Merahputih.com - Suku bunga acuan (BI-Rate) diprediksi akan bertahan pada level 5,5 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia bulanan Juni 2026.
Keputusan mempertahankan tingkat suku bunga ini menyusul langkah pengetatan signifikan kurun waktu sangat singkat sebelumnya.
“Menurut pandangan kami, ini merefleksikan pengetatan moneter cukup signifikan dan kami memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga kebijakan pada rapat bulan Juni,”
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky.
Baca juga:
IHSG Sengaja Melemah Demi Cari Perhatian, Investor Ramai-ramai Tahan Napas Tunggu Hasil RDG BI
Rekam Jejak Agresivitas Suku Bunga BI-Rate
Sebelumnya, Bank Indonesia meluncurkan rangkaian kebijakan ketat demi meredam gejolak depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Rentetan intervensi tersebut terekam jelas melalui fluktuasi indikator pasar keuangan:
-
RDG Reguler Mei 2026: Kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps).
-
RDG Mingguan Juni 2026: Kenaikan tambahan 25 bps akibat rupiah menyentuh level Rp18.000 per dolar AS.
-
Total Akumulasi Kenaikan: Pengetatan moneter mencapai 75 bps dalam periode singkat.
-
Posisi Nilai Tukar Terbaru: Rupiah berhasil menguat balik ke kisaran Rp17.700 per dolar AS per 12 Juni.
-
Arus Keluar Modal Asing: Pasar obligasi mencatat net outflow 0,18 miliar dolar AS, sementara pasar saham defisit 0,19 miliar dolar AS sepanjang 9-12 Juni.

Langkah tambahan menarik arus masuk modal bermuara pada peningkatan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kebijakan ini terbukti efektif menstabilkan pasar keuangan, meskipun pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih bertumpu pada aksi buyback saham bank BUMN serta akumulasi investor domestik.
Menanti Pemulihan Kepercayaan Investor Jangka Panjang
Pandangan senada datang dari Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengenai urgensi pelonggaran kebijakan suku bunga. Penguatan rupiah jangka pendek memberi ruang bagi bank sentral menahan laju kenaikan BI-Rate.
“Ini berarti penguatan rupiah saat ini masih ditopang oleh kombinasi kenaikan suku bunga, instrumen moneter jangka pendek, dan perbaikan sentimen global, belum sepenuhnya oleh pemulihan kepercayaan investor jangka panjang,” jelas Josua dinukil Antara.

Josua memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak stabil kisaran Rp17.400 hingga Rp17.900 per dolar AS pasca pengetatan kumulatif 75 bps. Sentimen positif global berupa penurunan harga minyak dunia turut meringankan beban kerja instrumen moneter domestik.
Baca juga:
Melengkapi analisis makro tersebut, Chief Economist BTN Myrdal Gunarto mengingatkan pentingnya aspek sektor riil di luar pasar keuangan.
Penguatan nilai tukar memerlukan sokongan nyata dari Realisasi Investasi Asing Langsung (FDI). Pemerintah wajib memperkuat komunikasi prospek investasi domestik guna memastikan komitmen jangka panjang para pemodal global terealisasi sempurna di Indonesia.