MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi bergerak melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp18.099 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.083 per dolar AS. Salah satu faktor pemelahan adalah pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Bank Indonesia (BI) menyatakan terus berkomitmen menjaga stabilitas yang menjadi prasyarat utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat, sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,
kata Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/7).
Erwin menyampaikan bahwa optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ditingkatkan.
Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam,
katanya.
Berbagai instrumen terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing. Instrumen yang dioptimalkan termasuk triple intervention di pasar valas (spot, non-deliverable forward/NDF, dan domestic non-deliverable forward/DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging.
Kemudian, strategi dalam menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan juga diperkuat. Menurut bank sentral, posisi SRBI berada dalam tren yang lebih terkendali.
Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,
kata Erwin.
BI juga terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif.
Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi, sehingga semakin mendorong pertumbuhan ekonomi,
tulisnya.

