANTARA/Wahyu Putro)

Menurut mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini, tak tepat bila membandingkan Soeharto dengan presiden yang memimpin Indonesia pascareformasi. Terlebih, jika membandingkan dengan Jokowi yang baru memimpin republik ini 4 tahun.

"Membandingkan presiden-presiden setelah reformasi dengan Pak Harto itu seperti membandingkan orang yang punya modal besar, modal waktu besar, modal kekuasaan besar untuk menyelesaikan masalah dibandingkan dengan orang yang modalnya kecil dan waktunya terbatas," jelas Budiman.

Pada era Orde Baru, kata Budiman, kekuasaan bersifat sentralistik. Bahkan, lembaga legislative dan yudikatif pun dikontrol oleh Soeharto. Sedangkan di era reformasi, lanjutnya,dengan adanya otonomi daerah kekuasaan telah terdesentralisasi sehingga tidak lagi terpusat.

"Jadi ini seperti membandingkan duren dan jeruk," pungkas mantan Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) ini.

Foto 4 Pahlawan Reformasi. Foto: Merah Putih

Mantan aktivis 98 lainnya yang kini menjabat Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah menolak anggapan Soeharto sebagai presiden terbaik Indonesia. "Bukan presiden terbaik, orang menganggap dari semua kinerja yang ada, ya jelas aja pak Harto, berkuasa 32 tahun” ujar dia.

Menurut Fahri, dengan waktu berkuasa selama 32 tahun, Soeharto memiliki waktu yang panjang untuk membangun dan menyelesaikan setiap program yang telah dicanangkannya.

"32 tahun dia membangun institusi, pastilah sampai sekarang institusinya masih ada. Pasti orang menganggap dia paling sukses," jelas Fahri.

Sebagai informasi, survey Indo Barometer ini dilakukan sejak 15-22 April 2018. Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuisioner. (Pon)

Baca Artikel Asli