Merahputih.com - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) harus terjerumus masuk zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (29/7) sore. Kombinasi sentimen panas dari Timur Tengah dan dinamika ekonomi dalam negeri sukses menahan laju IHSG.
IHSG terkoreksi 39,20 poin (0,64%) ke level 6.091,39. Tren serupa juga menimpa kelompok saham unggulan indeks LQ45 yang merosot 1,51 poin (0,25%) menuju posisi 606,52.
Baca juga:
IHSG Anjlok Tertekan Rupiah! Pelaku Pasar Modal Kompak Wait and See Arah Suku Bunga The Fed
Tekanan Eksternal: Konflik Timur Tengah dan Visi The Fed
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus (Nico), menyebutkan bahwa pergerakan IHSG hari ini memang terimpit tekanan ganda dari luar dan dalam negeri.
Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali membara dan memicu kekhawatiran baru soal rantai pasokan energi dunia.
-
Eskalasi Militer: Iran meluncurkan rudal balistik ke area basis AS di Timur Tengah. Meski militer AS mengklaim berhasil memintas serangan mendadak tersebut, situasi di lapangan tetap memanas setelah aksi balasan AS dan Arab Saudi terhadap milisi dukungan Iran di Irak.
-
Sengketa Jalur Pelayaran: Teheran menolak usulan Oman terkait pembagian kendali Selat Hormuz dan memilih mempertahankan penguasaan penuh atas rute vital tersebut.
-
Prospek Suku Bunga: Investor global juga cenderung memilih posisi wait and see menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed. Konsensus pasar memperkirakan ada probabilitas 67,9% bahwa suku bunga acuan AS masih bakal ditahan.
Faktor Internal: Sorotan Lembaga Pemeringkat pada Bank Indonesia
Dari dalam negeri, kabar mengejutkan terkait mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo secara mendadak langsung menyita perhatian pasar serta lembaga pemeringkat global seperti Moody's Ratings, Fitch Ratings, dan S&P Global Ratings.
Para lembaga kreditor ini menyoroti tiga poin krusial yang akan menjadi penentu tingkat kepercayaan investor:
-
Kredibilitas dan konsistensi kebijakan moneter nasional.
-
Jaminan independensi bank sentral.
-
Kejelasan arah kebijakan ekonomi ke depan.
Sikap dan pandangan dari lembaga pemeringkat ini jelas membuat para pelaku pasar ekstra hati-hati. Mereka memilih bertahan sampai muncul sosok pemimpin definitif BI yang dinilai betul-betul kredibel,
terang Nico.
Sektor Properti Merosot, Transaksi Tembus Rp22,9 Triliun
Sejak bel pembukaan perdagangan dibunyikan, IHSG langsung terkunci di zona negatif dan gagal keluar dari tekanan hingga penutupan sesi kedua.
Pergerakan Sektoral (IDX-IC)
-
Sektor Menguat: Hanya dua sektor yang berhasil selamat, yakni barang konsumen primer (+0,19%) dan kesehatan (+0,06%).
-
Sektor Melemah: Delapan sektor sisanya terhempas. Sektor properti jatuh paling dalam (-2,49%), disusul sektor industri (-2,44%) serta transportasi & logistik (-1,69%).
Baca juga:
IHSG Terperosok ke Zona Merah, Investor Pilih Wait and See Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed
Deretan Saham Aktif
-
Top Gainers: MGNA, DWGL, ECII, NEST, dan BACH.
-
Top Losers: ELPI, MPRO, MCAS, BAJA, dan KOBX.
Aktivitas perdagangan hari ini membukukan 1.955.000 kali transaksi dengan volume mencapai 38,80 miliar lembar saham dan nilai transaksi fantastis sebesar Rp22,95 triliun. Sebanyak 186 saham menguat, 494 saham melemah, dan 285 saham stagnan.


