Nahan Jajan, Ngejar Cuan: Cara Gen Z Kreatif Bertahan in This Economy

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 11 Juni 2026
Nahan Jajan, Ngejar Cuan: Cara Gen Z Kreatif Bertahan in This Economy

Sandhewa Beryl merupakan salah satu pekerja kreatif gen Z yang merasakan imbas kenaikan dollar. (Foto: unsplash/johnny)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM - PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh level Rp 18.000 memunculkan kekhawatiran di berbagai kalangan, termasuk generasi Z yang bekerja di sektor kreatif. Bagi kelompok ini, pelemahan rupiah bukan hanya soal harga barang impor yang semakin mahal, melainkan juga menyangkut keberlangsungan pekerjaan yang banyak bergantung pada perangkat teknologi, software, hingga layanan digital berlangganan.


Di tengah kondisi tersebut, muncul kecenderungan baru di kalangan pekerja kreatif muda: mengurangi pengeluaran konsumtif dan lebih memprioritaskan pembelian 'bahan modal' atau kebutuhan penunjang kerja agar tetap produktif dan bisa terus berkarya.


Sandewa Beryl, pekerja kreatif di bidang musik, menjadi salah satu contoh bagaimana tekanan ekonomi membuat Gen Z harus lebih selektif dalam mengatur keuangan. Saat mendengar kabar dolar menembus Rp 18.000, perasaan yang muncul bukan sekadar kaget, melainkan juga pesimistis terhadap kondisi ekonomi yang dihadapi sehari-hari.

Intinya makin hopeless aja sih perasaan saya sebagai warga Indonesia. Rasanya setiap hari ada saja tantangan ekonomi baru yang muncul.


 Sandewa Beryl, pekerja kreatif di bidang musik




Sebagai musisi yang sehari-hari berkutat dengan proses produksi musik, Beryl merasakan dampak kenaikan dolar secara langsung. Salah satu yang paling sering ia perhatikan yakni harga alat musik dan perangkat elektronik yang terus mengalami kenaikan.

Baca juga:

Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah Bakal Bikin Asing Masukan Duit ke Indonesia




"Hal yang paling sering saya pantau itu harga alat musik dan elektronik. Barang yang tadinya saya pikir sudah hampir bisa dibeli, ternyata makin jauh karena harganya terus naik," katanya.


Menurut Beryl, dampaknya tidak berhenti pada barang elektronik. Ia juga melihat kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok yang berkaitan dengan bahan baku impor. Hal itu membuat tekanan ekonomi terasa dari berbagai sisi sekaligus. Namun, tantangan terbesar justru datang dari kebutuhan profesional yang menjadi bagian dari pekerjaannya. Sebagai pekerja kreatif di bidang musik, Beryl menggunakan sejumlah software produksi dan platform digital yang biaya langganannya ditetapkan dalam dolar AS.


"Karena saya menggunakan beberapa software dan platform berlangganan bulanan yang harganya dalam dolar, kenaikannya cukup terasa. Setiap bulan ada tambahan pengeluaran yang lumayan ketimbang sebelumnya," ujarnya.


Kondisi tersebut membuatnya harus melakukan penyesuaian. Beberapa software dan plugin yang sebelumnya menjadi bagian dari alur kerjanya terpaksa dihentikan karena biaya langganan yang semakin tinggi. "Sekarang ada beberapa plugin dan software yang saya cut dari workflow karena memang harus lebih selektif. Saya hanya mempertahankan yang benar-benar penting untuk produksi," katanya.


Fenomena ini menunjukkan bagaimana pekerja kreatif muda mulai memandang alat kerja sebagai kebutuhan utama. Ketika kondisi ekonomi menekan, mereka cenderung mengorbankan pengeluaran lain agar kebutuhan produksi tetap terpenuhi.


Hal itu juga terlihat dari target pembelian Beryl yang sejak awal lebih berorientasi pada pengembangan kapasitas kerja. Ia mengaku telah menabung sejak tahun lalu untuk membeli laptop baru yang lebih mumpuni untuk kebutuhan produksi musik. Namun hingga kini rencana tersebut masih tertunda.


"Dari tahun lalu saya nabung buat beli laptop yang lebih mumpuni untuk keperluan musik. Tapi karena harga elektronik ikut naik, sampai sekarang masih belum kesampaian," ungkapnya.


Meski demikian, ia tidak lantas menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berbelanja secara impulsif. Menurutnya, situasi saat ini justru menjadi pengingat untuk lebih disiplin dalam mengatur keuangan.

Walaupun tetap ingin menikmati hidup, jangan sampai hedon. Hal terpenting sekarang belajar budgeting dan mengatur pengeluaran sehari-hari.

Sandewa Beryl, pekerja kreatif di bidang musik




Beryl mengakui prioritas keuangan idealnya yakni memenuhi kebutuhan pokok dan menabung. Namun, sebagai bagian dari generasi muda yang menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi, ia merasa penting untuk tetap menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental. Oleh karena itu, pengelolaan anggaran kini menjadi semakin penting. Beryl mengaku lebih ketat dalam mengatur pengeluaran ketimbang sebelumnya, apalagi di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Kalau ditanya prioritas, tentu kebutuhan sehari-hari dan menabung. Tapi jujur, untuk mimpi jangka panjang seperti punya rumah misalnya, itu belum terlalu kepikiran. Sekarang lebih fokus mencari cara supaya tetap bisa menikmati hidup dan tetap waras menjalani hari-hari.

Sandewa Beryl, pekerja kreatif di bidang musik







Meski rasa cemas terhadap kondisi ekonomi tetap ada, Beryl berusaha untuk tidak larut dalam kekhawatiran. Ia merasa beruntung masih mendapatkan dukungan keluarga yang membantu mengurangi sebagian beban biaya hidup. Namun, menurutnya, optimisme tetap diperlukan agar bisa terus melangkah.(far)

Baca juga:

Harga Pertamax Melonjak ke Rp 16.250 per Liter, Pertamina Sebut Sesuai Keputusan Pemerintah

#Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS #Pelemahan Rupiah #Ekonomi
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Febrian Adi

part-time music enthusiast. full-time human.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Indonesia
Rupiah Kembali Dekati Rp 18.000 Per Dolar, Pengumuman Inflasi Mempengaruhi
Pelemahan rupiah dipengaruhi pengumuman inflasi Indonesia yang mencapai 3,28 persen.
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 01 Oktober 2026
Rupiah Kembali Dekati Rp 18.000 Per Dolar, Pengumuman Inflasi Mempengaruhi
Indonesia
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir menjelang akhir triwulan III, serta arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Inflasi Global dan Risiko Fiska
Indonesia
Kendalikan Rupiah, BI Beli Surat Berharga Negara di Pasar Sekunder
BI menyatakan akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai fundamentalnya
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Kendalikan Rupiah, BI Beli Surat Berharga Negara di Pasar Sekunder
Indonesia
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Prospek tersebut berkaitan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilainya tetap kuat.
Dwi Astarini - Kamis, 17 September 2026
Presiden Prabowo Bicara Ambisi Ekonomi RI, Target Masuk 4 Besar Dunia pada 2050
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Indonesia Resmi Keluar dari Keanggotaan World Bank
Beredar konten yang menyebut Indonesia keluar dari keanggotaan World Bank. Cek kebenaran informasinya.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 07 September 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Indonesia Resmi Keluar dari Keanggotaan World Bank
Indonesia
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia diperkirakan menuju kapitalisme negara atau welfare state. Ekonom mengungkapkan risikonya.
Soffi Amira - Jumat, 04 September 2026
Indonesia Menuju Kapitalisme Negara atau Welfare State? ini Pandangan Para Ekonom
Indonesia
Pergerakan Rupiah Terdampak Pidato Kepala The Fed, Inflasi Melebihi Prediksi
para pembuat kebijakan harus yakin bahwa inflasi inti benar-benar bergerak menuju target mereka dengan kecepatan yang memadai.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 31 Agustus 2026
Pergerakan Rupiah Terdampak Pidato Kepala The Fed, Inflasi Melebihi Prediksi
Indonesia
Bakom Tegaskan tak Ada Niat Menempatkan BI di Bawah Pemerintah
Independensi tidak boleh mengorbankan koordinasi antarlembaga.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Bakom Tegaskan tak Ada Niat Menempatkan BI di Bawah Pemerintah
Indonesia
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba
BI merupakan bank sentral yang wewenangnya bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain.
Dwi Astarini - Jumat, 21 Agustus 2026
Ekonom Minta Pemerintah tak Intervensi BI, Indonesia Kembali ke Masa Purba
Indonesia
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
BI melaporkan ULN Indonesia triwulan II-2026 naik 4,4% yoy menjadi USD 453,4 miliar dengan rasio ULN terhadap PDB 30,6%.
Wisnu Cipto - Selasa, 18 Agustus 2026
Posisi Utang Luar Negeri Indonesia Naik Lagi, Tembus Rp 8,09 Kuadriliun di Triwulan II-2026
Bagikan